Jangan Cabut Ketaatan Meskipun Penguasamu Zalim

🖋 Abu Abd Rahman Bin Muhammad Suud Al Atsary.

Semenjak berakhirnya masa kolonialisme Kafir barat, bisa dikatakan kaum Muslimin tercabik-cabik, baik negeri mereka, kesatuan mereka dan kekayaan mereka.

Bahkan Aqidah mereka, mereka mengambil Aqidah yang cenderung kepada Sufi dan Liberal atau mengambil sikap ekstrem Khawarij, setelah melalui masa penjajahan yang panjang. Serta tidak bersatunya kalimat mereka di atas Aqidah yang lurus dan Manhaj yang selamat.

Nyaris kaum Muslimin seakan anak ayam yang kehilangan induk. Tidak ada seorang yang berkuasa, menggunakan kekuasaannya untuk membela Islam dan kaum Muslimin, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.

Di tambah lagi, sebagian pemuda yang memiliki semangat dalam masa-masa hijrah dan kenyataan yang tidak bisa di pungkiri, melihat sebagian pemimpin tidak menjalankan syariat Allah subhanahu wa taala dan cenderung memusuhinya, dan hidup Hedonis.

Sebagian mereka mengambil sikap tanpa bimbingan ulama dan cenderung bersikap berlebihan.

Tentunya hal ini perlu disikapi para ulama dengan baik, tidak hanya menyalahkan satu sisi, baik dari sisi pemerintah yang wajib mereka menjadi media nasehat, amar ma’ruf dan nahi munkar, serta tentunya nasehat kepada pemerintah tidak perlu disampaikan pada khalayak umum.

Dan juga, mereka wajib memberi bimbingan kepada para pemuda yang memiliki semangat beragama, yang biasanya para pemuda dengan sifat-sifatnya, enggan melihat kezaliman dan kemunkaran yang dibiarkan dan dibela.

Di sini, kami menjelaskan tentang sikap kami, Ahlus Sunnah Wal Jamaah kepada pemerintah. Dan nasehat umum kepada kita semua, rakyat dan sikapnya kepada pemerintah.

Selebihnya lihat tulisan saya, Syarah Aqidah Washitiyah. Bahwa kami bersikap sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Nabi shalallahu alaihi wa salam menasehatkan,

أو صيكم بتقوى ألله ، و السمع و الطاعة ، و إن تأمر عليك عبد.

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah budak. (HR. Ahmad, Tirmidzy, Abu Dawud)

Nabi shalallahu alaihi wa salam menjelaskan akan munculnya pemimpin-pemimpin zalim, mementingkan dirinya sendiri, yang cenderung memusuhi Islam, tidak ada pembelaan kepada Islam dan kaum Muslimin,

يكون بعدي أئمة لا يهدون بهدي و لا يستنون بسنتي ، و سيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس ،قلت ، كيف أصنع يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أدركت ذلك ؟، قال تسمع و تطيع ، و إن ضرب ظهرك و اخد مالك ، فاسمع و اطع.

“Akan muncul setelah ku, pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku, dan mengambil sunnah bukan dengan sunnahku.

Dan akan tegak orang yang memimpin di antara mereka yang hatinya seperti hati setan dalam badan manusia.

Lalu aku (Hudzaifah) berkata, bagaimana yang akan aku perbuat, bila ku dapati wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa salam kondisi semacam itu ?

Beliau bersabda, dengar dan taatlah, meskipun dipukul punggungmu dan diambil hartamu dengan dzalim, dengar dan taatlah. (HR. Muslim)

Wahai kaum muslimin, hendaknya engkau taat, tidak mencabut ketaatan kepada pemimpin, selama kezaliman penguasa itu dalam hal dunia.

Seperti ketika mereka mengambil hak dan hartamu. Seorang Salafy, tidak akan mempermasalahkan sulitnya dunia, naiknya harga, dan kesulitan kesulitan lainnya. Bahkan mereka terdepan bila diminta penguasanya membantu dalam ekonomi dan bila di seru untuk berjihad. Sekali lagi, hendaknya kita semua, bagaimana pun kezaliman yang kita lihat, jangan ambil sikap mencabut ketaatan selama mereka Muslim dan shalat. Inilah Aqidah kita.

على المرء المسلم السمع و الطاعة ، فيما أحب و كره ، إلا أن يؤمر بمعصية ، فإن أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة.

Atas setiap orang Islam, untuk mendengar dan taat kepada pemerintah atas apa yang mereka sukai dan mereka benci dari mereka. Kecuali bila di perintah dalam kemaksiatan, bila di perintah kepada maksiat maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari Muslim)

Umpama pemerintahmu melarang engkau menerapkan sunnah, melepas cadarmu, padahal engkau meyakinkan cadar itu wajib, atau melarangmu shalat, dan menunjukkan keistiqomahan. Maka cukup, engkau tidak taat dalam hal itu. Namun jangan sekali kali engkau angkat ketaatan darinya, dan mengambil jalan yang tidak syari dalam merubah satu kemunkaran kepada bentuk kemunkaran lain yang lebih buruk. Serta, sertakan untuk mereka, pemerintah dalam doa doamu, agar Allah memperbaiki mereka dan memberi hidayah kepada mereka.

Semoga dengan ketaatan mu pada pemerintah, baik kondisi senang atau yang tidak di senangi, dalam rangka ketaatan pada Allah dan rasul Nya, Allah subhanahu wa taala angkat musibah, kezaliman, dan ketidak adilan yang menimpa kaum muslimin. Tetap di jalur yang syari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *