Hidangan Ilmu

Fawaid Edisi Khusus

Oleh : Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Dua hal yang wajib di hadirkan dalam halaqoh ilmu, bila ingin memperoleh buah dari ilmu.

Keikhlasan pendidik, dan beradabnya penuntut ilmu.

Keikhlasan seorang pendidik.Berkata Imam Badruddin Ibnu Jama’ah As Syafi’i rahimahullah.

Hendaknya seorang pengajar, yang ia harapkan dari mengajar dan mendidik murid-murid nya adalah:

1. Hendaknya ia hanya mengharapkan semata wajah Allah taala.

2. Menyebarkan ilmu.

3. Menghidupkan Syariat.

4. Menampakkan kebenaran.

5. Memadamkan kebatilan.

6. Melanggengkan kebaikan bagi ummat.

7. Berharap mendapatkan pahala dari ilmu yang bermanfaat.

8. Mengharapkan keberkahan doa kebaikan dan Rahmat.

9. Masuknya mereka dalam jajaran pembawa ilmu, antara Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan para muridnya.

10 masuknya ia pada jajaran orang yang mengemban dan menyampaikan agama dan hukum Allah.Karena mengajarkan ilmu merupakan hal terpenting dalam urusan agama, serta merupakan tingkat kemuliaan tertinggi bagi orang-orang beriman.

Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal hal yang bisa menghalangi dan mengotori hati kita dari ilmu yang bermanfaat (ketidak ikhlasan).

Lihat Tadzkiratus Sami wa Mutakalim hal 61-62.

Beradabnya penuntut ilmu. Selanjutnya beliau menjelaskan hal kedua, agar seorang mendapatkan buah ilmu. Beliau mengutip ucapan Al Ghazali rahimahullah.

Al Ghazali menganggap sikap seperti ini (merendahkan guru) sebagai kesombongan dan termasuk kebodohan.

As Syafi’i pernah di cela karena beliau memiliki kerendahan hati di depan para Ulama. Lalu beliau menulis dalam syairnya. Aku merendahkan jiwa kepada Ulama, sedang mereka memuliakan nya (ilmu). Dan jiwa (diri) yang tidak engkau rendahkan, tidak akan di muliakan. Baihaqi dalam Al Madkhal 645. Sebagaian ulama salaf berkata,”Sesungguhnya pengajar dan dokter, keduanya tidak akan tulus mengajar dan mengobati, jika keduanya di rendahkan. Maka bersabarlah atas penyakitmu, jika engkau kaku kepada dokternya.Dan bersabarlah atas kebodohan, bila engkau kaku pada pengajarnya”.

Berkata pentahqiq kitab mengenai ucapan di atas. Adapun zaman ini, semua terbalik, para guru di tuntut berusaha keras membuat para murid senang, dan harus bersabar atas semua sikap murid.

Kitab Al Mujalasat hal 1635.

Lihat Tadzkiratus Sami wa Mutakalim 116.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *