KAIDAH USHUL FIQH

📚 KAIDAH USHUL FIQH 📚
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

🍀 Kaidah yang ke 22 🍀
➖➖➖➖➖➖➖➖
Apabila ternyata dugaan kuat itu salah, maka hendaknya ia mengulangi agar terlepas tanggungan.

Kaidah ini masih melanjutkan kaidah sebelumnya. Namun ini berhubungan dengan meninggalkan kewajiban.

⚉ Apabila ada orang yang sholat 4 roka’at dengan dugaan kuatnya, setelah itu nyata salahnya dan kurang satu roka’at, maka hendaklah ia menambah satu roka’at.

⚉ Bila ia sholat dengan dugaan kuat belum batal wudlunya, lalu setelah sholat ia ingat bahwa wudlunya telah batal, maka ia wajib mengulanginya.

⚉ Namun apabila tidak mungkin diulangi seperti salah orang ketika membayar zakat, maka itu sudah mencukupi.

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 23 🍀
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Yang dianggap dalam mu’amalah adalah sesuai yang terjadi, bukan sesuai dugaannya.

Telah disebutkan bahwa dugaan kuat dapat digunakan dalam masalah ibadah. Adapun dalam mu’amalah yang dianggap adalah sesuai yang terjadi.

⚉ Apabila si A menjual barang milik B tanpa izinnya. tetapi rupanya B sudah mewakilkan penjualan tanpa sepengetahuan A, maka jual belinya sah.
Walaupun haram bagi A menjual milik B tanpa izinnya.

⚉ Bila C membayarkan hutang B kepada A, maka dianggap lunas walaupun B tak mengetahuinya.

⚉ Bila A menjual milik B tanpa izinnya, ternyata B telah meninggal sebelum terjadinya akad. Dan ternyata A pewaris B maka akadnya sah..
dan sebagainya…

Wallahu a’lam 🌴

🍀 Kaidah yang ke 24 🍀

👉🏼 Keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak dianggap.

Keraguan biasanya terjadi di dua tempat:
1. Ketika ibadah sedang berlangsung.
2. Setelah selesai melakukan ibadah.

Adapun ketika ibadah berlangsung, maka ini pun ada dua macam:
1. Keraguan karena lupa.
2. Keraguan karena was was.

⚉ Bila karena lupa, maka ambillah yang yakin. Contohnya bila ia ragu apakah dua atau tiga roka’at, maka ambil dua dan tambah lagi satu roka’at dan sujud sahwi sebelum salam.

⚉ Bila karena was-was, maka tidak dianggap. Seperti ragu apakah keluar dari duburnya sesuatu atau tidak. Maka ia tidak boleh membatalkan sholatnya hanya karena was-was tersebut.

⚉ Sedangkan bila keraguan itu setelah melakukan perbuatan, maka inipun tidak dianggap.

Contohnya:
⚉ Bila telah selesai wudlu, ia ragu apakah sudah mencuci tangan atau belum.
⚉ Setelah selesai sholat, ia ragu apakah sudah dua roka’at atau tiga roka’at.
⚉ Setelah selesai puasa, ia ragu apakah ia berpuasa qodlo atau bukan. Dan sebagainya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *