Kaidah Ushul Fiqh 25-27

KAIDAH USHUL FIQIH

🍀 Kaidah yang ke 25 🍀

●  Sesuatu yang terlintas di hati dima’afkan selama tidak diucapkan atau diperbuat.

Kaidah ini berdasarkan hadits:

إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم

“Sesungguhnya Allah memaafkan untuk umatku apa yang ia bicarakan di hatinya selama tidak dilakukan atau diucapkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

⚉ Apabila terlintas difikiran seseorang untuk berbuat maksiat maka tidak berpengaruh apapun.
⚉ Atau terlintas dipikirannya untuk berbuat kebaikan.

Lalu bagaimana dengan firman Allah:

ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم

“Barang siapa yang menginginkan padanya perbuatan buruk berupa kezaliman, maka Kami akan rasakan ia dengan adzab yang pedih.“ (Al Hajj: 25).

⚉ Dijawab: Bahwa lintasan hati berbeda dengan niat yang kuat. karena yang dimaksud ayat tersebut adalah azimah (niat yang kuat), sehingga tidak masuk dalam kaidah ini.

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 26 🍀

● Perintah apabila yang dimaksud darinya pelakunya, maka perintah itu hukumnya FARDHU ‘AIN.

● Dan apabila yang dimaksud perbuatannya, maka perintah itu hukumnya FARDHU KIFAYAH.

Ini adalah kaidah untuk membedakan antara perintah yang bersifat fardhu ‘ain dan perintah yang bersifat fardhu kifayah.

Bila yang dimaksud adalah pelakunya maka fardhu ‘ain.
⚉ contohnya perintah untuk sholat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.

Bila yang dimaksud perbuatannya maka fardhu kifayah.
⚉ contohnya adalah adzan, bila ada satu orang adzan, maka itu sudah terhasilkan. Maka itu mencukupi.
⚉ contohnya lagi menyelenggarakan pengurusan jenazah. tidak wajib setiap orang mengurus jenazah.

⚉ Fardhu ‘ain (kewajiban perorangan). Fardhu ain artinya kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap individu Muslim yang telah memenuhi sarat dan tidak bisa di wakili / di ganti orang lain, misalnya shalat lima waktu, hijab, zakat, puasa dan pergi haji ke Mekkah sekali seumur hidup.

⚉ Fardhu Kifayah. Fardhu kifayah artinya kewajiban yang dibebankan pada seluruh ummat. Seseorang tidak diwajibkan melaksanakan suatu tugas jika ada cukup orang dalam kelompok masyarakat telah memenuhinya. Contohnya adalah adzan, bila ada satu orang adzan, maka itu sudah terhasilkan. Maka itu mencukupi. Contohnya lagi menyelenggarakan pengurusan jenazah, tidak wajib setiap orang mengurus jenazah.

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 27 🍀

● Ibadah yang mempunyai beberapa bentuk, hendaknya kita lakukan terkadang ini dan terkadang itu.

Ada beberapa ibadah yang mempunyai beberapa bentuk atau macam yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
⚉ Contohnya do’a istiftah, bacaan ruku dan sujud, bacaan sholawat dan sebagainya.

Maka agar terpelihara semuanya, kita tidak melanggengkan satu bacaan, tapi kita baca terkadang ini dan terkadang itu.
Namun tidak disyariatkan membaca seluruhnya dalam satu sholat.
Kecuali bila ada dalil yang menunjukkan boleh membaca seluruhnya dalam satu waktu seperti do’a pagi dan petang.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

 

Instagram : instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *