Hukum Mengkhususkan Waktu Ziarah Kubur

Mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk Ziarah Kubur seperti bulan Romadhon, hari Ied, hari Jumat adalah perbuatan yang menyelisihi petunjuk Nabi. Beliau صلى الله عليه وسلم mengingatkan

“Janganlah kalian jadikan kuburanku
sebagai ied.”

(HR.Abu Dawud 2042, Ibnu Taimiyyah dalam “Iqtidho’ Ash-Shirothil Mustaqim” 2/169 berkata, “Sanadnya hasan memiliki syawahid”, Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam “Al-Futuhat Ar-Robbaniyyah” berkata, “Hasan”, Syaikh Nashir menshohihkannya dalam “Shohihul Jami” 7226)

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata, ‘Ied bermakna sesuatu yang kehadirannya dan maksudnya berulang-ulang baik waktu maupun tempat.

Ied diambil dari kata “almu’awadah” (kembali) dan “al-i’tiyad” (biasa).

Kata Ied bila dipakai untuk nama tempat maka maknanya adalah tempat yang dituju untuk berkumpul dan menunaikan ibadah atau selainnya, seperti Masjidil Harom, Mina, Muzdalifah, Arofah, dan tempat-tempat lainnya yang dijadikan Allah sebagai ied bagi orang-orang yang beriman serta tempat pertemuan bagi manusia.”
(Ighotsatul Lahfan1/190)

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan berkata,
“Ied bermakna sesuatu yang selalu terjadi secara berulang-ulang.

Ied ada dua macam yaitu “ied zamani” (terkait waktu) seperti Ied Romadhon atau iedul adh-ha, dan ”ied makani” (terkait tempat) yaitu tempat yang dipakai untuk berkumpul dalam hitungan tahun, pekan atau bulan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.”

(Syarh Masa’il Jahiliyyah hal. 233)

Maka menjadikan kuburan sebagai ied bermakna menjadikannya sebagai tempat yang dikhususkan untuk beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah atau dikhususkan waktunya saat berziarah.

Perbuatan ini dilarang Nabiصلى الله عليه وسلم dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau.

Disalin dari E-book panduan ramadhan
Oleh Ustadz Fikri abul hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *