Hakikat Tawassul Antara yang Dilarang & Diperbolehkan

Tawassul artinya menjadikan sesuatu sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tawassul ada yang diperbolehkan yaitu Tawassul yang Masyru’ (disyariatkan), dan ada Tawassul yang dilarang yaitu Tawassul yang Syirik dan Bid’ah.

Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz berkata, “Para Ulama semisal Al-Imam Ibnul Qoyyim dan selain beliau menyebutkan Tawassul ada tiga macam:

(1). Tawassul Syirik Akbar (Membatalkan Islam).
Contohnya berdoa kepada mayyit, beristighotsah kepada mayyit, menyembelih dan bernadzar untuk mayyit (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah). Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

(2). Tawassul Bid’ah (Tidak Dicontohkan Nabi ﷺ).
Contohnya Tawassul dengan dzat makhluk seperti ucapan, “Alloohumma inni as’aluka bidzaati fulan..” (Ya Allah aku memohon kepada Engkau dengan perantaraan Fulan), “Alloohumma inni as’aluka bi’ibadikassholihin..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara hamba-Mu yang sholih), “Alloohumma inni as’aluka bi Muhammad..bi Musa..” (Ya Allah aku memohon kepada engkau dengan perantara Nabi Muhammad.. Nabi Musa), semua ini Tawassul Bid’ah yang menjadi sarana kepada kesyirikan.

(3). Tawassul Masyru’ (Disyariatkan).
Tawassul dengan nama Allah dan sifat-Nya yang mulia seperti ucapan, “As’aluka birohmatik..” (Aku memohon kepada Engkau ya Allah dengan rahmat-Mu), “As’aluka bi’ilmik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan ilmu-Mu), “As’aluka bi-ihsanik..”(Aku memohon kepada Engkau dengan kebaikan-Mu). Dalilnya firman Allah ta’ala:

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asma’ul husna (nama-nama yang indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan asma’ul husna itu.” (Al-A’rof: 180)

Begitupula Tawassul dengan amalan sholih, Tawassul dengan keimanan, Tawassul dengan doa orang sholih yang masih hidup (termasuk meminta doa Nabi ﷺ sewaktu beliau masih hidup), semua itu Tawassul yang disyariatkan.” ( Via binbaz.org.sa)

Orang yang membolehkan Tawassul Syirik dan Bid’ah umumnya berhujjah dengan hadits palsu, Istidlal (pendalilan) yang tidak pada tempatnya, tidak amanah dalam menerjemahkan hadits.

https://t.me/manhajulhaq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *