Manhaj Al-Wala’ wal Baro’

Manhaj Al-Wala’ wal Baro’

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fawzan berkata, “Manusia terbagi menjadi tiga kelompok terkait Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Baro’ (antipati):

(1). Orang yang dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak ada permusuhan terhadapnya. Mereka adalah kaum Mukminin yang tulus yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang sholih. Orang yang paling utama di antara mereka adalah Rosulullah ﷺ, wajib mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri, anak, orangtua dan manusia seluruhnya. Kemudian kecintaan kepada isteri-isteri beliau yaitu ummahatul Mukminin, ahli baitnya (keluarga beliau) yang baik, serta para shohabat beliau yang mulia, khususnya para khulafa’urrosyidin, sepuluh orang shohabat yang telah dijamin masuk Surga, kaum Muhajirin, kaum Anshor, para shohabat yang ikut perang Badr, Bai’aturridhwan, dan para shohabat secara keseluruhan. Kemudian para Ulama Tabiin dan generasi-generasi yang utama dan para Salaf serta para imamnya seperti Imam Madzhab yang empat yaitu Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, Ahmad.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Robb kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati-hati kami terhadap orang-orang yang beriman, “Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

Orang yang di hatinya ada keimanan tidak akan membenci para shohabat, tidak akan membenci para Salaf. Kelompok yang membenci mereka hanyalah orang-orang yang menyimpang dan ada kemunafikan dalam dirinya, juga musuh-musuh Islam seperti Syiah Rofidhoh dan Khowarij. Kami memohon kepada Allah keselamatan.

(2). Orang yang dibenci dan dimusuhi tanpa adanya kecintaan dan loyalitas sama sekali. Mereka adalah Kuffar (orang-orang Kafir) tulen, Musyrikin, Munafiqin, orang-orang yang Murtad, orang-orang Atheis dengan segala macam jenisnya.

Allah berfirman, “Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)

(3). Orang yang dicintai di satu sisi namun dibenci di sisi lain yakni terkumpul padanya kecintaan sekaligus permusuhan. Mereka adalah orang-orang Mukmin yang durhaka. Mereka dicintai karena keimanannya dan dibenci karena kedurhakaannya selain dosa kekufuran dan kemusyrikan. Kecintaan terhadap mereka mengharuskan untuk menasihati dan mengingkari mereka. Dan mereka tidak dibenci dan dimusuhi secara total seperti orang Kafir, namun juga tidak diberi loyalitas secara total akan tetapi Ahlussunnah menyikapi mereka dengan pertengahan.

Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berloyalitas karena Allah, memusuhi karena Allah, maka dia akan memperoleh penjagaan dari Allah karena Al-Wala’ Wal Baro’-nya itu.” (Riwayat Ibnu Jarir)

Belakangan ini standar loyalitas dan persaudaraan umumnya hanya bersifat duniawi semata. Sungguh orang yang membangun persaudaraannya hanya karena dunia tidak akan memperoleh manfaat sedikitpun kelak di akhirat.” (Selesai dengan ringkas)

Demikian Manhaj Al-Wala’ Wal Baro’ yang menjadi kemestian dalam beragama. Akan tetapi loyalitas tidak berarti menjerumuskan seseorang kepada sikap membabi buta, dan antipati tidak menghalangi seseorang untuk berlaku adil sekalipun terhadap orang kafir.

https://t.me/manhajulhaq

Tinggalkan Balasan

Ukhuwah Fil Hijrah