Kaidah ke 37, 38, 39

🌼 Kaidah yang ke 37 🌼
.
( simak audio di link berikut ) : http://bbg-alilmu.com/archives/37817
.
⚉ Orang-orang yang menyelisihi jalan salaf, mereka pasti jatuh kepada sikap ghuluw (berlebih-lebihan) atau kebalikan, yaitu sikap terlalu meremehkan
.
Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Ma’idah : 77]
.
‎يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
.
“Hai Ahli Kitab, jangan kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dengan tanpa haq. Dan jangan mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat sebelumnya dan menyesatkan banyak manusia dan tersesat dari jalan yang benar.”
..
Di sini Allah menyebutkan bahwa orang-orang ahli kitab itu bersikap ghuluw ( berlebih-lebihan ) dalam agama, maka kita kaum muslimin di larang untuk mengikuti cara beragama mereka yang berlebih-lebihan tersebut.
Demikian pula sikap kebalikan daripada ghuluw yaitu meremehkan,ini pun perkara yang tidak dibenarkan dalam syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Banyak ahli bid’ah seperti khawarij, rafidhah, qodariyah, jahmiyyah meyakini sebuah keyakinan, sebetulnya itu sesat tapi mereka pandang dari sebuah kebenaran.”
Lalu mereka mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, sehingga mereka ada keserupaan dengan orang-orang ahli kitab.
Dimana mereka, dimana orang-orang ahli kitab itu kufur kepada kebenaran dan zalim kepada makhluk, demikian pula mereka, mereka menyimpang dari kebenaran, bahkan menzalimi orang lain dengan mengkafirkan orang-orang yang tidak setuju dengan pendapatnya.
.
Sementara sudah begitu kata mereka, (kata beliau – Syaikh Al Ubailaan): “sudah begitu mereka yang mengkafirkan orang-orang yang menyelisihinya, tidak memahami dengan benar tentang keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah atau mereka hanya mengetahui sebagiannya saja, sebagiannya lagi tidak faham.”
.
Kalau pun mereka tahu, mereka tidak menjelaskannya kepada manusia bahkan menyembunyikannya.
Nah inilah keserupaan mereka. Berbeda tentunya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ahlussunnah wal Jama’ah mereka orang paling tahu tentang kebenaran dan paling sayang kepada makhluk, Ahlussunnah tidak mudah mengkafirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka, kecuali orang-orang yang tentunya dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
.
Beliau juga berkata, oleh karena itu kamu akan dapati banyak dari mereka (orang-orang ahli bid’ah para pengikut hawa nafsu itu), karena belum jelas kepada mereka petunjuk, maka ia pun mundur ke belakang.
Lalu ia pun sibuk dengan mengikuti syahawat yang menyesatkan dalam perut dan kemaluannya.
Atau syahwat terhadap kedudukan atau hartanya atau yang lainnya.
Kenapa ?
Karena kurangnya keilmuan dan keyakinan mereka.
.
Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits Imam Ahmad : “Sesungguhnya di antara perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian, yaitu syahwat yang menyesatkan, pada perut kalian dan kemaluan kalian dan fitnah yang menyesatkan.”
Ibnu Taimiyah mengucapkan itu dalam Majmu Fatawa dalam jilid 12 halaman 467.
.
Oleh karena itulah salaf terdahulu berkata:
.
‎احْذَرُوا فتْنَة الْعَالم الْفَاجِر
.
“hati-hatilah kalian dengan (1) fitnah orang alim yang fajir, yang tidak mengamalkan ilmunya dan (2) fitnah orang yang ahli ibadah tapi bodoh.”
.
Karena fitnah 2 orang ini fitnah untuk setiap orang-orang yang mudah terkena fitnah, sebagaimana kita lihat di zaman sekarang, banyak orang yang mudah terkena subhat, pemikiran yang menyesatkan akibat kurangnya keilmuan mereka.
⚉ Sudah dia kurang paham hakikat aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, sudah begitu tasawwur dia.
⚉ Penggambarannya dia tentang Ahlussunnah pun juga salah.
⚉ Ahkirnya kita dapati setiap Ustadz yang membawakan Alqur’an dan Hadits dianggapnya Ahlussunnah wal Jama’ah, padahal belum tentu keyakinannya sesuai dengan keyakinan Ahlussunnah di wal Jama’ah.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 38 🌼
.
( simak audio di link berikut ) : http://bbg-alilmu.com/archives/37857
.
⚉ Orang-orang yang menyelisihi Salafus Shalih itu sebetulnya telah membuka pintu untuk musuh-musuh Islam untuk meragukan Islam, untuk merusak Islam.
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS Al-Ma’idah : 51]
.
‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ
.
“Hai orang-orang yang beriman jangan kamu jadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali kalian“
.
‎بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
.
“sebagian mereka adalah wali untuk sebagian yang lain“
.
‎وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
.
“siapa diantara kalian yang memberikan loyalitas kepada mereka maka sesungguhnya ia bagian dari mereka“
.
‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
.
“sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang zalim.”
.
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
“Mereka orang-orang ahli bid’ah itu yang tidak mau mengikuti pemahaman Salafus Shalih bukan hanya menutup pintu atas diri mereka untuk membantah musuh-musuh Islam, bahkan mereka malah membuka pintu musuh-musuh Islam dalam rangka memerangi Alqur’an dan Sunnah.
.
Ketika musuh-musuh Islam masuk dari pintu mereka, maka mereka akhirnya marah menjadi pembantu-pembantu musuh-musuh Islam, memerangi wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
.
Kalau kita perhatikan apa yang dikatakan Al Imam Ibnul Qayyim itu benar, sebuah contoh misalnya:
.
⚉ Pemikiran khawarij yang menyatakan kafir pelaku-pelaku dosa besar dan kemudian menganggap bahwa orang pemimipin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, Kafir secara mutlak.
Ini menjadi pintu untuk orang-orang kafirin masuk memerangi dan merusak Islam dari sisi sini.
.
Sehingga mereka masuk dengan pura-pura masuk Islam, pura-pura memperlihatkan ketaqwaan, lalu kemudian mengkafir-kafirkan kaum muslimin dengan hujjah karena mereka tidak berhukum dengan hukum Allah dan yang lainnya.
Akhirnya mengkafirkan, akhirnya menghalalkan darah, kalau sudah halal darah, akhirnya membuka pintu untuk bom bunuh diri dan yang lainnya.
.
⚉ Murji’ah yang mengatakan bahwa amal tidak termasuk iman dan mengatakan yang penting hatinya baik, yang penting dia punya keyakinan…. “selesai”
Masalah amal baik atau buruk itu mereka tidak peduli yang penting hatinya baik.
.
Ini juga menjadi pintu yang sangat empuk dari musuh-musuh Islam untuk merusak Islam dan kaum muslimin sehingga mereka memberikan pemahaman kepada kaum muslimin bahwa beramal sholeh itu tidak penting, yang penting hatinya baik, yang penting yakin kepada Allah…”selesai”.
Akhirnya banyak kaum muslimin meremehkan amal, meninggalkan amal, bahkan berbuat maksiat dengan alasan bahwa yang penting hatinya baik.
.
⚉ Demikian pula orang-orang mu’tazilah yang mendewakan akal membuka pintu untuk orang-orang musuh-musuh Islam merusak Islam.
“Dari pintu apa ?”
Dari pintu akal bahwa katanya akal itu harus lebih didahulukan.
Sehingga akhirnya Alqur’an dan Hadits ditolak hanya karena tidak sesuai dengan akal.
Maka ini menjadi permainan orang-orang kafirin untuk menghancurkan Islam.
Makanya munculnya liberal.
Itu dari pintu seperti itu, menggunakan akal-akal mereka untuk menolak wahyu.
.
⚉ Demikian Tassawuf yang mengatakan bahwa kalau seorang sudah sampai derajat wali ( ma’rifattullah ) tidak perlu mengikuti syari’at Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam
Bahwasanya wali itu tidak mungkin salah, maka kemudian itu menjadi pintu musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam, mereka masuk, pura-pura masuk Islam lalu mengaku-ngaku sebagai wali, kalau sudah jadi wali dan dianggap sebagai orang yang maksum tidak mungkin salah.
Disitulah mereka mengutak-atik Islam, merusak Islam.
.
👉🏼 Makanya semua pemikiran kebid’ahan pasti membuka pintu untuk orang-orang kafir yang merusak Islam.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 39 🌼
.
( simak audio di link berikut ) : http://bbg-alilmu.com/archives/37868
.
⚉ Pengaruh bid’ah itu akan tampak pada wajah mereka dan lisan mereka.
.
Allah Ta’ala berfirman [QS. Muhammad: 30]
.
‎وَلَوْ نَشَآءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ
.
“Kalaulah Kami kehendaki, Kami akan perlihatkan kepada mereka kepadamu tentang mereka dan kamu akan mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka. Dan kamu akan mengenal mereka dalam ucapan-ucapan mereka dan Allah mengetahui amalan kamu.“
.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah:
”Orang yang jujur dan banyak berbuat kebaikan akan tampak di wajahnya cahaya kejujurannya. Demikian pula orang yang suka berdusta dan suka berbuat dosa semakin panjang umur seseorang akan sampai, semakin tampak bekas atau pengaruh tersebut”.
.
Terkadang ada anak kecil, waktu kecilnya itu wajahnya bagus, tapi karena dia banyak berbuat dosa setelah besarnya, terus menerus berbuat dosa, ternyata apa yang terjadi di akhir umurnya terlihat wajahnya buruk, akibat pengaruh daripada apa yang ada di batinnya.
.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa yang berkata:
.
‎إن للحسنة ضياء في الوجه، ونورا في القلب، وسعة في الرزق، وقوة في البدن، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة سوادا في الوجه، وظلمة في القبر والقلب، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق).”
.
“Sesungguhnya perbuatan kebaikan itu menimbulkan cahaya di hati dan akan terlihat kegembiraan di wajah, kekuatan di badan, keluasan dalam rezeki, dan cinta di hati-hati makhluk.
Dan sesungguhnya keburukan itu akan menimbulkan kegelapan di hati, hitam di wajah, lemah di badan dan di jadikan hati-hati makhluk benci kepadanya.”
.
Subhaanallah… hal seperti ini bisa kita saksikan juga, kalau kita perhatikan orang-orang yang banyak berbuat dosa, terlihat wajah mereka itu tidak enak kita pandang. Orang-orang yang hatinya juga keyakinannya jelek terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.
Kata beliau ( Ibnu Taimiyyah lagi ):
“Terkadang seseorang itu tidak sengaja berdusta akan tetapi ia punya keyakinan-keyakinan yang bathil, yang dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya dan agamanya dan hak hamba-hambanya yang sholeh, namun ia mempunyai kezuhudan dan ibadah dan kesungguhan dalam ibadah akan tetapi keyakinan yang dusta tersebut memberikan pengaruh dalam batinnya akan tampak pada wajahnya.”
.
Sehingga sebagian salaf berkata : “Kalaulah pelaku bid’ah itu, ahli bid’ah itu memakai minyak setiap hari, minyak rambut ataupun pemutih wajah, ataupun yang lainnya, maka sesungguhnya hitamnya kebid’ahan itu akan tampak pada wajah mereka.”
.
Dan itu pada hari kiamat akan tampak secara sempurna sebagaimana Allah berfirman [QS. Az-Zumar: 60]
.
‎وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ
.
“Pada hari kiamat nanti kamu akan melihat orang-orang yang berdusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka itu hitam.”
.
👉🏼 Lihat Allah mengatakan bahwa orang-orang yang berdusta atas nama Allah, kelak pada hari kiamat wajahnya hitam.
Berdusta atas nama Allah, maksudnya berbicara dalam agama dengan tanpa ilmu tanpa hak dengan kebatilan.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 40 🌼
.
( simak audio di link berikut ) : http://bbg-alilmu.com/archives/37871
.
⚉ Alhussunnah meyakini bahwa mengatur manusia, maksudnya yaitu berhubungan dengan politik wajib sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan pemahaman Salafush Sholih.
.
Maka mereka tidak pernah menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan alasan memberikan kemudahan kepada manusia atau untuk menarik simpati mereka.
Atau dalam rangka sampai pada kedudukan, sehingga mereka jatuh di hadapan syahwat dan tipuan-tipuan media (i’lan alqodir)
.
Jadi ini keyakinan yang harus diyakini, bahwa masalah siyasah/politik, yang tentunya politik dalam Islam tujuannya adalah untuk mengatur manusia untuk lebih kemaslahatan yang besar dan menghindarkan dari mereka kemudhorotan.
Itu semua harus sesuai dengan Alqur’an dan Hadits. Tidak boleh di sesuaikan dengan hawa nafsu manusia, harus sesuai dengan pemahaman para Salafush Sholih, tidak boleh di sesuaikan dengan pemahaman sendiri-sendiri.
.
👉🏼 Maka tidak boleh ada istilah namanya tujuan menghalalkan segala cara, akhirnya yang haram jadi halal dulu demi untuk mendapatkan kedudukan.
Maka yang seperti ini jelas sama sekali bukan untuk menegakkan agama, justru hal seperti itu hanya merusak agama.
.
Oleh karena itulah saudara-saudaraku sekalian, seperti di zaman sekarang, yang namanya politik penuh dengan kelicikan, saling menjatuhkan, sudah begitu banyak mereka yang masuk dalam dunia politik pasti tidak lepas dari kotoran-kotoran berupa menghalalkan apa yang Allah haramkan.
.
Karena mereka harus mendapatkan suara, sementara untuk mendapatkan suara pasti mau tidak mau harus ikut-ikutan dulu dengan keinginan manusia, akhirnya mereka ikut-ikutan berbuat bid’ah, bahkan mereka sudah hilang wala’ dan baro’ lagi, demi untuk mendapatkan apa?… kedudukan
Sehingga apa yang terjadi ?… yang terjadi hukum-hukum agama di injak-injak hanya untuk mendapatkan kedudukan…. Allahul musta’aan.
.
👉🏼 Maka kewajiban para Ulama hendaklah mereka tegak diatas Kitabullah dan Sunnah Rasulillah shallallahu ‘alayhi wasallam
.
⚉ para ulama hendaknya tidak mendatangi pintu-pintu penguasa
⚉ hendaknya para ulama menasehati mereka, aga mereka itu betul-betul bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka janganlah tentunya demi untuk mendapatkan kedudukan atau simpati manusia atau suara, akhirnya batasan-batasan agama sudah tidak diperhatikan lagi.
.
Ibnul Qayyim rohimahullah berkata:
“Orang yang mempunyai pengalaman terhadap apa yang Allah utus dengan Rasul-Nya, dan mempunyai pengetahuan tentang kehidupan para sahabat, ia akan melihat ternyata di zaman sekarang ini, orang yang dianggap agamis, justru orang-orang yang sebetulnya paling sedikit agamanya.”
.
Maksudnya kata beliau, contohnya:
⚉ Ketika ia melihat keharaman-keharaman Allah …..dilanggar.
⚉ Batasan-batasan Allah ……di sia-siakan.
⚉ Agama-agama Allah ….di hina.
⚉ Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ……dijauhi,
Tapi ternyata hatinya dingin, lisannya diam bagaikan setan yang bisu, karena takut, karena khawatir kedudukannya jatuh, karena takut kehilangan pengikut dan yang lainnya, akhirnya diam seribu bahasa.
.
Maka kata beliau (Ibnul Qayyim):
👉🏼 Maka kebaikan-kebaikan apa pada orang seperti ini dalam agama, kalau ternyata ketika ia melihat semua itu dia diam, dan dia tidak berusaha untuk memberikan nasehat, tidak berusaha sekuat tenaga untuk mengadakan islah perbaikan dan perubahan.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

🌼 Kaidah yang ke 41 🌼
.
( simak audio di link berikut ) : http://bbg-alilmu.com/archives/37943
.
.
⚉ Bahwasanya mereka memandang termasuk wasilah syar’iyyah dalam dakwah adalah berbicara di hadapan manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.
.
⚉ Adapun kemudian menyama-ratakan dalam mengajak bicara kepada manusia dalam selain perkara-perkara yang sifatnya fardu ‘ain , itu bukanlah manhaj para nabi.
.
Tapi terkadang ada sebagian orang, sebagian Ustadz tidak membedakan ketika berbicara dengan orang yang sangat awam atau orang yang berkedudukan atau orang berpendidikan, sama saja.
.
Maka ini jelas bukan manhaj yang benar.
.
👉🏼 Manhaj yang benar itu melihat dengan siapa kita berbicara, maka kita sampaikan sesuai dengan pemahaman mereka, sesuai dengan keilmuan mereka.
.
Tidak setiap ilmu bisa kita sampaikan kepada setiap orang, terkadang kita tidak menyampaikan dulu kepada sebagian orang karena khawatir akan muncul fitnah.

Allah Ta’ala berfirman [QS. An Nahl: 125]:

‎ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah dengan jalan Rabb-mu dengan penuh hikmah dan peringatan yang baik

‎وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
.
dan debat lah mereka dengan yang lebih baik
.
‎إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ
.
Sesungguhnya Rabb-mu, lebih tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
.
‎وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
.
dan Dia lebih tahu tentang orang yang mendapatkan hidayah
.
Imam Al Bukhori berkata dalam Shohihnya, Kitabul ‘Ilm,
.
‎با ب مَنْ خَصَّ باِلْعِلْمِ قَوْ م كَرَ١ هِيَةَ أَ نْ لا يَفْمَوا
.
(Bab orang yang mengkhususkan ilmu dengan suatu kaum saja tanpa kaum yang lain karena khawatir mereka tidak paham).
.
Dan Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu berkata,
.
‎حدثوا الناس بما يعرفون
.
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka
.
‎أتحبون أن يكذب الله ورسوله
.
Apakah kamu suka Allah dan Rasul-Nya di dustakan ?”
.
Artinya, Imam Bukhori disini memberikan kepada kita pemahaman, boleh kita mengkhususkan pembicaraan suatu ilmu kepada suatu kaum tanpa kaum yang lain, kalau memang ilmu tersebut kalau di sampaikan kepada orang awam akan di fahami dengan tidak baik dan tidak benar.
.
Kemudian Imam Bukhori berkata:
.
‎حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ
.
Ia berkata Abi (Ayahku) dari Qatadah, ia berkata, bercerita kepada kami [Anas bin Malik] bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dan Mu’adz membonceng di belakang Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Lalu Nabi memanggil: “Hai Mu’adz bin Jabal !” Maka Mu’adz menjawab :
.
‎لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ
.
Kemudian Rasulullah bersabda:
.
‎مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
.
“Tidak ada seorangpun yang bersyahadat
.
‎لا إله إلا الله محمد رسول الله,
.
dengan penuh kejujuran dari hatinya kecuali Allah akan haramkan dari api neraka.”
Lalu Mu’adz berkata, “Ya Rasulullah bolehkah aku mengabarkan berita gembira ini kepada manusia ?”
Kata Rasulullah:
.
‎لا إله إلا الله ‎إِذًا يَتَّكِلُوا
.
“Jangan, kalau begitu mereka tidak mau beramal, maksudnya hanya mengandalkan syahadat.”
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *