Tak Terbandingkan Selamanya

Fawaid edisi khusus

TAK TERBANDINGKAN, SELAMANYA

Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah subhanahu wa taala berfirman menjelaskan keagungan Al Qur’an,

إن هذا القرآن يهدى للتى هي اقوم و يبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لهم أجرا كبيراً .

Sesungguhnya Al Qur’an ini menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus, juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih, bahwasanya bagi mereka pahala yang besar.

Q.S 17 Al Isra ayat 9.

saya juga akan terjemahkan kedalaman bahasa Jawa,

Sa estunipun Al Qur’an puniko ha nyukani pituduh kelawan ratan ingkan jejeg, lan ngabar aken babakan perkawis kabar bebungah tumrap tyang tyang ingkang iman kang sampun ngelampahi amal kabecikan, bilih tyang puniko angsal ganjaran kang ageng.

Quran Jarwo Boso Jawi Serat 17 Al Isra, Cacah 9.

Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady Rahimahullah menjelaskan,

يخبر (الله) تعلى عن شرف القرآن و جلالته ،

Allah taala mengabarkan tentang kemuliaan Al Qur’an dan keagungannya,

و انه (يهدى للتى هي اقوم) أي ، اعدل و أعلى من العقائد و الأعمال و الأخلاق ، فمن اهتدى بما يدعو إليه القرآن ، كان أكمل ألناس و أقولهم و اهداهم في جميع الأمور ،

Bahwasanya ia, “menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus” yakni, lebih adil dan mulia dalam masalah aqidah (keimanan), amal, dan akhlak, maka barang siapa yang mengambil petunjuk dengan seruan ajaran Al Qur’an, maka dialah orang yang paling sempurna, orang paling lurus, dan orang paling mendapatkan petunjuk dalam semua urusannya,

(و يبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات) من الواجبات و السنن ،

“Juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih” yang mereka mengerjakan amal yang wajib dan sunnah,

(أن لهم اجرا كبيراً) أعده الله لهم في دار كرامته لا يعلم وصفه إلا هو.

“Bahwasanya bagi mereka pahala yang besar” Allah telah menyediakan bagi mereka dalam tempat kemuliaan Nya (surga) yang kebaikan dan keindahan sifat Surga itu tidak ada yang mengetahuinya saat ini, kecuali Dia sendiri.

Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan Surah 17/9. terbitan Darul Alamiyah Mesir.

Hendaknya seorang memiliki adab, tidak bicara mengenai agama kecuali dengan ilmu.

Karena apabila seorang berbicara tanpa ilmu, boleh jadi ia masuk rana yang bukan haknya berbicara dan menilai atau bahkan membandingkan.

Imam Muhammad bin Idris As Syafii Rahimahullah berkata.

Tidak di benarkan bagi siapa pun untuk berdalil dengan Qiyas (analogi / permisalan) kecuali ia menguasai seluruh (ilmu) hadits, berbagai penjelasan ulama, perselisihan (ilmiah) di antara mereka, juga harus menguasai ilmu Bahasa Arab, sebagaimana ia tidak di benarkan berdalil dengan Qiyas sampai ia terbukti memiliki kecerdasan, yang dengan nya ia mampu membedakan masalah yang terkesan serupa, dan di tambah hendaknya ia berlaku hati-hati.

Kitab Ar Risalah 509.

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata,

Semua bentuk Bid’ah dan pendapat sesat yang di susupkan kedalaman agama para Rasul, berawal dari Qiyas (analogi / kaidah berfikir) yang salah.

I’lamul Muwaqiin 2/29.

Kita lihat hari ini, orang yang melampau batas kadar dirinya,

Yang berani bicara tentang Allah dan asma serta sifat Nya, Rasul, Sunnah, Malaikat, kitab, agama Nya, hari akhir, dan hal-hal ghaib,

Tanpa ilmu, burhan, dan hujjah yang benar.

Mereka adalah orang yang tidak memiliki kemuliaan, harga diri, dan sifat kemanusiaan sebagai hamba.

Pembahasan kami ini terkait dan mencakup seluruh hal.

Namun, pada tulisan kali ini, kami batasi hanya untuk membahas orang-orang yang tidak memiliki adab kepada Al Qur’an.

Mereka berkata.

Al Qur’an jangan di makan mentah-mentah.

Seakan Al Qur’an itu, bagi mereka semacam tetumbuhan…

Al Qur’an itu jangan di baca langsung, nanti kamu konslet.

Seakan Al Qur’an itu, bagi mereka arus listrik.

Baik mana, Al Qur’an dengan ini dan itu…

Sebuah analogi salah… Dan memunculkan kesimpulan yang salah.

Nasalullaha salama wal afiah.

Kita berlindung dari ucapan kufur ini.

Apakah hati mereka tertutup atau mereka tidak berhati…

كلا بل ، ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون !!!.

Sekali-kali tidak, bahkan, itulah ‘Raan’ (penutup) yang menutupi di atas hati mereka, karena apa yang telah mereka kerjakan dari dosa !!!.

Qs Al Mutafifin ayat 14.

Ternyata dosa, kemaksiatan, dan jauhnya hati dari lentera hidayah, serta bimbingan Al Qur’an dan Sunnah, yang menjadikan mereka orang orang seperti itu,

sehingga ia keluar dari kebenaran.

Semoga Allah Subhanahu wa Taala menjadikan Al Qur’an bagi hati kita penyembuh, sebagai penerang bagi mata, pembersih dosa-dosa, serta menjadikan penjauh antara kita dengan neraka.

Ya Allah, jadikan al Qur’an hujjah bagi kami, bukan penghujat untuk kami.

Ya Allah jadikan kami ahli Mu, dan orang pilihan di sisi Mu, dengan sebab bacaan Al Qur’an kami.

Ya Allah, jadikan Al Qur’an bacaan bagi kami di pagi, siang, sore, dan malam kami.

Tenggelam kan kami dalam membaca, mentadabburi, serta mengamalkan nya.

Jadikan kami, keluarga kami, anak serta keturunan kami, sebagai Ahlul Qur’an, dan pembela Al Qur’an.

Oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *