Sebuah Hiburan Bagi Kesedihan

Fawaid Edisi Khusus


Sebuah Hiburan Bagi Kesedihan.

Ustad Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.




Saat nabi mengalami pemboikotan, ditinggal wafat kedua pembelanya, Abu Thalib dan istrinya Khadijah Ummul mu’minin, dan terasa tidak ada lagi baginya penerimaan kaumnya, dan beliau yakin tidak ada yang mendukung dakwahnya di kalangan manusia, dan membuncah kesedihan atas semua itu.

Beliau melakukan perjalanan menuju Thaif, satu tempat yang jaraknya 80 km dari Makkah dengan berjalan kaki.

Kesedihan beliau bertambah dengan penolakan orang-orang Thaif, bahkan mereka mengusirnya dengan lemparan batu.

Namun Allah tidak membiarkan kekasih Nya bersedih terlalu lama.

Datanglah hiburan bagi kesedihan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.


Berupa datangnya malaikat Jibril dan malaikat gunung.

Kedua, beliau di tolak oleh orang-orang Thaif, namun, beliau di terima dakwahnya oleh sekumpulan jin yang menyatakan keimanannya kepada beliau shalallahu alaihi wa salam, lihat surah Al Haqqof ayat 29-32.

Dan kegembiraan ketiga, saat beliau berlindung dari pengusiran di perkebunan anggur keluarga Utbah, dengan kondisi tubuh berdarah darah, datang seorang budak yang berasal dari negeri Ninawa, negerinya Yunus alaihi salam, budak keluarga Utbah.

Setelah mereka bercakap-cakap, dan Budak yang bernama Addas (biografi beliau di terangkan dalam Al Ishabah 4/227), mengetahui bahwa di depannya adalah seorang rasul, ia mencium kaki Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan menyatakan diri masuk Islam.

Lihat Fiqih Sirah hal 219-224.

Demikian juga dengan Yunus bin Matta alaihi salam, saat beliau marah pada kaumnya, karena penolakannya.

Dalam kesedihan itu, dan telah yakin akan di dustakannya risalahnya, beliau meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah.

Saat beliau naik dalam bahtera, beliau menemui kesedihan berikutnya, bahwa ia harus di lemparkan kedalam lautan, tidak hanya itu.

Ikan besar bersiap menelannya, dan ia hidup dalam tiga kegelapan, kegelapan malam, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan perut ikan.

Namun, Allah melihat hamba hamba Nya, dan Yunus termasuk orang yang shalih dan ahli berdzikir dan bertasbih.

Allah mengeluarkan beliau dari perut ikan dalam keadaan sakit, lalu Dia maha kasih pada hamba Nya itu, dan berkenan memberi kan padanya kesenangan barang sedikit sebagai pelipur kesedihan.

Di tumbuhkan Nya pepohonan dari jenis labu untuk pemulihannya, dan tidak hanya itu.

Beriman setelahnya, Beratus-ratus orang dari manusia atas risalahnya.

Lihat kisah sepenuhnya di surah As Shaafaat ayat 139-148.

Demikian dengan Ibrahim alaihi salam, Zakaria dan istrinya alaihimus salam, Musa dan Isa alaihimus salam.

Juga Yusuf alaihi salam, Yusuf putra Ya’kub alaihimus salam.

Teladan dalam kesabaran, saat di kucilkan, di aniayah, dan di pisahkan dari orangtua dan kampungnya, oleh orang-orang terdekatnya, yakni saudara-saudaranya.

Lalu, bertubi-tubi musibah dan ujian mendera.

Namun pada akhirnya, bukan hanya saudaranya, bahkan seluruh negeri tunduk padanya, dengan semua karunia Allah.


Demikian lah kehidupan itu wahai saudaraku.

Tidak mungkin kita tetap pada satu keadaan, kesedihan dan kebahagiaan itu pasti silih berganti.

Di hina dan di rendahkan, di tinggalkan orang-orang terdekat, tidak ada penolong dan tempat berbagi kesedihan saat ujian menimpa.

Mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang kita kenal, teman, Karib, suami, anak, dan sahabat sahabat dekat.

Demikian juga saat dakwah kita di tolak oleh orang-orang yang kita cintai dari kerabat dan kaum kita, kita menginginkan kebaikan bagi mereka, namun perlakuan buruk kita terima.

Dan anda dapat menambahkan semua contoh contoh dalam kehidupan nyata anda atau orang terdekat anda.

Sore ini, saat kami berbaring, teringat beberapa ayat di dalam surah Al Kahfi, surah penghibur bagi hati yang sedih.

Yang tertatih dalam kebaikan dan terjauhkan karena penolakan dan perendahan, serta di tinggalkan orang-orang terdekat.

Itulah yang di rasa Ashabul Kahfi, saat mereka menegakkan kakinya, dan menyerukan keimanan mereka pada kaumnya.

Di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung harapan kebaikan dan optimisme bagi orang-orang yang terpinggirkan karena peremehan pemilik kebun.

Ia berkata,

فعسى ربي أن يؤتين خيرا من جنتك

Maka semoga Rabbku akan mendatangkan padaku apa yang lebih baik dari kebunmu.

سورة ١٨ الكهف ٤٠.

Juga harapan hamba yang shalih, teman seperjalanan Musa alaihimus salam, dalam ilmu dan hikmah.

Ketika ia di tanyakan tentang anak dan kesudahannya bagi orang tuanya yang shalih,

فأردنا أن يبد لهما ربهما خيرا منه زكوة و أقرب رحما

Dan kita berharap semoga Rabb keduanya mengantikan bagi keduanya seorang anak yang lebih tulus dalam mencintai mereka, dan lebih dekat kasihnya.

سورة ١٨ الكهف ٨١.

Ada satu kata dari dua ayat di surah yang sama ini,

خيرا من …

Apa yang lebih baik dari…

Dan,
خيرا منه

Yang lebih baik dari nya…



Allahu Akbar….



Wahai orang-orang yang bersedih dalam kecewa, terhempas semua asa dan cita, dan orang-orang yang memiliki kesedihan yang membuncah.

Orang-orang yang memulai langkah untuk belajar tentang keikhasan dan tabiat kehidupan.

Ingatlah Rabb mu.

Dialah yang membuat seorang hamba tertawa dan menangis, maka Dia juga lah tumpuan harapan dan asa itu.


Boleh jadi, kekecewaan itu akan berbuah manis dengan warna dan kondisi yang lain.

Saat orang berharap pada “A” ternyata, ia menemukan kasih Allah itu pada kondisi “B”.

Saat engkau di uji dengan anak, boleh jadi Allah membahagiakan mu dengan menantu dan cucu-cucu yang berbakti.


Saat ujian itu dari sisi suami, boleh jadi Allah menjadikan kebahagiaan itu pada berbakti nya anak dan perhatian teman-teman yang banyak.

Saat engkau di remehkan, di rendahkan, dan tidak di hargai keberadaanmu di sisi kaummu, boleh jadi, di tempat lain, orang orang menanti dan menerima dakwahmu.


Ingat wahai saudaraku, hanya kepada Allah pemilik Arsy yang agung, pemegang kunci kunci perbendaharaan, kepada Nya semua harapan tergantung, semua asa kembali, dan harapan itu ada.

Ingatlah, makhluk hanya hamba, tidak memiliki apa apa, jangan gantungkan semua hal dan harapan kepada mereka, harapan kepada mereka adalah hal yang tiada akan terpenuhi.

Dan dengannya, Allah memberikan pelajaran terpenting dalam hidup.

Hendaknya semua ketergantungan itu di serahkan kepada Allah, bukan sesama hamba.

Dan biarpun, hiburan itu tidak di dunia ini, seorang Muslim masih punya Akhirat.

Disana, harapan itu, di Surga tertinggi di sisi Allah, dan kesudahan yang baik bagi orang-orang bertaqwa.


Mari belajar kembali menata hati dan kedekatan dengan Allah, disanalah kebahagiaan dan harapan terpaut bagi hamba.





Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabb nya.

pencari ilmu Syar’i
Seputar tanya jawab keislaman:

https://bit.ly/2tW8u3N

Dijawab oleh :
Ust Abu Abdurrahman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *