Aqidah Manhaj Salaf [Kaidah 30,31, & 32]

AQIDAH MANHAJ SALAF

🌼 Kaidah yang ke 30 🌼

⚉ Mereka meyakini wajibnya berpegang kepada manhaj Nabi dalam berdakwah kepada Allah

Allah Ta’aala berfirman [ QS Al-A’raf :3]

‎اتَّبِعُواْ مَا أنزل إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian“

‎وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء

“..dan jangan kamu ikuti selain Allah sebagai tandingan-tandingan“

Allah juga berfirman [QS Yusuf : 108]

‎قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِ

“Diatas BASHIIRAH (ilmu yakin) aku dan orang-orang yang mengikuti“

Ayat ini menunjukkan bahwa,
kewajiban kita berdakwah itu kepada Allah di atas bashiirah dan tentunya dengan mengikuti manhaj para Nabi dalam berdakwah

Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah pernah di tanya tentang seorang syaikh yang mendakwahi orang-orang yang suka berbuat maksiat dengan cara mengumpulkan mereka, dengan memukul rebana, lalu kemudian bernyanyi dengan syair-syair yang disebut sya’ir-sya’ir yang membuat hati mereka tergugah.
Kemudian rupanya ketika syaikh ini melakukan perbuatan itu mereka bertaubat, mereka kemudian meninggalkan maksiat.
Maka ditanya Syaikhul Islam, “Apakah yang seperti ini Boleh ? karena maslahatnya besar dan tidak mungkin mendakwahi mereka kecuali dengan ini ?

Maka Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah menjawab:
pertama pertama beliau menyebutkan kaidah-kaidah dahulu.

Yang pertama bahwasanya harus diyakini, Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti membawa petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkan diatas seluruh agama.

Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan kabar gembira dengan kebahagiaan bagi orang yang menaati dan kesengsaraan bagi orang yang memaksiatinya.

Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan manusia untuk mengembalikan semua yang di perselishkan kepada agama Allah kepada Alqur’an dan Hadits Nabi.

Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya beliau berdakwah kepada Allah dan kepada jalan yang lurus.

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya beliau beramar ma’ruf nahi mungkar, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku wasiatkan kalian untuk mendengar dan ta’at, karena sesungguhnya siapa yang hidup diantara kalian nanti akan melihat perpecahan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang ditunjuki.”

Pegang ia dengan gigi geraham dan jauhi oleh kalian perkara-perkara diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat. Dan ayat-ayat dan dalil yang lainnya.

Beliau (Syaikh Al Ubailaan) berkata, “Apabila kaidah ini telah di ketahui, maka hendaklah diketahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’aala. Dialah yang memberikan hidayah kepada orang-orang tersesat.
Maka harus kita mengikut apa yang Allah utus dengannya RasulNya dan Alqur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka kalaulah apa yang Allah utus denganNya para Rasul itu tidak mencukupi berarti agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kurang, tidak sempurna.
Dan harus diketahui bahwasanya amalan sholeh yang Allah perintahkan, baik itu yang sifatnya wajib ataupun sunnah.

Demikian pula amalan buruk yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’aala yang harus kita imani apabila tidak terdapat padanya maslahat dan mafsadah.
Maka kemudian maslahatnya lebih besar dari pada mafsadahnya, maka tentu syari’at akan mensyari’atkannya.

Tapi kalau ternyata mafsadah lebih besar tentu syari’at akan melarangnya.
Maka apabila demikian, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan): perbuatan syaikh tersebut mengumpulkan orang-orang yang suka berbuat maksiat.
Lalu dengan mendendangkannya nyanyian dengan memakai rebana.
Ini termasuk perkara yang tidak sesuai syari’at.
Ini menunjukkan syaikh tersebut bodoh terhadap tata cara-tata cara syari’at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dan para tabi’in dahulu mereka mendakwahi orang-orang yang lebih buruk dari mereka, yaitu orang kafir, dari orang fasik di masa itu.

Demikian pula orang-orang yang berbuat maksiat tapi tidak dengan cara seperti itu.
Akan tetapi dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at, maka tidak boleh dikatakan bahwasanya tak ada cara yang syar’i, untuk mendakwahi orang-orang yang berbuat maksiat.

Karena telah juga kita ketahui secara pasti berapa banyak orang yang bertaubat kepada Allah dengan cara-cara syari’at.
Bahkan lihat para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Mereka bertaubat kepada Allah dengan cara-cara syari’at bukan dengan cara-cara bid’ah seperti itu.

Berapa banyak kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin yang mereka masuk Islam, mereka bertaubat dengan kepada Allah dengan cara-cara syari’at bukan dengan cara-cara bid’ah seperti itu.

Sehingga tidak boleh juga dikatakan orang yang berbuat maksiat tidak mungkin bertobat kecuali dengan cara-cara bid’ah tersebut.

Maka sesungguhnya yang terbaik adalah caranya sesuai dengan syari’at
Bukan kita melihat pada hasil.
Sebuah kesalahan tentunya bahwa kalau ada orang mengatakan yang penting hasilnya. Ini bukanlah cara yang sesuai dengan syari’at.

Yang terpenting adalah apakah caranya sesuai syari’at, sesuai dengan manhaj para Nabi atau tidak.

Wallahu a’lam 🌴
________

🌼 Kaidah yang ke 31 🌼

⚉ Mereka meyakini bahwa bermuamalah atau menghadapi kejadian-kejadian yang berubah-rubah masalah yang pasti tentunya akan berubah-rubah sesuai kondisi dan tempat, itu harus di bangun diatas pemahaman yang benar terhadap dalil-dalil syari’at dan pengetahuan yang luas tentang sunnah-sunnah Allah kepada mahluk-mahluknya.

Allah Ta’ala berfirman [QS An-Nisa : 83]

‎وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ

“Apabila datang kepada mereka perkara yang berhubungan dengan rasa aman atau rasa takut, mereka segera menyebarkannya.”

‎وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ

“Kalaulah mereka mengembalikan urusan tersebut kepada Rasul dan kepada Ulil Amri yaitu para Ulama diantara mereka akan tahulah orang-orang yang bisa beristimbath diantara mereka.”

Disinilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh untuk mengembalikan segala urusan itu kepada Rasul, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah meninggal maka kepada Ulil Amri.

Ulil Amri yang di maksud disini adalah para Ulama yang mampu beristimbah (pengambilan hukum) dan memahami dengan pemahaman yang benar dari Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka kewajiban kita, masalah-masalah yang berhubungan dengan berita-berita atau masalah-masalah yang berubah sesuai dengan situasi dan kondisi itu tidak di serahkan kepada orang-orang yang dangkal pemahamannya, tidak diserahkan kepada orang-orang yang kurang pemahamannya terhadap Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi diserahkan dan di tanyakan kepada mereka yang betul-betul sangat memahami Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menguasai ilmu-ilmu alat untuk beristimbath atau berijtihad.

Maka ikhwatul Islam, saudara-saudaraku sekalian berkata Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimalllah, ketika menafsirkan firman Allah [QS Al Maidah: 105]:

‎يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian memelihara diri kalian sendiri“

‎لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

“tidak akan membahayakan kalian orang yang tersesat apabila kalian telah mendapat hidayah“

Berkata Syaikhul Islam: “Hendaklah kalian memelihara diri kalian sendiri tidak membahayakan kalian orang yang sesat apabila kalian mendapatkan hidayah”.

Tidak menunjukkan kita meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar , sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang masyhur daru Abu Bakar ash-Siddiq, bahwa beliau berkhotbah di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
“Hai manusia, kalian membaca ayat ini dan meletakkan bukan pada tempatnya dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran lalu mereka tidak merubahnya, hampir-hampir Allah ratakan azab untuk mereka semua”

Maka disini Abu Bakar mengingkari sebagian orang yang memahami ayat tersebut, bahwa kalau ada orang yang berniat kemungkaran, ya sudah tidak perlu kita ingkari, yang penting kita sudah beriman maka tidak akan membahayakan kita, orang yang tersesat tersebut.
Maka kata abu bakar ”Bukan itu maksudnya”, berarti kalian sudah meletakkan ayat tersebut bukan pada tempatnya, akan tetapi tetap kita disuruh mengingkari kemungkaran beramar ma’ruf nahi mungkar.

Maka kalau kita sudah berusaha dan ternyata mereka tetap tidak mau meninggalkan kemungkarannya, maka pada waktu itu kita berusaha untuk memelihara diri kita sendiri.
Jadi tidak bertabrakan antara ayat-ayat amar ma’ruf nahi mungkar dengan ayat surat Al Maidah: 136.

Ini adalah merupakan contoh bagaimana meletakkan dalil pada tempatnya, karena
kesesatan yang terjadi adalah ketika dalil itu ditempatkan bukan pada tempatnya, dipahami dengan pemahaman dan nalar sendiri karena dangkalnya pemahaman. Maka, kewajiban kita adalah untuk memahami dalil, kemudian menerapkannya pada penerapan yang benar dalam permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi.

Wallahu a’lam 🌴
_______________

🌼 Kaidah yang ke 32 🌼

⚉ Wajibnya memperingatkan ummat dari kesesatan para pemimpin -pemimpin kebid’ahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS Al A’raf :181]:

‎وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

“Dan diantara manusia yang kami ciptakan adalah ummat yang memberikan hidayah dengan kebenaran dan dengannya juga mereka bersikap adil.“

Artinya, seakan Beliau (Syaikh Al Ubailaan) mengisyaratkan bahwa mentahzir, memperingatkan manusia dari bahaya kesesatan pemimpin-pemimpin kebid’ahan itu termasuk memberikan hidayah kepada kebenaran, namun tentunya dengan sikap adil, bukan dengan sikap yang berlebihan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga dalam Alqur’an mentahzir,memperingatkan akan orang-orang yang menyesatkan.
Allah berfirman, contohnya dalam QS At Taubah : 34

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya banyak dari para pendeta dan rahib-rahib yang makan harta manusia dengan kebathilan dan menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala“

Disini Allah memperingatkan bahwa kebanyakan para pendeta dan para rahib-rahib Yahudi dan Nasrani itu, mereka suka memakan harta manusia dengan bathil.
Disini Allah memperingatkan agar kita ummat Islam tidak mencontoh mereka, dan agar kita tidak menjadi orang-orang yang memakan harta manusia dengan bathil.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Seperti para pemimpin kebid’ahan dari orang-orang yang menyelisihi Alqur’an dan Sunnah atau orang-orang yang membuat ibadah-ibadah yang menyelisihi Alqur’an dan Sunnah.”
Maka menjelaskan keadaan mereka dan mentahzir ummat dari mereka itu wajib, dengan kesepakatan kaum Muslimin.

Sampai-sampai dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal, “…bagaimana orang yang berpuasa dan sholat dan ber’itikaf. Apakah itu lebihkah engkau cintai ? Atau engkau berbicara tentang para ahli bid’ah ?…”
Kata Imam Ahmad, “…apabila ia berpuasa, ia sholat, ‘itikaf itu untuk dirinya. Dan apabila ia berbicara tentang ahli bid’ah maka itu untuk kebaikan kaum muslimin lebih utama..” kata Imam Ahmad bin Hambal.

Maka disini beliau menjelaskan bahwa manfaatnya untuk kaum muslimin besar.

Namun tentunya yang perlu di perhatikan dalam masalah ini juga dalam masalah tahzir mentahzir hendaknya:
1. Orang yang mentahzir itu ikhlas karena Allah bukan karena mengharapkan kemasyuran atau karena takut di tahzir orang.
2. Hendaknya dia melihat maslahat dan mudhorot.

Di zaman sekarang seperti di negri kita ini, ketika kita mentahzir seseorang, akhirnya orang itu malah masyur di kalangan manusia. Akhirnya malah banyak orang yang mengikuti dia.
Maka kalau ternyata hal seperti ini, keadaanya seperti itu, maka tidak di syari’atkan… kenapa?
Karena ternyata mudhorotnya jauh lebih besar, maka kita sebatas membantah pendapat-pendapatnya secara ilmiah, itu tidak mengapa.

Atau kita menyebutkan nama dia sambil kita mengkritik pendapat-pendapatnya yang nyeleneh dengan secara ilmiah, itupun silakan, kalau memang maslahatnya jauh lebih besar.

Demikian pula kewajiban kita adalah niatnya untuk menasehati Ummat.
Kemudian kita juga berusaha untuk mendo’akan agar orang yang di tahzir ini mendapatkan hidayah.

Dan kemudian, jangan serampangan dalam mentahzir, karena berapa banyak di zaman ini serampangan dan sangat mudah.
Hanya karena kesalahan-kesalahan yang sifatnya ijtihadiyah, yang ia pandang rojih, lalu ia tahzir orang lain.
Padahal itu masalah-masalah yang sifatnya ijtihadiyah. Seperti menghukumi suatu yayasan apakah itu hizbi atau tidak.
Itu sifatnya ijtihadi yang tentunya kita tidak boleh, gara-gara itu kemudian kita berpecah belah.
Seperti yang terjadi di zaman sekarang, serampangan dalam tahzir mentahzir.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *