Aqidah Manhaj

AQIDAH MANHAJ

🌼 Kaidah yang ke 50 🌼

⚉ Bahwa Assalafiyyun Ahlussunnah wal Jama’ah menyebutkan terjadi kesalahan dalam memahami waro’ dari 3 sisi:

1⃣ Yaitu banyak orang mempunyai keyakinan bahwa waro’ itu hanya berhubungan dengan meninggalkan sesuatu yaitu meninggalkan yang haram, meninggalkan yang syubhat, namun mereka malah kemudian jatuh kepada meremehkan kewajiban, dan ini sebuah pemahaman yang salah,

Ada orang maasya Allah meninggalkan yang haram, meninggalkan yang syubhat, tapi ternyata dia malah meninggalkan yang wajib seperti menyambung silaturahim, memenuhi hak tetangga, memberikan santunan kepada fakir miskin dan yang lainnya.

Maka ini tentu sebuah kesalahan, bahwa waro’ hanya sebatas di pahami untuk meninggalkan sesuatu yang haram dan sesuatu yang samar.

2⃣ Yaitu ada orang yang melakukan kewajiban dan juga sesuatu yang samar.
Ada orang yang meninggalkan yang haram dan juga sesuatu yang samar, sehingga waro’nya ini malah menimbulkan was-was.
Sebuah contoh ada orang yang berwudhu, lama wudhunya sampai setengah jam, kenapa ?
Karena dia takut jangan-jangan saya belum mencuci anggota badan saya, jangan-jangan saya tadi sudah batal, sehingga akhirnya apa ? Dia menganggap itu sebuah waro’. Padahal itu bukan waro’, itu adalah was-was , maka ini jelas perkara yang tidak dibenarkan, bahkan termasuk berlebih-lebihan yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasalam sebutkan:

‎هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ

“Celakalah orang-orang yang berlebih-lebihan.“

3⃣ Yaitu seseorang hanya sebatas melihat dari satu sisi tapi melupakan sisi yang lain.
Contoh misalnya dia melihat dari sisi kerusakannya saja. Tapi tidak melihat dari sisi maslahatnya.
Padahal syari’at Islam itu mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah.
Kalau ternyata maslahatnya jauh lebih besar daripada mafsadahnya, maka itu di syari’atkan.
Kalau ternyata mafsadahnya jauh lebih besar daripada maslahatnya maka itu di haramkan.
Dan apabila maslahat dan mafsadah sama, maka hendaknya kita berusaha untuk tinggalkan.

Nah tapi ada orang yang hanya sebatas melihat dari satu sisinya saja, dari sisi kerusakannya saja dan menganggap itulah waro’. Padahal tidak demikan, memang misalnya disana ada kerusakannya tapi disana maslahatnya jauh lebih besar yang orang tersebut tidak melihat dari sisi situ.

 Maka dari itu pahamilah bahwa hakikat waro’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan akan merugikan akhirat kita.
Berupa meninggalkan yang haram, meninggalkan yang samar, melaksanakan berbagai macam kewajiban-kewajiban, namun mereka tidak jatuh kepada was-was, mereka betul-betul berpegang kepada dalil, berpegang kepada kaidah-kaidah yang telah di tetapkan oleh syari’at, sehingga ketika terjadi was-was mereka kembalikan kepada sesuatu yang bersifat yakin. Nah inilah perkara yang benar dalam memahami waro’.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 51 🌼

⚉ Bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah menyeru kepada apa yang di seru oleh Alqur’an yaitu akhlak yang mulia.

Allah berfirman [ QS Al-A’raf : 199]

‎خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Ambillah maaf dan perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh“

Ibnul Qayyim berkata:
“Perhatikanlah ayat ini apa yang terkandung padanya berupa akhlak yang baik dan melaksanakan hak Allah pada mereka dan selamat dari keburukan mereka.

Kalaulah manusia seluruhnya mengambil dan mengamalkan ayat ini tentu itu akan mencukupi mereka, karena sifat maaf itu menyebabkan akhlak mereka itu menjadi selamat, tabiat mereka pun menjadi lembut, demikian pula untuk memberikan harta.”

Demikian pula sikap yang baik, maka itu adalah sikap mereka kepadanya, adapun sikap ia kepada mereka yaitu menyuruh kepada mereka kepada yang ma’ruf, dan itu sesuatu yang sifatnya disaksikan oleh akal akan kebaikannya bahwasanya itu adalah perkara yang baik, demikian pula apa yang Allah perintahkan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh supaya kita selamat daripada kebodohan mereka.

Orang bodoh kalau kita layani pasti mereka akan membalas dengan yang lebih, maka sehingga akhirnya kitapun ikut berbuat bodoh, tapi dengan cara kita berpaling dari orang bodoh maka kita selamat dari kebodohan mereka.

Beliau melanjutkan lagi, “Maka adakah kesempurnaan bagi seorang hamba dari belakang ini semua, maka adakah pergaulan dan siasat yang lebih baik daripada pergaulan dan siasat seperti ini.”

Ini merupakan ayat yang luar biasa, memberikan kepada kita pendidikan bagaimana kita bersikap kepada makhluk, yaitu dengan sikapi mereka dengan maaf. Dan maaf itu tidak sama sekali tidak menjatuhkan harga diri kita, bahkan menambah kemulian.

Yang kedua, memerintahkan mereka kepada yang ma’ruf, kemudian berpaling dari orang yang bodoh. Terkadang banyak orang-orang yang mencaci maki kita ataukah sikap-sikap lainnya yang merupakan kebodohan, tidak perlu kita ladeni, tidak perlu kita layani. Kita berpaling dari orang yang bodoh itu adalah lebih baik.

Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 52 🌼

⚉ Mereka meyakini bahwa Allah menjadikan kepemimpinan dalam agama itu hasil dari kesabaran dan keyakinan, dan keyakinan itu tidak mungkin di hasilkan kecuali dari ilmu yang dalam dan kuat.

Allah Ta’ala berfirman [QS As Sajadah : 24]

‎وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin dalam agama yang memberikan hidayah dengan perintah Kami disaat mereka sabar dan mereka yakin dengan ayat-ayat Kami.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah:
“Agama ini seluruhnya adalah berilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya. Dan mengamalkan ilmu harus dan membutuhkan kesabaran. Bahkan menuntut ilmu sendiri juga membutuhkan kesabaran, sebagaimana dikatakan oleh Mu’adz bin Jabal, “…hendaklah kalian menuntut ilmu karena mencari ilmu itu ibadah dan mengenalnya adalah menimbulkan rasa takut. Dan membahasnya termasuk jihad. Mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak tahu itu shodaqoh. Dan mengulang ilmu adalah tasbih. Dengan ilmu Allah di kenal dan di ibadahi. Dengan ilmu juga Allah di agungkan, di muliakan dan di tauhidkan…“

Allah mengangkat dengan ilmu itu suatu kaum, maka Allah jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin untuk manusia.
Dimana manusia mengambil hidayah dengan mereka. Dan mengambil pendapat mereka.”

Kata beliau, disini beliau menganggap membahas ilmu itu termasuk jihad. Sementara untuk berjihad itu butuh kesabaran.

Oleh karena itu Allah berfirman [QS Al’Ashr : 1-3]

‎وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2)

“Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian“

‎إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh, sering bertawashi, saling berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat tentang kesabaran“

Maka ilmu yang bermanfaat itu pokok hidayah. Dan mengamalkan kebenaran itulah jalan kebenaran, jalan yang terbimbing, maka kebalikan dari ilmu yang bermanfaat itu adalah kesesatan, sementara kebalikan dari mengamalkan kebenaran itu adalah kerugian.

Jadi kesesatan itu hakikatnya beramal dengan tanpa ilmu. Sementara penyimpangan hakikatnya adalah mengikuti hawa nafsu.

Allah Ta’ala berfirman [QS An Nazm]

‎وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى . مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى

“Demi bintang apabila telah “hawa” (telah muncul atau telah terbenam). Maka teman kalian itu tidak tersesat (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam), tidak pula menyimpang“

Maka hidayah tidak mungkin diraih kecuali dengan ilmu, sementara bimbingan tidak akan diraih kecuali dengan kesabaran.

Oleh karena itu Ali bin Abi Talib rodhiyallahu ‘anhu berkata,

‎الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ

“Ketahuilah sabar dalam iman itu bagaikan kepala untuk badan, apabila kepala putus dari badan, maka akan matilah jasad, demikian pula iman pun akan mati tanpa kesabaran.” Kemudian Ali bin Abi Thalib mengangkat suaranya dan berkata, “ketahuilah tidak ada iman bagi orang yang tidak punya kesabaran.” (Dalam Majmu Fatawa jilid 10 halaman 40)

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.


Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *