Nasehat Bagi yang Baru Hijrah

Nasehat Buat yang Baru Hijroh

Assalamu’alaikum, mohon nasehatnya ustadz untuk saudara-saudara kami yang baru hijroh dan baru mengenal sunnah? Jazakumullahu khoiron.

Jawab: Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Nikmat paling besar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya adalah nikmat berupa hidayah tawfiq yaitu petunjuk dari Allah untuk mengamalkan ajaran Islam sesuai yang dicontohkan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

Hidayah tawfiq ini yang selalu kita mohonkan dalam sholat sehari semalam saat melafalkan, “Ihdinasshirothol mustaqim” (Ya Allah tunjukilah kami kepada jalan yang lurus). Yaitu jalannya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan para shohabat beliau sebagaimana yang dijelaskan oleh Abul Aliyah Ar-Riyahi salah seorang Ulama dari kalangan tabiin.

Adapun nasehat yang dapat kami sampaikan untuk saudara-saudara kami yang baru hijroh antara lain sebagai berikut:

1. Ikhlaskan niat karena Allah karena ikhlas merupakan syarat diterimanya amalan. Dari Umar bin Al-Khotthob bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“Hanyalah nilai setiap amalan itu bergantung dengan niatnya dan bagi setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang niat hijrohnya karena Allah dan Rosul-Nya maka hijrohnya dinilai untuk Allah dan Rosul-Nya, dan barangsiapa yang niat hijrohnya karena dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka nilai hijrohnya itu sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori 1/9 dan Muslim 1907)

Berhijroh meninggalkan segala sesuatu yang dilarang dan menjalankan apa yang diperintahkan haruslah ikhlas motivasinya karena Allah. Amalan yang dibangun di atas pondasi keikhlasan tidak mudah goyah dan akan berkesinambungan. Para Ulama berkata:

ما كان لله يبقى

“Amalan yang diniatkan karena Allah akan berkelanjutan.”

Sedangkan amalan yang diniatkan karena selain Allah, dunia yang menjadi motivasinya, atau hanya sekedar ikut-ikutan, maka akan sirna, pelakunya gampang mengeluh dan berubah-ubah sesuai keadaan.

2. Sibuk mempelajari ilmu syar’i utamanya ilmu yang berhubungan dengan masalah aqidah yang meliputi tauhid dan manhaj dalam beragama. Ilmu ini yang menjadi tahapan utama dalam tholabul ‘ilmi. Kedudukannya laksana pondasi bagi sebuah bangunan, apabila semakin kuat pondasinya maka akan semakin kokoh bangunan amalnya.

Sedangkan orang-orang yang mengabaikan aqidah maka tidak menutup kemungkinan dia akan bergeser dari jalan hijrohnya. Pikiran jahiliyahnya di masa silam akan muncul kembali seperti yang dialami oleh sebagian shohabat yang baru masuk Islam, mereka minta kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam agar menjadikan “Dzatu Anwath” (pohon keramat) bagi mereka seperti yang dipunyai oleh kaum musyrikin, maka beliau pun mengingkarinya

3. Mencari pembimbing yang dikenal baik berjalan di atas manhaj dan aqidah Ahlussunnah. Bukan dari kalangan ahli bid’ah, pendusta, maupun orang yang bukan ahlinya, karena sesungguhnya ilmu ini agama. Al-Imam Muhammad bin Sirin berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذوا دينكم

“Ilmu ini adalah agama maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqoddimah Shohih Muslim)

Hal ini telah disepakati oleh para Ulama. Adapun menerima kebenaran bisa dari siapa saja selama kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiyyah menurut dalil.

4. Selektif dalam bergaul karena tidak sedikit orang yang belok dari jalan hijrohnya lantaran salah pergaulan. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam memberi permisalan kawan yang baik bagai penjual minyak wangi, meski engkau tidak mendapat minyaknya, minimal engkau merasakan aromanya. Sedangkan kawan yang jelek bagai seorang pandai besi, meski engkau selamat dari apinya, minimal engkau terkena baunya.

Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam juga mengingatkan:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama seseorang bergantung dengan agama sahabatnya maka hendaklah kalian perhatikan siapakah yang kalian jadikan sebagai sahabat.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani dalam “Ash-Shohihah” 927)

Pertimbangkanlah dengan matang apakah keberadaanmu dapat berpengaruh dalam kebaikan atau malah dipengaruhi oleh keburukan mereka?

5. Berupaya memperbaiki penampilan sesuai petunjuk syariat sebagai wujud ketaatan, perbaikan dan memelihara syiar Islam meski disadari diri masih banyak kekurangan dan kelemahan. Para Ulama berkata:

أن فساد الظاهر دليل على فساد الباطن

“Bahwa jeleknya perkara yang lahir sebagai bukti jeleknya batin.”

Amalan lahir dan amalan batin dua hal yang saling berkaitan satu sama lain sebagaimana yang disabdakan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, “Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, jika dia baik maka akan menjadi baiklah seluruh jasad, jika dia rusak maka akan menjadi rusaklah seluruh jasad, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” 

6. Jauhi perdebatan dan berkomentar dalam hal yang bukan kapasitasnya. Debat yang dimaksud di sini adalah debat yang tercela, yaitu debat logika yang jauh dari ilmu dan pemahaman. Perbuatan seperti itu akan mengeraskan hati, mewariskan kemunafikan, dan melalaikan diri dari hal-hal yang bermanfaat.

Orang yang baru hijroh lebih berhajat kepada ilmu dengan belajar dan bertanya kepada para ahli terkait masalah-masalah ilmiyyah yang dibutuhkannya. Tinggalkan perdebatan dan mengomentari segala perkara. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan:

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقا

“Aku menjamin sebuah rumah di bagian depan surga bagi orang yang meninggalkan miro’ (debat logika) meski dia sebagai pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shohihah” 273)

7. Banyak berdoa kepada Allah agar diberi keistiqomahan dalam menggigit sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam serta bersabar dalam menghadapi segala ujian. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر

“Kelak akan datang suatu zaman pada manusia dimana orang yang sabar memegang agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Silsilah Ash-Shohihah” 957)

Adapun doa yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shohih At-Tirmidzi” 2140)

Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *