• Kam. Agu 6th, 2020

    Kekosongan Jiwa dari Islam yang Benar

    Byadmin

    Jan 28, 2020

    ESAI EDISI KHUSUS

    Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud

    Publik Indonesia di gemparkan lagi dengan fenomena munculnya “negara kerajaan Abal-Abal” di Purworejo Jawa tengah. Hal ini bukan pertama dan bukan akan yang terakhir.

    Hal-hal semacam ini sesungguhnya adalah hal yang remeh, bila di lihat dari sisi fenomenalnya, bahkan akan membuat kita terpingkal karenanya.

    Namun dari sisi Aqidah, maka hal semacam ini merupakan hal yang besar, di mana hal-hal yang di satu sisi sebuah fenomena remeh temeh, lucu, dan “meng ada-ada”, namun di sisi lain menunjukkan bahwa ada sisi yang salah dalam dakwah keislaman di Indonesia.

    Selama ini kita berbangga dengan kemayoritasan, dan terbuai dengan “banyak”.

    Perlu pembenahan dalam dakwah kita (sebagai seorang Salafy secara intern), ternyata dakwah selama ini hanya di permukaan, belum menyentuh akar rumput yakni Masyarakat tingkat bawah.

    Kajian kita, hanya sebatas sesama “orang yang sudah ngaji”, tidak lebih.

    Kedua, secara umum dakwah yang dilakukan ulama dan kyai (tradisional) tidak pernah menyentuh permasalahan mendasar dari kebutuhan ummat, yakni pembenahan Aqidah Islam yang berasaskan Aqidah Ahlus Sunnah.

    Yang dilakukan para kyai hari ini, hanya sebatas kajian umum, melawak dan sedikit nasehat di kajiannya, dan selesai.

    Tidak ada pembenahan Aqidah secara signifikan.

    Di tambah para kyainya bermain politik praktis, sehingga ummat tidak ada yang menjaganya.

    Ketiga, kita tidak pernah melewatkan juga dari sisi pembawa ajaran nyeleneh dan aneh di tengah masyarakat, yang mereka adalah orang-orang Zindiq yang ingin membawa masyarakat kepada kesesatannya.

    Keempat, dari sisi masyarakat umum ada ruang kosong dan gersang di hati mereka.

    Mereka merasakan kegersangan hati.

    Sebab utama:

    1. Kebodohan akan ajaran agama Islam yang benar.

    2. Mereka tidak merasakan fungsi dai, kyai, dan juru dakwah secara langsung, sehingga mereka jauh dari bimbingan.

    Ulamanya sudah terjun ke politik, rakyat dan Ummat dijadikan alat jual beli perpolitikan dan nilai tawar, serta masyarakat dibiarkan atau ada upaya pembiaran untuk “bodoh” agar mudah di kendalikan.

    3. Ini juga kesalahan secara umum, mereka sendiri menjauh dari majelis ilmu, dan berat pada hawa nafsu, terbukti mereka lebih suka acara-acara tidak Syar’i dari pada kajian, dan poin ketiga ini adalah imbas dari poin kedua.

    4. Secara umum masyarakat kita (Jawa) berfikir praktis, dalam arti sebuah ajaran tidak dilihat baik atau buruk, tapi dilihat manfaat atau tidak secara langsung pada kehidupan dunia mereka.

    Meskipun menyembah batu, asal dengan itu “terpenuhi” semua kebutuhan, mereka akan lakukan.

    5. Adanya kekosongan Ruhani dan Iman yang merata di masyarakat Muslim Nusantara ini, dan ini faktor utama.

    6. Kebodohan, kurang secara ekonomi, sedikitnya diri bersentuhan dengan agama, kurang nya nasehat, dan dekatnya mereka dengan tokoh-tokoh sesat (apapun motifnya).

    Menjadikan masyarakat kita mudah ikut aliran sesat, dan Kufur.

    Sehingga kita kadang terhenyak dari kesadaran, satu aliran yang buat orang yang ngaji itu, sangat remeh…

    Namun memiliki pengikut, dan jumlahnya banyak.

    Ini membuktikan:

    1. Dakwah Islam terutama Salafy belum berjalan sebagaimana mestinya.

    Belum menyentuh masyarakat bawah.

    2. Kita tidak boleh lagi terbuai dengan kemayoritasan di negeri ini.

    3. Banyak pihak yang ingin merusak kaum Muslimin.

    4. Masyarakat Islam di Indonesia belum mengenal Islam yang benar, keislaman mereka masih seputar ikut kemayoritasan dan simbolis saja meskipun tidak dominan.

    Semoga dengan hal ini membuat kita sadar akan pentingnya Aqidah, Manhaj, dan dakwah ke masyarakat bawah yang belum tersentuh sama sekali.