Al-I’tikaf

I’tikaf secara bahasa pengertiannya adalah “Al-Iqomah” (menetap) di suatu tempat dan bertahan
(Lisanul ‘Arob 9/255).

Sedangkan secara istilah maknanya tinggal di Masjid yang dilakukan oleh orang yang khusus dengan ketentuan yang khusus pula.

(Al-Mughni 6/208, Syarh Shohih Muslim 4/201).

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, “I’tikaf adalah tinggal di dalam Masjid dalam rangka melakukan amalan-amalan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
(Syarh Riyadhussholihin Kitab”Al-I’tikaf”)

Allah Berfirman:
“Dan janganlah kalian campuri mereka itu (isteri), sedang kalian beri’tikaf didalam Masjid.”

(Al-Baqoroh:187)

Ayat ini menjadi dalil bagi para Ulama
bahwa I’tikaf berlaku diseluruh Masjid atau Musholla yang didalamnya ditegakkan sholat berjamaah lima waktu. Al-Imam Al-Bukhori meletakkan satu bab
khusus dalam kitab Shohih beliau berjudul :

“Bab I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Romadhon dan I’tikaf di Seluruh Masjid.”

Adapun hadits Hudzaifah,
“Tidak ada I’tikaf kecuali ditiga masjid, Masjidil Harom, Masjidil Aqsho dan Masjid An-Nabawi”, ini dibawa kepada pemahaman Afdholiyyah (keutamaan) menurut para Ulama. Artinya tidak ada masjid yang lebih utama untuk
beri’tikaf didalamnya kecuali di tiga masjid tersebut.

1. Hukum I’tikaf dan Batas Minimal Waktunya

Para Ulama telah berijma’ (sepakat) bahwa I’tikaf hukumnya Sunnah kecuali I’tikaf Nadzar. Akan tetapi I’tikaf lebih ditekankan anjurannya pada 10 hari terakhir bulan Romadhon.
(Al-Majmu’ 6/475, Al-Ijma’ Ibnul Mundzir 53)

Umar bin Al-Khotthob Rodhiyallahu ‘Anhu berkata :
“Wahai Rosulullah, aku pernah bernadzar di masa Jahiliyyah untuk beri’tikaf selama semalam di Masjidil Harom. Beliau bersabda, “Tunaikanlah nadzarmu.”

(HR.Al-Bukhori 1891)

Adapun batas minimal waktu I’tikaf jumhur Ulama mengatakan cukup tinggal sesaat di dalam masjid. Boleh menetap lama di dalam masjid atau bahkan hanya sesaat saja.

(Al-Majmu’6/489)

Pendapat ini dipandang lebih kuat karena tidak ada dalil Shohih dan Shorih yang menunjukkan batas minimal waktunya seperti yang disampaikan Syeikh Al-‘Allamah bin Baz.

Ya’la bin Umayyah Rodhiyallahu’Anhu
berkata :

“Sungguh aku pernah berdiam dimasjid beberapa saat dan tidaklah aku berdiam melainkan untuk beri’tikaf.”
(Riwayat Abdurrozzaq dalam Al-Mushonnaf).

Maka bagi siapa saja yang siang harinya bekerja sedang kesempatan beri’tikaf hanya dapat dilakukan diwaktu malam maka dia termasuk Mu’takif (orang yang i’tikaf).
Meski yang lebih utama beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Romadhon dengan menetap didalam masjid sibuk dengan ketaatannya itu mengamalkan ibadah-ibadah khusus seperti Sholat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa dan bertaubat kepada Allah, dan tidak keluar dari masjid kecuali apabila ada hajat. Dari Ibnu Umar berkata:

“Dahulu Rosulullah صلى الله عليه وسلم beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dibulan Romadhon.”
(HR.Al-Bukhori 2025 dan Muslim 1171)

Dari Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha:

“Dahulu beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dibulan Romadhon hingga Allah
mewafatkannya, kemudian isteri-isteri beliau beri’tikaf sepeninggalnya.”
(HR.Al-Bukhori 2026 dan Muslim 1172)

Dalam riwayat lain,
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم mendongakkan kepalanya keluar masjid (untuk disisir dan dibersihkan) lantaran beliau sedang i’tikaf.”

2. Kapan Mulai I’tikaf?

Para Ulama berbeda pendapat kapan orang yang hendak beri’tikaf mulai masuk kedalam masjid.
Jumhur Ulama berpendapat bahwa i’tikaf dimulai setelah terbenamnya matahari pada tanggal 21 Romadhon. Yaitu dia masuk ke dalam masjid sebelum matahari terbenam. Pendapat ini yang lebih sesuai lahiriyah hadits,
“Dahulu Rosulullah صلى الله عليه وسلم beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Romadhon”, sedangkan berpindahnya hari dimulai setelah matahari terbenam.

Adapun akhir waktu i’tikaf menurut para Ulama Syafiiyyah setelah matahari terbenam diakhir bulan Romadhon dari malam hari raya. Karena 1 Syawwal terhitung diluar 10 hari terakhir Romadhon.
Akan tetapi apabila seseorang ingin
melanjutkan i’tikafnya sampai pagi hari maka hal itu tidak dilarang.

3. Wanita I’tikaf di Masjid

Para wanita hukum asalnya lebih utama menetap di dalam rumahnya dan keluar bila
ada kebutuhan.

Allah berfirman:

“Dan hendaklah para wanita menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah sekali-kali kalian bertabarruj (berhias dan
bertingkah laku) seperti wanita-wanita jahiliyyah dahulu.” (Al-Ahzab : 33)


Sholatnya para wanita juga lebih utama didalam rumahnya. Hal ini telah diingatkan Nabi
: صلى الله عليه وسلم

“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah dibagian dalam rumah mereka.”
(HR. Ahmad 26002, Ibnu Khuzaimah 1683 dan dihasankan Syaikh Al-Albani “Shohih At-Targhib” 341)

Akan tetapi para wanita tidak dilarang sholat dimasjid bersama kaum muslimin selama memperhatikan adab-adabnya.
Mereka juga diperbolehkan i’tikaf didalam masjid seperti yang dilakukan oleh isteri-isteri Nabi sepeninggal beliau صلى الله عليه وسلم selama aman dari fitnah.
Namun apabila i’tikafnya seorang wanita menghalangi dirinya dari kewajiban terhadap suami, anak-anak dan orangtua maka yang wajib harus didahulukan dari yang dianjurkan.

Disalin dari E-book panduan ramadhan
Oleh Ustadz Fikri abul hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *