Aqidah Manhaj

AQIDAH MANHAJ

🌼 Kaidah yang ke 46 🌼

⚉ Bahwa mereka mengingatkan kaum muslimin dan mewanti-wanti mereka dari fitnah yang menyesatkan.
Ibnul Qayyim membawakan hadits Hudzaifah ibnul Yamaan, dimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

“Fitrah akan di jalin di dalam hati seperti tikar yang dijalin seutas demi seutas, hati mana saja yang menerima fitnah, maka akan di berikan padanya goresan hitam. Dan hati mana saja mengingkari akan diberikan padanya goresan putih”.

Sehingga hati menjadi dua hati, yang pertama hati yang hitam dan kelam, bagaikan cangkir yang di balikkan, sudah tidak lagi mengenal yang ma’ruf, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya saja. Dan hati yang putih tidak ter-mudhorotin oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya).

Kata Ibnul Qayyim disini Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memberikan perumpamaan, dijalinnya fitnah dihati itu seperti tikar, sedikit demi sedikit. Lalu kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam membagi hati menjadi dua, hati yang menerima fitnah, maka lalu ia menjadi hitam dan hati yang menolak fitnah maka iapun menjadi putih. Kata beliau “wal Fitan” dan fitnah-fitnah yang masuk ke hati itu sebabnya adalah akibat penyakit, yaitu penyakit syahwat dan penyakit syubhat.
Maka ketika hati menerima penyakit syahwat atau penyakit syubhat (pemikiran-pemikiran yang menyesatkan) maka ia akan menjadi gelap gulita, sehingga tidak lagi bisa melihat hakikat kebenaran. Maka di zaman sekarang kita banyak melihat para penuntut ilmu sengaja memasukkan syubhat itu ke hatinya, dengan cara membuka situs-situs yang syubhat, website-website yang syubhat atau duduk di majelis-majelis ustadz yang banyak syubhatnya dengan alasan katanya, ambil baiknya dan buang buruknya. Padahal dia belum punya kemampuan ilmu untuk membedakan…

Akibatnya apa ?
Masuklah syubhat tersebut ke dalam hatinya. Sehingga apa yang terjadi ?
Menyebabkan hatinya menjadi kelam, akhirnya apa ?
Ia berada di atas kebingungan, kegelapan, mana yang sebetulnya di atas kebenaran. Yang musibahnya kemudian, kalau hatinya terbalik melihat kebathilan sebagai sebuah kebenaran, dan kebenaran sebagai sebuah kebathilan. Akibat daripada kurangnya keilmuan, sudah begitu di kuasai oleh syubhat dan syahwat.

Oleh karena itulah kewajiban kita, ini merupakan manhaj Salaf, selalu mengingatkan manusia untuk hati-hati jangan sampai kita terjerumus dalam fitnah yang menyesatkan tersebut.

Maka Asatidzah, Ustadz-Ustadz jika mengingatkan tentang kesalahan da’i-da’i yang sedang tenar misalnya.
Kenapa ?
Karena itu syubhat, dan itu bisa membahayakan hati kita, dan syubhat itu menyambar-nyambar… maka bukanlah ustadz-ustadz tersebut sedang karena dengki ataupun mencari ketenaran,… tidak, demi Allah.

Tapi itulah manhaj Salaf, manhaf Ahlussunnah wal Jama’ah untuk mengingatkan manusia daripada fitnah-fitnah yang menyesatkan.

👉🏼 Karena fitnah syubhat dan fitnah syahwat ini adalah 2 fitnah yang sangat berat sekali, yang bisa menyebabkan hati kita bahkan bisa mati, bahkan hati kita menjadi hati yang seperti Rasulullah sebutkan dalam hadits tersebut, tidak lagi bisa mengenal kebaikan, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali sesuai dengan hawa nafsunya saja. Akibat apa ?
Karena hati tersebut tidak dijaga dari fitnah-fitnah yang akan bisa merusaknya.
.
Wallahu a’lam 🌴

🌼 Kaidah yang ke 47 🌼

⚉ Ahlussunnah wal Jama’ah mempunyai keyakinan bahwa diantara tanda ahli bid’ah yang paling tampak adalah “at Talawwun wat Tanaqqul” yaitu yang tidak kokoh di atas sunnah, diatas kebenaran, dia akan mengukuti hawa nafsunya sesuai dengan keinginan hawa nafsu bukan diatas hidayah, tidak pula berusaha untuk menggigit dengan gigi gerahamnya.

Karena memang demikian bid’ah itu menyebabkan seseorang itu bersikap memandang bahwasanya sunnah itu hanya sebatas alternatif saja, bukan satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

👉🏼 Sementara Ahlussunnah menganggap bahwa sunnah itu harga mati, dalam artian tidak ada jalan lain kecuali sunnah Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam.

👉🏼 Dimana jalan menuju Allah dan menuju syurga hanya melalui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, tidak mungkin melalui pemikiran barat ataupun filsafat ataupun ilham dan pikiran-pikiran manusia.

Maka dari itu Ahlussunnah wal Jama’ah menganggap bahwa inilah jalan yang paling harus ditempuh satu-satunya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan pemahaman para Salafush-sholih.

Berkata Abul Faroj Al Hamdani; aku mendengar al-Marwazi berkata Imam Ahmad ditanya tentang hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam

‎إن الله احتجز التوبة صاحب بدعة

“sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari pelaku bid’ah.”

Apa maksudnya ? kata Imam Ahmad, artinya ia tidak di berikan oleh Allah taufiq dan tidak di mudahkan untuk bertaubat, akibat daripada mereka menganggap baik bid’ah.

Kalau orang sudah menganggap (bid’ah) baik, maka bagaimana akan bertaubat, bertaubat itu kalau biasanya ia telah menganggapnya buruk, baru ia akan bertaubat dan kembali, tapi ketika selama ia menganggap itu perbuatannya baik dan bagus, sesuai dengan akal pikirannya, maka ia tidak akan bertaubat, dan pasti akan dipersulit taubatnya. Artinya tidak akan diberi taufiq untuk bertaubat.

Oleh karena itu disebutkan oleh Al Imam Ibnul Qayyim, dalam Ibnu Taimiyyah – Majmu Fatawa jilid 10 halaman 9 (atau jilid 9 halaman 10) dimana beliau berkata :

“Oleh karena itu para Ulama Islam seperti Sofyan as-Tsaury dan yang lainnya berkata :

“Sesungguhnya bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis daripada maksiat.”

‎لا يُتاب منها

“karena perbuatan bid’ah menjadikan seseorang itu tidak akan bertaubat.”

‎والمعصية يُتاب منها

“Sedangkan orang berbuat maksiat memandang itu buruk sehingga ada kemungkinan kuat untuk bertaubat.”

Kemudian beliau berkata, “…dan perkataan para ulama bahwa bid’ah itu tidak diberikan padanya taubat artinya orang ahli bid’ah yang mengambil agamanya dengan sesuatu yang Allah tidak syari’atkan dan tidak pula Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam syariatkan, itu telah dihiaskan kepadanya amalannya tersebut sehingga ia menganggapnya baik, dan tidak mungkin ia bertaubat selama ia menganggapnya baik….”

At-Taubat itu awalnya di mulai dari seseorang menganggap sesuatu itu buruk, maka demikian orang yang berbuat bid’ah dia akan menganggap baik semua perkara yang ternyata TIDAK PERNAH disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam. Sehingga orang seperti ini bagaimana akan kokoh diatas sunnah, diatas jalan Salafush-sholih.

👉🏼 Maka dia akan Talawwun (berganti-ganti aqidah), Tanaqqul (berpindah-pindah) sehingga ia tidak diberikan oleh Allah keistiqomahan, akibat daripada terkena syubhat-syubhat yang menyebabkan akhirnya ia tidak bisa istiqamah diatasnya.

Wallahu a’lam 🌴

🌼 Kaidah yang ke 48 🌼

⚉ Merupakan Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu bergaul, bermuamalah dengan akhlaq, kejujuran, penuh amanah dan nasehat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS An Nisaa : 81]

‎وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

“Mereka orang-orang munafik itu berkata: kami taat, apabila mereka keluar dari sisimu, diantara mereka ada yang tidak jujur, artinya mengucapkan apa yang tidak ada pada hati mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka tersebut, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai wakil.”

Berkata orang-orang kepada Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, sesungguhnya kami masuk kepada penguasa kami dan kami mengucapkan kepada mereka tidak sesuai dengan apa yang ada di hati kami, ketika kami keluar dari sisi penguasa. Artinya ketika ketemu dengan penguasa Ucapannya A tapi keluar dari mereka ucapannya B.

Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa mengatakan kami dahulu menganggap itu adalah sikap munafik [dikeluarkan oleh Imam Bukhori].

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Seorang mukmin apabila berada diantara orang-orang kafir dan orang-orang yang jahat, sementara ia tidak mampu untuk menjihadi mereka dengan tangannya karena dia tidak mampu, tapi apabila ia mampu ia dengan menjihadi mereka dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan ia tidak pernah berdusta dan mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hatinya atau ia memperlihatkan agamanya, atau ia menyembunyikan agamanya.”

Namun bukan berarti dia menyesuai agama mereka, akan tetapi sama halnya dengan mukmin di zaman Fir’aun dan istri Fir’aun yang tidak menyetujui agamanya Fir’aun.
Namun mereka tidak berdusta, tidak juga mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada di hatinya. Bahkan mereka menyembunyikan imannya karena takut. Dan menyembunyikan agama itu sesuatu yang lain. Beda dengan memperlihatkan agama yang bathil, karena itu perkara yang berbeda.

👉🏼 Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membolehkan, memperlihatkan ucapan yang bathil atau kekufuran. Kecuali kalau dipaksa, dimana di bolehkan berucap kekufuran, karena terpaksa.
Karena waktu itu Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhumaa dipaksa, disiksa akhirnya terpaksa ia mengucapkannya, maka Allah mema’afkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara munafik dan orang yang di paksa.
Sementara ahli bid’ah jenis mereka sama dengan orang-orang munafiqin, seperti halnya orang syi’ah. Mereka berbicara didepan Ahlussunnah tidak sesuai dengan apa yang ada dihati mereka. Di depan ahlussunnah berbicaranya “A” tapi dibelakang mereka bicaranya “B”.

Demikian pula keadaan ahli bid’ah yang lainnya, mereka itu terkadang bermuka dua.

Kata beliau ( Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى ): “Adapun orang-orang rafidhoh, orang syi’ah, ia tidaklah bergaul dengan seseorang terutama dari kalangan Ahlussunnah, kecuali pasti menggunakan sikap nifaq (kemunafikan), karena agama mereka rusak. Mereka menganggap dusta itu halal.”
Mereka menganggap dusta itu bahkan bagian dari agama mereka, sehingga dusta itu menjadi syi’ar mereka. Itulah orang-orang syi’ah dan rafidhoh.

👉🏼 Maka sungguh sangat aneh orang-orang yang percaya kepada orang-orang syi’ah rofidhoh. Karena mereka adalah kaum yang menghalalkan dusta, terutama terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

 

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *