KITABUT TAUHID MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 11. LARANGAN DARI MINTA HUJAN DENGAN NAU’ (نَوْءٌ) atau ANWA’ (اْلأَنْوَاءُ)

(اْلأَنْوَاءُ) adalah jamak dari (نَوْءٌ), artinya bintang-bintang

Allahu ta’ala berfirman dalam QS. Al Waqi’ah ayat 68-70 :

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ
68. Tidakkah kalian melihat air yang kalian minum.

أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ
69. Apakah kalian yang menurunkan air hujan tersebut dari awan atau Kamikah yang menurunkannya?

لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ
70. Kalaulah Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan air hujan itu asin, maka tidakkah engkau bersyukur kepada Allah?

Rasulullah ﷺ bersabda, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

لاَ عَدْوَى وَلاَ هَامَةَ وَلاَ نَوْءَ وَلاَ صَفَرَ
“Tidak ada penyakit yang menular, tidak pula haamah (burung hantu) , naw-u (pengaruh bintang) ,tidak ada kesialan dibulan Safar”
HR. MUSLIM

Nau’ (pengaruh bintang), dimana orang-orang musyrikin Arab mempunyai keyakinan bahwa terjadinya hujan karena bintang ini dan itu.

وَلاَ صَفَرَ : Artinya tidak ada kesialan di bulan Safar. Karena bulan tidak bisa memberikan kesialan.

dari Abu Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ (رواه مسلم)

”Ada 4 perkara dari umatku, dari perkara jahiliyyah yang mereka tidak meninggalkannya yaitu ;

Berbangga dengan nasab / keturunan (berbangga dengan kedudukan), mencela nasab (keturunan orang lain), meminta hujan dengan (perantaraan) bintang-bintang, dan meratapi mayat”
HR. MUSLIM

Dan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :

”4 perkara dari umatku, dari perkara jahiliyyah yang mereka tidak tinggalkan, diantaranya yaitu al-anwa’
— مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا —
ucapan mereka : ‘bahwa kita dihujani dengan bintang ini dan itu.’ )”
HR. TIRMIDZI

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani dia berkata:
قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي إِثْرِ السَّمَاءِ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ ‏”‏ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ‏”‏ ‏.‏ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ ‏.‏ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ ‏”‏

Rasulullahﷺ mengimami kami sholat subuh di Hudaibiyyah, dimana tadi malamnya hujan. Setelah selesai sholat, Rasulullah ﷺ menghadap kepada manusia dan berkata:

”Tahukah kalian apa yang diucapkan oleh Rabb kalian?”

Mereka berkata : ”Allah dan rasul-Nya lebih tahu.

Rasulullah bersabda ; Allah berfirman : [ Masuk di pagi hari dari hamba-hamba Ku ada yang beriman dan ada yang kafir. Adapun orang yang berkata, “kita dihujani oleh karunia Allah dan rahmat-NYA”, maka itu adalah orang yang beriman kepada-KU dan kafir kepada bintang-bintang.]
[ Adapun orang yang berkata, “kita dihujani dengan bintang ini dan itu”, maka itu adalah orang yang kafir kepada-KU dan beriman kepada bintang – bintang.]
HR. BUKHARI MUSLIM

‼Hadits- hadits ini menunjukkan haramnya menisbatkan hujan kepada bintang.

Dan menisbatkan hujan kepada bintang;
Kalau maksudnya bahwa bintanglah yang menurunkannya, maka ini jelas kufur dan pelakunya adalah musyrik.

Kalau maksudnya bahwa Allah yang menurunkan tetapi bintang punya pengaruh, maka ini pun juga kufur dan syirik besar.

Kalau maksudnya, bintang adalah sebagai sebab turunnya hujan, ini juga perkara yang tidak benar. Karena bintang tidak memiliki manfaat dan mudhorot sama sekali.

Tetapi kalau maksudnya yaitu dari hasil pengalaman;
🔸”Kalau muncul bintang ini biasanya akan turun hujan, atau datang musim hujan.”
🔸 “Kalau ada bintang itu biasanya akan begini,”
Maka yang seperti ini diperbolehkan.

Namun tidak boleh kita menggunakan kata-kata “kita dihujani dengan bintang ini.” tidak demikian

Tapi yang benar, kata Imam Syafii : Kita katakan “Kita dihujani pada waktu begini dan begitu.”

Dalil yang menunjukkan bahwa itu boleh; adalah perkataan Umar pada hari Jumat diatas mimbar.

Umar mengatakan : “Berapa tersisa lagi dari bintang Tsurayya?”
Maka Abbas bangkit dan berkata, “Tidak tersisa sedikitpun juga kecuali bintang Uwa’.”
Maka kemudian beliaupun berdoa dan orang-orang pun berdoa hingga turunlah air hujan.

Artinya, seperti yang sudah kita sebutkan tadi;
Kalau kita mengatakan secara pengalaman, “Biasanya sih kalau ada bintang ini maka akan musim hujan dan yang lainnya…”

; Bukan karena meyakini bintang itu punya pengaruh, atau karena sebab bintang, atau bahkan sebab yang menurunkan hujan adalah bintang, —tidak sama sekali—, tapi hanya sebatas sesuatu yang biasa terjadi demikian secara pengalaman.

wallahu a’lam
__________

‎﷽

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 12. LARANGAN MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH DAN TERLAKNAT ORANG YANG MELAKUKANNYA.

Menyembelih termasuk ibadah, maka memalingkan menyembelih kepada selain Allah termasuk kesyirikan.

Allahu ta’ala berfirman dalam QS. Al An’am ayat 162 -163:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabbul ‘a alamiin (Tuhan semesta alam).”

لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Tiada sekutu bagi-Nya; untuk itulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama kali Islam”.

Allahu ta’ala juga berfirman dalam QS. Al Kautsar ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah untuk Rabb mu; dan sembelihlah.”

Ini menunjukkan bahwa sembelih itu adalah ibadah yang hanya ditujukan untuk Allah saja.

Dan Allah mewajibkan untuk menyembelih dengan nama Allah. Dan mengharamkan setiap binatang yang disembelih untuk nama selain Allah atau untuk selain Allah.

Allahu ta’ala berfirman dalam QS. An Nahl ayat 115:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

”Sesungguhnya yang diharamkan atas kalian adalah bangkai, darah, daging babi, dan apa-apa yang disembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala.”

—> Seperti untuk kuburan, atau untuk selain Allah. walaupun menyembelihnya dengan nama Allah tapi kalau untuk selain Allah ; _untuk mayat yang ada dikuburan misalnya._
Maka itu adalah merupakan syirik dan tidak boleh kita memakannya.

Dari Amir bin Watsilah ia berkata :
“ Aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib, lalu ada seseorang datang dan berkata; “Apakah Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam merahasiakan sesuatu kepadamu?”
Maka Ali pun marah dan berkata: “Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah merahasiakan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Beliau hanya menyampaikan kepadaku 4 kalimat.”
Lalu ia berkata; “Apa itu wahai amirul mukminin?”
Ali berkata, yaitu :

لَعَنَ اللهُ مَن لَعَنَ وَالِدَيهِ
“Allah melaknat orang yang melaknat bapaknya”

وَ لَعَنَ اللهُ مَن ذَبَحَ لِغَيرِ اللهِ
“dan semoga Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”

وَ لَعََنَ اللهُ مَن آوَى مُحدِثَا
“dan semoga Allah melaknat orang yang ‘muhdits’ (orang yang berbuat jahat, berbuat dosa, berbuat bid’ah)”

و لَعَنَ اللهُ مَن غَيَّرَ مَنَارَ الأَرضِ
“ dan semoga Allah melaknat orang yang merubah tanda batasan bumi / tanah (milik orang lain)”
HR MUSLIM

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang menyembelih untuk selain Allah, itu dilaknat pelakunya.

Oleh karena itulah kewajiban kita agar menyembelih itu hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala dan wajib dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun menyembelih untuk patung, atau untuk kuburan wali atau Nabi atau yang lainnya itu termasuk kesyirikan dan diharamkan.

Dan adapun menyembelih untuk sesuatu yang tujuannya mubah; seperti kita menyembelih ayam untuk sebatas kita makan, maka itu wajib bagi kita untuk menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala. Maka itu termasuk sesuatu yang di mubahkan, selama menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala padanya.

Wallahu a’lam

________

‎﷽

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 13. LARANGAN MENCINTAI “AHLUL HAWA” (PENGIKUT HAWA NAFSU DARI KALANGAN PENGEKOR MAKSIAT DAN AHLI BID’AH) DAN LARANGAN BERGAUL DENGAN MEREKA

عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَذِهِ الآيَةَ
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata; “Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam membaca ayat ini (QS. Ali Imran ayat 7”:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
Allah berfirman : “Dialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itu merupakan ummul kitab, (pokok-pokok isi Al qur’an) dan yang lainnya adalah (ayat-ayat) mutasyaabihaat.”*

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ
“Adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecondongan kepada kesesatan, selalu mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat untuk mencari fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah.”

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ
”Sementara orang-orang yang kokoh dalam keilmuan berkata: “Kami beriman kepadanya ( ayat-ayat yang mutasyaabihaat), semua itu berasal dari Robb kami”.

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dan tidak ada yang ingat (dapat mengambil pelajaran daripadanya) kecuali orang-orang yang berfikir/berakal.”

Aisyah radhiyallahu anha berkata; “Rasulullah shallallaahu alayhi wasallam bersabda,
‏ فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ،
“Apabila kalian melihat orang-orang yang mencari-cari ayat-ayat mutasyaabihaat,
فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ، فَاحْذَرُوهُمْ ‏.
… mereka itu orang-orang yang telah Allah namai mereka (Allah sebut pada ayat tersebut) Maka waspadalah dari mereka.
[HR BUKHARI NO. 4547]

Hadits ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihat, dan ini merupakan keyakinan dan perbuatan dan kebiasaan ahli bid’ah, selalu mencari-cari dalil yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Maka mereka disebut ‘ahlul hawa”/ pengikut hawa nafsu.

Kenapa?
Karena dalam mencari dalil sesuai dengan hawa nafsu, bukan tujuannya untuk mencari kebenaran.

Tentu beda antara orang yang mengikuti hawa nafsu dengan orang yang mencari kebenaran.
—> Kalau pencari kebenaran; sebelum dia beramal, dia akan berusaha dulu untuk mencari dalil-dalil. Kemudian setelah itu baru dia amalkan sesuai dengan yang kuat dari dalil.

—> Sedangkan pengikut hawa nafsu; Ia akan beramal dulu baru mencari-cari dalil yang sesuai dengan keinginan mereka. Dan tidak perduli lagi, kalau sudah mendapatkan dalil yang seakan-akan mendukung pendapat mereka, setelah itu ia tidak akan perduli lagi dengan dalil apapun dan pendapat apapun yang nyata-nyata jelas bertabrakan dengan keinginan mereka tersebut.
Maka inilah pengikut hawa nafsu, dan ini sangat berbahaya sekali

Sebab kalau kita beragama sesuai hawa nafsu dan selera, maka akan menyebabkan musibah besar dalam agama.

Apa musibahnya?
Yang Pertama:
Akhirnya hawa nafsu menjadi sandaran, sementara dalil hanya sebatas menjadi tameng atau perisai saja.

Kedua:
Akhirnya dalil menjadi permainan hawa nafsu manusia.

Ketiga :
Dalil akan ditafsirkan sesuai dengan keinginan manusia, dan keinginaan mereka.

Maka dari itu, merekalah yang disebut dalam ayat tersebut. Adapun orang-orang yang mengikuti _mutasyabihat_ karena mengharapkan fitnah dan mengharapkan ta’wilnya
(artinya; mereka menta’wil- ta’wil dengan ta’wil yang tidak benar) maka ini sangat berbahaya sekali.

Para ulama mengingatkan bahwa orang yang seperti ini harus kita waspadai.
Waspadai dengan cara apa? dengan cara kita tidak bergaul dengan mereka. Apalagi mencintai mereka. Sebab bergaulnya kita dengan mereka menyebabkan kita terkena syubhat mereka.

Tentu berbeda dengan orang yang jahil yang hanya terbatas ikut-ikutan. Orang seperti ini harus kita ajak kepada kebenaran.

*Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata; “Rasulullah ﷺ bersabda:

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ
” Qodariyah itu Majusi-nya umat Islam ini“
[Dihasankan oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah]

إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تشهدوهم
Kata Rasulullah…

Qodariyyah, siapa itu qodariyyah? yaitu orang yang menyatakan bahwa; Allah belum menakdirkan segala sesuatu, dan bahwasanya perbuatan hamba belum ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang hamba sampai terjadinya perbuatan tersebut. Maka ini merupakan keyakinan qodariyyah.

Qodariyyah disebut oleh Rasulullah sebagai Majusi umat Islam.
Karena orang Majusi menganggap bahwa yang menciptakan kebaikan itu ‘cahaya’, yang menciptakan keburukan adalah ‘kegelapan’.

Orang Qodariyyah mengatakan bahwa yang melakukan keburukan dan menciptakannya adalah manusia itu sendiri.
Tidak ada campur tangan Allah sama sekali. Ini jelas kebathilan!

Maka kata Rasulullah,…
الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ
” Qodariyah itu Majusi-nya umat Islam ini“

إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تشهدوهم
” Qodariyyah, kalau mereka sakit jangan dijenguk, jika mereka meninggal jangan disaksikan jenazahnya (dilayat)“

Karena keyakinan mereka yang sangat merusak, menolak salah satu Rukun Iman yaitu ‘Beriman Terhadap Takdir’.

Wallahu a’lam

glossary:
ta’wil (yang dimaksud) = menafsirkan dengan tafsiran yang dipalingkan dari kebenaran.

______________

KITABUT TAUHID
MAUSUAH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 14. BAB LARANGAN DARI KHIANAT DAN MENYIA-NYIAKAN AMANAH

Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  ber-firman dalam QS. Al Anfaal ayat 27 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul dan jangan mengkhianati amanat-amanat kalian dalam keadaan kalian tahu bahwa itu amanah yang berat dimata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dari Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu, ia berkata – Rasulullaah ﷺ berkhutbah, beliau bersabda diantaranya :

لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ ،

” Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak punya amanah,

وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ.

Dan tidak ada agama bagi seseorang yang tidak melaksanakan perjanjian”
HR. Imam Ahmad rahimahullah dan lainnya

Dari Abu Hurairah juga dia berkata, adalah “Rasulullah ﷺ bersabda, berdo’a” :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُوعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada- Engkau dari kelaparan, karena kelaparan adalah seburuk-buruknya teman tidur.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ

Dan aku berlindung kepada Engkau dari khianat, karena dia adalah seburuk-buruknya teman”

Rasulullah ﷺ berlindung dari kelaparan dan dari teman yang berkhianat dan sifat khianat.
HR Abu Dawud dan an-Nasa’i

Dan dari hadits Abu Hurairah juga ia berkata , “Ketika nabi Rasulullah ﷺ berada di suatu majelis berbicara dengan kaum. Maka datanglah orang Arab Badui, dan berkata, ‘Kapan hari Kiamat?’ Namun Rasulullah ﷺ terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian orang berkata, ‘Rasulullah mendengar apa yang ia ucapkan tapi ia tidak suka dengan ucapannya. ‘Sebagian mengatakan, ‘Beliau tidak mendengar.’ Hingga apabila beliau telah selesai berbicara beliau bersabda, ‘Di mana tadi orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Orang itu berkata : ‘Aku disini wahai Rasulullah!’.. Rasulullah berkata,’ Yaitu apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.’ Ia berkata : ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’. Rasulullah berkata, yaitu Apabila perkara atau urusan ini diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah tanda hari Kiamat!”.
HR Imam Bukhari

Hadits2 dan ayat tersebut menunjukkan akan haramnya sifat khianat yaitu tidak melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya.
—> Amanah terkadang berupa kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin berarti ia telah memegang amanah.
—> Amanah terkadang berupa tugas dan tanggung jawab, karena suami punya amanah, istripun juga punya amanah.
—> Amanah berupa menyampaikan ilmu yang ditanggung oleh para ulama. Maka para ulama telah menanggung amanah untuk menyampaikan ilmu.

Demikian pula setiap orang yang menyampaikan ilmu wajib diamanah tidak boleh ia berdusta, tidak boleh ia melakukan kecurangan didalam menyampaikan ilmu.

Jadi Amanah itu sesuatu yang pasti ditanya oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  pada hari kiamat.

Maka ketika amanah telah hilang,
– Seorang pemimpin yang hilang amanahnya maka akan terjadi kedzaliman,
– Seorang ustadz yang hilang amanahnya yang ada adalah kedustaan,
– Seorang yang telah hilang sifat amanahnya ia tidak mau bertanggungjawab melaksanakan seenaknya saja.

Maka semua ini adalah bisa mengakibatkan hancurnya tatanan masyarakat, hancurnya kehidupan. Bahkan hilangnya kepercayaan.

Oleh karena itulah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung.

Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berfirman :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا

Mereka enggan untuk membawa amanat tersebut

وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ

Namun manusia malah mau membawa amanah tersebut.

Sebagaimana kita lihat disaat pasca pemilu atau sebelum pemilu mereka ramai-ramai berusaha untuk mencalonkan diri, mereka tidak sadar bahwa kepemimpinan itu amanah.

Langit, gunung, demikian pula bumi mereka tidak sanggup tapi manusia karena kebodohannya hanya sebatas memandang enaknya penghormatan, banyaknya harta dan lainnya mereka lupa bahwa itu adalah amanah yang berat di mata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Wallaahu ‘alam

___________

KITABUT TAUHID
MAUSUU’AH AL MANAHI ASY SYAR’IYYAH / ENSIKLOPEDIA LARANGAN-LARANGAN DALAM SYARI’AT

Syaikh Salim bin Ied al Hilali

BAB 15. WASPADA DARI MAKSIAT SECARA UMUM DAN PENJELASAN BAHWA IMAN BERKURANG DENGAN MAKSIAT TERSEBUT

Dan Bahwasanya orang yang berbuat maksiat telah kehilangan kesempurnaan iman.

Dari Abu Hurairoh رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah orang yang berzina disaat ia berzina disebut mukmin

وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَحِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِن

Tidaklah orang yang minum arak disaat ia minum arak disebut mukmin

ٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَمُؤْمِنٌ

Dan tidaklah ada orang yang mencuri disaat ia mencuri disebut mukmin

وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُإِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dan tidaklah ada orang yang merampok orang yang mempunyai kehormatan dan kedudukan ditengah-tengah masyarakat itu disebut mukmin.”
HR. Bukhari & Muslim

Artinya : ia telah kehilangan kesempurnaan iman. Tidak seperti yang dipahami oleh orang khawarij dimana mereka memahami hadits tersebut bahwa orang yang melakukan dosa-dosa tersebut artinya kafir murtad keluar dari agama Islam tersebut, ini jelas adalah pemahaman yang bathil.

Karena keyakinan ahlussunnah wal jama’ah mengatakan bahwa pelaku dosa besar tidak murtad dari agama Islam, kecuali apabila ia melakukan itu dengan keyakinan halalnya perbuatan maksiat. Maka yang seperti ini murtad dengan ijma seluruh ulama.

Dan dari Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللَّهُ عَنْه bahwa Nabi ﷺ bersabda :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci maki seorang muslim itu kefasikan dan memerangi adalah kekafiran.”

Yang dimaksud dengan kekafiran disini yaitu kufrun duna kufrin, kekafiran dibawah kekafiran. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
HR Imam Bukhari & Muslim

Dan dari Jarir رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ Ia berkata Rasulullah ﷺ di haji Wada ,

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Jangan kalian kembali setelah aku menjadi kafir sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain.
HR. Bukhari & Muslim

Maksudnya jangan kalian kembali setelah aku menjadi kafir artinya kafir dibawah kekafiran.

Karena kufur itu ada 2 macam, kufur besar dan kufur kecil. Namun kata para ulama yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Kufur kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Dan dari Abu Hurairoh رَضِيَ اللَّهُ عَنْه
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Ada 2 perkara yang akan tetap ada pada manusia dan itu kufur yaitu mencela nasab dan meratapi mayat ” diriwayatkan Imam Muslim.
Kufur disinipun juga maksudnya kufur kecil.

Dari hadits-hadits ini kata Syaikh Salim, menunjukkan bahwa yang pertama ahlussunnah wal jamaah bersepakat seluruhnya bahwa kufur itu bertingkat-tingkat , ada kufur besar yang akan mengeluarkan pelakunya dari Islam dan ada kufur kecil yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Contoh kufur besar : seperti kufurnya Fir’aun, kufurnya iblis, demikian pula kufur orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya.
Demikian pula orang-orang yang meyakini kehalalan apa yang Allah haramkan, padahal ia tahu itu adalah haram.

Contoh kufur kecil sebagaimana yang kita sebutkan tadi.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa pelaku dosa besar telah kehilangan kesempurnaan iman. Namun tidak hilang imannya sama sekali. Dan inilah keyakinan ahlussunnah waljama’ah.

Karena dosa selain syirik berada dibawah kehendak Allah. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  ber-firman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lebih rendah dari syirik.
(QS. An Nisa’: 48).

Maka dosa-dosa besar yang lebih rendah dari syirik masih diampuni oleh Allah.

Berarti pelakunya dibawah kehendak Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , Jika Allah kehendaki Allah ampuni jika Allah kehendaki Allah azab dia namun ia tidak kekal di dalam api neraka. Dan itulah keyakinan Ahlussunnah waljama’ah.

Wallaahu ‘alam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *