Fawaid Edisi Khusus: Kepada Para Pemuda Islam..

🖋🔥🏹 Kepada para Pemuda Islam
🖋 Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud Al Atsary.

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman mengenai pemuda pemuda penghuni gua (Ashabul Kahfi),

ۚإِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى

“… Sesungguhnya mereka itu para pemuda yang beriman kepada Rabb nya, maka Kami tambah bagi mereka petunjuk hidayah”
📖 Surah 18 al kahfi ayat 13.

Berkata imam Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah as Sady rahimahullah,
“… Mereka (para pemuda itu) beriman kepada Allah semata tanpa di sertai kaumnya,
Maka Allah mensyukuri keimanan mereka,

lalu menambahkan hidayah kepada mereka…
Maka Allah menambahkan petunjuk kepada mereka,

berupa ilmu nafi’ (yang bermanfaat) dan amal shalih (yang baik).
… (Allah) mencurahkan kesabaran pada mereka

dan meneguhkan mereka, serta menjadikan hati mereka tentram…
Ini merupakan gambaran sifat kelembutan Allah pada mereka,
dalam bentuk pemberian taufiq kepada iman,

petunjuk, kesabaran, teguh, dan ketenangan.”

📚 (tafsir Karimir Rahman QS:18/13-14)

Allah subhanallahu wa ta’ala mensifati para pemuda yang tidak di berikan kepada kelompok tua,
Dan sesungguhnya, agama ini di topang oleh kebijaksanaan kelompok tua dan semangat kelompok muda.

Inilah Umar bin Khattab, Ali bin Abi thalib, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Ikrimah …
Inilah Umar bin Abdul Aziz, Said bin Zubair, Raja bin Haiwah …
Inilah Rib’i bin Amir, Thariq bin Ziyad, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, Babarasa, Sulaiman Al Qonuni.

Dan sederet nama nama lain, baik dari kalangan salaf dan khalaf.
Mereka adalah sedikit dari para pemuda Islam, dari banyaknya yang belum di sebut, dari para pemuda yang telah mengoreskan kebaikan bagi agamanya.

Wahai para pemuda, kami menyebut ‘pemuda’, karena mereka memiliki apa yang tidak di miliki kelompok tua.
Kami berbicara kepada anda, para pemuda, pemuda yang beriman,

Bukan kepada pemuda yang acuh dan melempar agama ke belakang punggung punggung mereka,
Bukan pemuda yang menghabiskan waktu dan umur di club club, dan ber-i’tikaf di pinggir pinggir jalan dan warung warung, serta pemuda yang berputar pada syahwat syahwat dan keinginan nafsunya semata.

Namun, kepada anda…

Pemuda yang di sifati Rasulullah shalallahu alaihi wa salam sebagai,
و شاب نشأ بعبادة الله…
“dan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah …”
(HR. Bukhari 1423 & Muslim 1031).

Kepada,
Kalian yang mewarisi ilmu dan amal para shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam,
Kalian, yang akan menerjemahkan mimpi mimpi menjadi kenyataan, sebagaimana Yusuf ‘alaihissalam,
kalian yang mewarisi kemuliaan pemuda surga, permata Rasulullah, Hasan dan Husain radiyallahu anhum,
Kalian yang mewarisi keberanian Qo’qo dan Rib’i rahimahumullah di hadapan Raja Persia,
Kalian yang memiliki keperwiraan Shalahuddin dan Al Fatih rahimahumullah, yang mengarungkan kapal kapal di pasir.

Sungguh, ummat dan agama ini telah di timpa dan di dera berbagai ujian ujian dan fitnah yang besar,
Yang bila saja tidak di jaga dan mendapat karunia dari Allah ta’ala, tentu sudah hilang agama ini dari dunia,
Yang bila musibah dan penderitaan ini di timpakan kepada agama dan ummat lain, akan menjadikannya debu dan luluh lantak.

Bagaimana anda mengetahui, negeri negeri kaum muslimin di robek robek oleh penjajahan, kekayaan mereka di rampok penjajah kafir salibis dan yahudi serta musyrikin, sehingga melahirkan kebodohan dan pe-miskinan,
di cerai beraikan persatuan mereka, oleh isme isme, dan apa yang di sebut ‘nasionalisme’ sempit, dan slogan slogan yang bukan dari ajaran islam.

Belum lagi bila kita masuk lebih dalam, munculnya fanatik hizbiyah, pengelompokan, yang masing masing kelompok dan madzhab berbangga dengan apa yang ada di sisi mereka yang tidak ada di kelompok lain.

Semua ini terjadi sebab utama adalah jauhnya mereka dari bimbingan aqidah dan tauhid yang lurus, dan manhaj yang shahih.
Musuh, wahai saudaraku, hanya akan menimpakan pada anda luka luka dzahir, dari kemiskinan, atau paling banter kematian, mereka tidak akan bisa mengambil dan membuat anda menyimpang, ketika anda berada di atas bimbingan.
Musuh baru bisa menguasai anda, bila anda sedikit demi sedikit mengikuti Millah (agama dan istiadat) mereka, dan meninggalkan secara perlahan agama anda.

Lihatlah saat ini sebagian kaum muslimin,
Bagaimana mereka mengibadati kubur kubur,
meminta kepada orang mati, tidak kepada Allah Rabbnya seluruh alam.

Bagaimana, sebagian orang yang baru membangun tempat usaha dan perdagangan, antri di rumah dukun dukun, dan i’tikaf di tempat tempat angker untuk tabaruk, dan rela tidur di sisi sebuah pohon di gunung kawi untuk menunggu kejatuhan daun, yang bila terjatuh daunnya, ia akan merasa terkabulnya keinginannya.

Sementara, di sisi lain, sebagian orang khusyu di majelis majelis Sufi, majelis kubur, majelis dzikir dan selawatan jama’i, dan antri mencium tangan mursyid thariqohnya.

Di sisi lain, sebagian kaum muslimin, di sibukkan dengan “perjudian” yang di sebut politik demokrasi, membahas semua sisi perpolitikan, fiqih realita, pengambil alihan kekuasaan, saling meninggikan bendera hizbiyah, “memanjat pohon, untuk mendapat kursi”, manusia sibuk dengan opini dan serangan, ghibah, demo, pemilu, massa, dukungan dan semisal dari apa yang di sebut serba serbi politik.

Juga yang tidak kalah menguras tenaga sebagian kita, sibuk dengan dunia yang di sebut internet, ngaji internet, ustad youtube, kajian WA, dan pertemanan “dunia maya” saja.

Sehingga kita sibuk dengan berbantah, saling mencari dalil, mengungulkan apa yang di sebut “viral”, bahkan sampai urusan mengangap seorang ustad atau bukan ustad.

Yang tidak kalah memiriskan hati, kaum muslimin di serang dengan kristenisasi dan permurtadan, aqidah kaum muslimin di tawar dengan harga murah, lebih murah dari “roti seribu rupiah”, seakan tidak ada lagi benteng penjagaan dan ulama atau pemimpin yang membela, seluruh orang di paksa hidup sendiri, dan mengurus diri masing masing.

Juga di perparah dengan simpang siurnya kaum muslimin dengan perdebatan kosong dari ilmu, mengurusi hal yang tidak dan bukan wewenangnya, seorang yang tidak kompeten, kadang anda akan lihat, seakan “syaikh besar” yang bertumpuk kitab, untuk mendebat lawan bicaranya.

Inilah kecarut marutan yang tergambar dan terlihat jelas, oleh setiap pemilik mata dan hati serta ia menyaksikannya.

Wahai para pemuda, betapa tidak menetes air mata ini, betapa tidak tercabik hati ini…
Wahai para pemuda, islam dan kaum muslimin memangilmu…
Iniah saatnya di mana kalian tunjukkan komitmen pada ummat dan agama,

Wahai para pemuda,
Kita akui jalan sangat terjal, kemungkinan kemungkinan semakin menipis, sementara hasil belum tentu, sementara di depanmu, tembok semakin tebal dan jalan hampir tertutup,

Semua lini, terdapat musuh dengan segala makar dan kelicikan,

Hari semakin gelap, dan menuju masa masa udzur nya…

Seakan, tidak mungkin lagi islam dan ummatnya bangkit, tidak mungkin, tidak bisa, tidak mampu…

Musuh terlalu kuat, sementara kita terlalu lemah, dan penyakit semakin mengerogoti…

Di surah Al qasas ayat 5, Allah taala menerangkan tentang kondisi bani israil,

وَنُرِيدُ أَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِى الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِينَ

“Dan kami berkehendak memberi karunia kepada orang orang yang lemah dan tertindas di muka bumi, dan Kami akan jadikan mereka para pemimpin dan orang orang yang akan mewarisi”

Jangan kalian putus asa, Karena keputus asaan bukan sifat orang orang beriman,
Anda memiliki iman kepada Allah dan taqdir Nya.
Orang yang lemah, tidak selamanya lemah, sebagaimana orang kuat, tidak selamanya akan kuat,

Namun, ada satu pembeda antara kita dengan orang kafir,
Kita masih bisa berharap dengan harapan yang kita sandarkan kepada Allah, yang tidak akan bisa di harapkan hal itu oleh orang kafir.

Lalu bagaimana, kita para pemuda mewujudkan kembali kejayaan islam ?

Ummat ini tidak akan jaya, kecuali dengan apa yang menjadikan ummat terdahulunya jaya.
Kami tidak akan membebani anda dengan teori teori yang muluk dan ‘njelimet”,

Namun, mari mulai dengan usaha kecil….

Yakni,

1 Hendaknya kita semua, yang ingin kembali melihat kejayaan ummat dan islam,
Pertama, Mentasfiyah, yakni membersihkan diri dari anasir anasir dari luar islam,
Campakkan semua isme, adat, kekolotan kekolotan pemikiran, dan semua aqidah serta tuntunan yang tidak berasal dari islam.
Kedua, Mentarbiyah, dalam arti mendidik diri dan masyarakat dengan didikan islam, aqidahnya, ibadahnya, muamalahnya, serta adab adabnya.

2 Membersihkan segala anasir anasir yang merusak aqidah,
Dari pemikiran yang menyimpang, dan tindakkan yang menjurus pada kesyirikan,
Menjauhi bid’ah.
Juga berpegang dengan manhaj yang telah di tempuh oleh salaf, yakni Rasul dan shahabatnya (lihat QS Al Baqoroh 2 ayat 137).

3 Meyakini bahwa tujuan dakwah para Rasul adalah menegakkan tauhid, sehingga agama hanya milik Allah, bukan kekuasaan,
Kekuasaan adalah hadiah, bukan tujuan.
Jangan sekali kali tertipu dengan slogan slogan orang partai dan pergerakan,
Yang mengangap dakwah islam adalah politik dan perebutan kursi kekuasaan.
Camkan selalu dalam hati kabar gembira dari pemilik alam semesta, Allah ta’ala, di surah An Nuur surah 24 ayat 55.
Tugas kita mewujudkan tauhid yang lurus, sedang bumi milik Allah taala, di wariskan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan akibat dan kesudahan yang baik bagi orang orang yang bertaqwa.

4 Hendaknya engkau wahai para pemuda, selalu bersemangat belajar,
Hendaknya anda mulai kembali bersimpuh di kaki kaki para ulama dan guru,
Menghadiri majelis majelis ilmu,
Ingat, yang membuat orang kafir ketakutan, bukan bom atau persenjataan kita, namun kehadiran kita dan menghiasinya ilmu dalam kehidupan.
Kembalilah mempelajari warisan salaf berupa ilmu, buka kitab kitab mereka, pelajari ilmu alat,
Arungi samudera ilmu mereka, dari aqidah, fiqih, mumamalah, dan adab adab.
Ingat, tinta ulama sebanding dengan pedang para mujahid!!!.

Jangan tinggalkan mejelis ilmu dengan majelis youtube dan internet.
Carilah Keberkahan ilmu bukan banyaknya -tau.
Setelah itu, setahap demi setahap amalkan yang sudah di ketahui.

5 Fahami, bahwa keterpurukan dan kekalahan ummat ini, bukan di politiknya, bukan di ekonominya, bukan di tata kelola, dan keramahannya.
Bukan!!!,
Tapi, terpuruknya Kaum muslimin saat ini, karena aqidahnya, karena jauhnya mereka dari tuntunan dan manhaj Rasulnya.
Selama masih ada kubur yang di ibadati, selama masih ada doa doa yang di haturkan kepada selain Allah, maka perubahan apapun akan pupus,
Bagaimana kita akan merubah parlemen (???) bila ummat aqidahnya masih percaya dengan tahayul, khurafat, dan amaliyah yang di bangun di atas bid’ah ???.

6 Bila landasan perbaikan, yakni aqidah yang lurus, dan manhaj yang benar, telah di tempuh,
Maka, langkah selanjutnya adalah usahakan islah perbaikan semampumu, dan sesuai lingkup lingkunganmu,
Anda boleh berfikir universal, namun tindakkan anda harus serealistis mugkin,
Seru manusia kepada Rabbnya,
Seru manusia pada tuntunan dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Ajak manusia mengusahakan islah di diri, keluarga, dan masyarakatnya,
Ingat, kita mengajak manusia kepada Allah, bukan pada diri, dan kelompok.

7 Terakhir, yang harus anda ingat wahai para pemuda,
Persatuan kaum muslimin di atas aqidah, bukan kelompok, organisasi atau individu,
Bukan juga “mengumpulkan yang berserak dan berbeda”, tapi persatuan yang haq di atas tauhid dan manhaj pendahulu yang shalih.

🖋 di selesaikan tulisan ini di sepertiga malam yang akhir,
Sabtu 28 Rabi’ul Akhir, 1440 dari hijrahnya Nabi.
oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

🌺🌺💦💦🌺🌺

Instagram : instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah
Artikel : Ukhuwahfillhijrah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *