Rambu-Rambu Menuntut Ilmu

Assalamu’alaikum ustadz mohon dijelaskan dengan ringkas langkah-langkah apa saja yang sebaiknya ditempuh oleh penuntut ilmu agar belajar lebih efektif dan mudah paham?

Jawab:

Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Di antara langkah-langkah yang harus diperhatikan sebagai berikut:

(1). Niat yang Ikhlas.

Tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu Syar’i) termasuk amal ibadah maka disyaratkan niat yang ikhlas karena Allah yaitu dengan membersihkan hati dari tujuan-tujuan tercela seperti ingin dipuji, popularitas, mendapat pengakuan atau tujuan-tujuan duniawi yang lain. Nabi ﷺ mengingatkan:

من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة”

Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya hanya Wajah Allah yang dia harapkan, tetapi dia pelajari untuk memperoleh sedikit dari perhiasan dunia maka dia tidak akan mendapati aroma surga di hari Kiamat.” (HR. Ahmad 8457, Abu Dawud 3664, Ibnu Majah 252, Shohih Ibnu Hibban 78, Musnad Abu Ya’la 6373, Al-Baihaqi dalam “Syu’abul Iman” 1634 dishohihkan oleh Syaikh bin Baz dan Syaikh Al-Albani)

Bukti ikhlasnya niat seseorang dalam menuntut ilmu yaitu apabila dia belajar dalam rangka menunaikan perintah Allah, mengangkat kejahilan dari dalam diri, serta mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.

2). Mencari Guru yang Ahli dari Kalangan Ahlussunnah.Bukan sekedar bermanhaj dan beraqidah Salaf tetapi dia juga cakap menguasai ilmunya.

Al-Imam Malik bin Anas menasihatkan, “Ilmu tidak diambil dari seorang Syaikh yang memiliki keutamaan, kesholihan serta banyak ibadah namun dia tidak memahami apa yang diucapkan (bukan ahlinya).” (Tadribur Rowi 1/43)

Meski keahlian orang bertingkat-tingkat namun setidaknya diketahui pengalaman belajar gurunya, atau diketahui ada rekomendasi dari orang alim terhadap gurunya tersebut. Karena para Ulama mengingatkan, “Banyak orang yang diberi ilmu namun tidak dianugerahi pemahaman.” Yakni tahu dalil akan tetapi tidak paham Istidlal (pendalilan).

(3). Mempelajari Kitab-Kitab Aqidah.Ilmu Aqidah merupakan pondasi utama dalam berislam. Aqidah yang menentukan sah tidaknya amalan, sempurna kurangnya amalan, dan lurusnya Aqidah akan melahirkan pengagungan terhadap Al-Qur’an wa Sunnah.

Jundub bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu kami mempelajari Iman sebelum mempelajari Al-Qur’an setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an sehingga bertambahlah keimanan kami kepada Al-Qur’an.”

(HR. Ibnu Majah 61 dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Diantara kitab-kitab aqidah yang ringkas padat jelas dan dianjurkan oleh para Ulama untuk dipelajari seperti “Al-Ushul Ats-Tsalatsah”, “Kasyfus Syubuhat”, “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rohmatullah ‘alaih. Ketiga kitab tersebut telah diberi Syarh (penjelasan) oleh para Ulama. Kemudian mempelajari kitab-kitab lain yang dibutuhkan untuk menopang pemahaman melalui bimbingan sang guru.

(4). Berhias dengan Adab yang Mulia.Al-Hasan bin Ali berkata kepada puteranya, “Apabila engkau bermajelis dengan orang-orang yang berilmu maka bersemangatlah untuk mendengar ketimbang berbicara. Belajarlah mendengar yang baik sebagaimana engkau belajar berbicara. Janganlah engkau memutus pembicaraan orang.”

(Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih 2/148 dalam riwayat lain disebutkan dari Al-Hasan Al-Bashri)

Yusuf bin Al-Husain berkata, “Dengan memelihara adab engkau akan dimudahkan memahami ilmu.” (Iqtidho’ul ‘Ilmi hal. 31)

(5). Berdoa & Bersabar.

Tingginya derajat keilmuan yang dicapai oleh para Ulama juga berkat doa mereka kepada Allah. Antara lain Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-Asqolani beliau meminta kepada Allah dengan meminum air zam-zam agar memiliki kemampuan hapalan seperti Al-Imam Adz-Dzahabi. Maka Allah karuniakan kepada beliau daya hapal yang luar biasa. Di samping berdoa, seorang penuntut ilmu juga dituntut agar bersabar dalam menempuh tahapan-tahapan ilmu, serta bersabar atas segala kekurangan, baik kekurangan diri, keterbatasan tempat belajar, maupun guru yang tidak terjaga dari kesalahan. Yahya bin Abi Katsir berpesan, “Sungguh ilmu ini tidak akan dicapai dengan badan yang santai.”

(6). Bertaqwa kepada Allah.

Tholq bin Habib (Imam dari kalangan Tabiin) berkata bahwa hakikat Taqwa adalah, “Amalan ketaatan kepada Allah diatas cahaya Allah dan mengharap pahala Allah, serta meninggalkan kedurhakaan kepada Allah diatas cahaya Allah dan takut dari azab Allah.”

Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan makna ucapan Tholq bin Habib, “Ketaqwaan tidak akan diraih kecuali dengan amal, dan amal tidak akan tegak kecuali diatas ilmu dan Ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi ﷺ), dan ilmu dan Ittiba’ tidak akan bermanfaat kecuali dengan keikhlasan.” (As-Siyar 4/601)

Maka ketaqwaan harus dibangun diatas cahaya Allah yaitu ilmu Syar’i dan Ittiba’ bukan kejahilan. Taqwa seperti itulah yang akan membuahkan Furqon yaitu kemampuan membedakan Al-Haq dari Al-Bathil, Tauhid dari Syirik, Sunnah dari Bid’ah. Allah berfirman, “Jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian Furqon.” (Al-Anfal: 29)

Sumber: https://t.me/manhajulhaq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *