Syarat Kaidah Menolak Mafsadah Lebih Didahulukan dari Mengambil Maslahat

Syarat Kaidah Menolak Mafsadah Lebih Didahulukan dari Mengambil Maslahat

Di antara kaidah syariat yang perlu dipelajari oleh para penuntut ilmu adalah kaidah Fiqh yang berbunyi:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak Mafsadah lebih didahulukan daripada mengambil Maslahat.”

Kaidah ini hasil Istinbath para Ulama dalam meneliti dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah. Kaidah ini juga dikenal dengan “Fiqhul Ma’alat” yaitu meninjau dampak dari pemberlakuan suatu perkara apakah berakibat kepada maslahat yang lebih besar ataukah Mafsadah.

Adapun Mafsadah yang dimaksud yaitu bahaya yang menyangkut agama maupun jiwa seseorang. Sedangkan yang dimaksud Maslahat sebaliknya.

Perlu diingat, kaidah ini tidaklah berlaku secara mutlak seperti yang dipraktekkan oleh sebagian orang. Akan tetapi para Ulama merinci syaratnya yaitu apabila Mafsadahnya lebih besar dari Maslahatnya atau Maslahatnya sebanding dengan Mafsadahnya maka menolak Mafsadah lebih didahulukan daripada mengambil Maslahat.

Adapun jika Maslahatnya jauh lebih besar dari Mafsadahnya maka kaidah ini tidak berlaku yakni yang maslahat tetap didahulukan meski ada Mafsadahnya. Dan yang menimbang sisi Maslahat dan Mafsadah adalah para ahlinya.

Dalil kaidah ini antara lain sabda Nabi ﷺ kepada Aisyah Ummul Mukminin Rodhiyallahu ‘Anha:

يا عائشة لو لا أن قومك حديثوا عهد بجاهلية لأمرت بالبيت فهدم فأدخلت فيه ما أخرج منه وألزقته بالأرض

“Wahai Aisyah, andai kata bukan karena kaummu baru saja meninggalkan masa Jahiliyyah maka akan kuperintahkan mereka merombak Baitullah. Kemudian aku masukkan apa yang dikeluarkan darinya dan aku turunkan sejajar dengan tanah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Di dalam hadits ini ada “Dalalah Dzhohiroh” (indikasi yang jelas) terhadap makna kaidah Fiqh diatas. Bahwa Nabi ﷺ mengutamakan menolak Mafsadah yang lebih besar dari apa yang beliau khawatirkan yaitu larinya manusia dari Islam, ketimbang mengambil Maslahat dengan merombak kembali pondasi Ka’bah seperti yang dibangun Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam.

Berbeda dengan keadaan orang yang hanya mengandalkan semangat dalam beragama tanpa bimbingan ilmu dan pemahaman yang benar. Mungkin mereka akan ngegas rombak Baitullah tanpa mempedulikan aspek Maslahat dan Mafsadah.

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *