Aqidah Manhaj Salaf [Kaidah 27, 28, & 29]

AQIDAH MANHAJ SALAF

🌼 Kaidah yang ke 27 🌼
.
⚉ Mereka mewaspadai tata cara ahli bid’ah yang menuduh para ulama yang mengikuti manhaj salaf, dengan tuduhan bahwa mereka itu radikal.

Maka kita waspadai tata cara seperti itu, karena itulah tata cara ahli bid’ah agar manusia lari dari kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Israa : 73

‎وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

“Dan mereka hampir-hampir memfitnahmu dari apa yang telah kami wahyukan kepada engkau agar kamu mengada-ada atas kami selain itu.”

‎ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

“Jika kamu lakukan itu mereka akan menjadikanmu sebagai kekasih“

Artinya mereka berusaha terus memberikan tuduhan-tuduhan yang bermacam-macam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membawa kebenaran, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan keinginan mereka dengan berbagai macam cara dan tuduhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Apa yang kalian sebutkan berupa ucapan yang lemah lembut dan berbicara yang lebih baik dan kalian tahu bahwa aku lebih manusia yang paling banyak menggunakan kelembutan.”

Akan tetapi kata beliau segala sesuatu pada tempatnya.
Sementara Allah dan Rasulnya memerintahkan kita bersikap keras terhadap orang yang bersikap zolim dan memusuhi Alqur’an dan Sunnah.
Dan kitapun juga sikapi dengan yang sama.
Kita di perintahkan untuk mengajak bicara mereka dengan sikap yang lebih baik jika mereka berbuat seperti itu.

Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun : 8

‎وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Milik Allahlah kemuliaan (‘izzah) dan juga milik rasul-Nya dan milik kaum mukminin“

Allah juga berfirman dalam surat Al -Mujadila : 20

‎إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya mereka itu orang-orang yang berada dalam kerendahan.“

Dan hendaklah kita ketahui, kata beliau; “Bahwa tidak boleh kita mengharapkan keridhoan makhluk hal ini.”
Mau mencerca, mau gimana…”terserah”.
Karena…

1. Bahwa mengharapkan ridha mahluk itu tidak mungkin.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

‎رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ

“Keridhaan manusia itu tujuan yang tidak mungkin dicapai.
Hendaklah kamu berpegang kepada yang membenahi dirimu
Pegang Ia dan tinggalkan selain itu.”
Dan jangan kamu merasa risih dengan ledekan-ledekan manusia kepadamu.

2. Bahwa kita diperintahkan untuk mengharap dan mencari ridha Allah dan rasul-Nya.

Allah berfirman dalam surat At-Tauba : 62

‎وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ

“Allah dan rasul-Nya lebih berhak, mereka cari ridho-Nya.“

-Maka kewajiban adalah takut kepada Allah daripada kepada manusia.

-Kewajiban kita adalah jangan sampai kita hanya karena takut kepada manusia kemudian kita tinggalkan yang di perintahkan oleh Allah dan rasul-Nya.

-Maka kita berusaha untuk membantah para ahli bid’ah itu dengan hujjah-hijjah yang kuat agar manusia memahami dan mengetahui tentang hakikatnya, sehingga pada waktu itu kita telah membela kebenaran dan ini termasuk jihad yang besar.

Wallahu a’lam 🌴
.

________________

🌼 Kaidah yang ke 28 🌼
.
⚉ Mereka tidak memberikan loyalitas, tidak pula memberikan permusuhan pada selain keridhoan Allah.

Artinya loyalitas mereka dan permusuhan mereka semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena hawa nafsu, bukan pula karena kepentingan dunia dan politik itulah sifat Ahlusunnah waljama’ah.

Allah Ta’ala berfirman [QS At-Taubah:71]

‎وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali untuk yang lainnya.”

Wali itu artinya memberikan loyalitas, dari kata Wala’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman.”
Diantaranya dari tiga itu, yaitu orang yang mencintai seseorang yang ia cintai karena Allah, bukan karena apa-apa.

Maka dari itu kewajiban kita adalah memberikan loyalitas dan permusuhan itu betul-betul karena Allah.

Allah menyebutkan dalam Alqur’an [QS Al-Baqarah : 167]

‎وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

Allah berfirman tentang kedudukan api neraka dan orang-orang yang mengikuti.
“Dan berkatalah orang-orang yang mengikut mereka, kalaulah kami masih ada kesempatan untuk kembali ke dunia kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka sekarang di akhirat berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amalan-amalan mereka menjadi penyesalan atas mereka dan mereka tidak akan pernah keluar dari api neraka.”
Nauzubillah…

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini, orang-orang yang di ikuti oleh para pengikut-pengikut waktu di dunia, dimana para pengikut memberikan loyalitas bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu kamu dapati banyak orang mencintai suatu kaum dan membencinya hanya karena hawa nafsu.”

Mereka sendiri tidak mengetahui maknanya, tidak pula mengetahui di atas dasar apa, bahkan mereka memberikan loyalitas secara mutlak begitu saja dengan tanpa melihat apakah itu sesuai dengan dalil yang shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ummah atau tidak.
Bahkan mereka juga tidak memahami makna loyalitas yang mereka berikan tersebut.

Maka beliau berkata :
“-Maka tidak boleh bagi seorangpun menjadikan seseorang dalam ummat Islam ini yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.
.
-Tidak boleh seseorang itu menjadikan perkataan siapapun yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan kecuali kepada firman Allah dan RasulNya saja, dan apa yang menjadi ijma para ulama seluruhnya.
.
– Maka siapa yang melakukan ini yaitu yang memberikan loyalitas dan permusuhan terhadap seseorang selain Nabi atau terhadap ucapan seseorang selain Nabi, maka ini termasuk perbuatan ahli bid’ah yang memecah belah ummat, memecah belah agama ini.“
.
(Majmu fatawa jilid 20, halaman 164)

Wallahu a’lam 🌴

_______________

🌼 Kaidah yang ke 29 🌼
.
(simak audio di link berikut) : http://bbg-alilmu.com/archives/36668

⚉ Bahwa mereka mewanti-wanti jangan sampai menjadikan agama sebagai wasilah untuk meraih dunia.

Allah berfirman [QS Al-Israa’ : 18]
.
‎مَنْ كانَ يُرِيدُ الْعاجِلَةَ عَجَّلْنا لَهُ فِيها مَا نَشاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاها مَذْمُوماً مَدْحُوراً[ الإسراء / 18 ]
.
“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka Kami akan percepat untuk dia dalam kehidupan dunia tersebut bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami jadikan untuk dia sebagai sesuatu yang tercela dan hina“
.
Ayat ini tegas mengatakan bahwa orang yang tujuannya hanya dunia dan tidak mengharapkan sama sekali kehidupan akhirat, maka orang seperti ini akan di berikan apa yang dia inginkan, jika Allah kehendaki, namun di akhirat ia akan mendapatkan api neraka.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
.
‎تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ
.
“Celakalah hambanya dinar, hamba dirham, hamba baju“
.
‎إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ
.
“kalau ia di beri baru ia ridho“
kalau ia di beri dunia baru ridho.
.
‎وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
.
“jika ia tidak diberi dunia dia marah“
Artinya ridho dan marahnya karena dunia,bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.
Kemudian kata beliau (Syaikh Al Ubailaan): “Pelaku bid’ah, dia adalah pengikut hawa nafsu, dimana ia beramal sesuai dengan hawa nafsunya, bukan karena sesuai dengan agamanya, dan ia berpaling dari kebenaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya.”
.
Maka orang seperti ini akan Allah berikan sangsi sesuai dengan hawa nafsunya.
Orang seperti ini berhak untuk mendapatkan siksa di dunia dan akhirat.
.
Para Ulama Salaf yang menganggap fasik orang-orang khawarij dan yang sejenisnya, sebagaimana di riwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, bahwa ia menafsirkan firman Allah [ QS Al-Baqarah 26-27]
.
‎وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
.
“Tidaklah Allah menyesatkan kecuali orang-orang fasik“
.
Siapa dia?
.
‎الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ
.
“Yaitu orang-orang yang membatalkan perjanjian Allah setelah ia mengambilnya dan mereka memutuskan apa yang telah Allah perintahkan untuk disambung dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itu orang-orang yang merugi“
.
Dan bisa jadi tujuannya ini, kata beliau (Syaikh Al Ubailaan).
Terlebih apabila manusia telah berpecah belah dan ia termasuk orang-orang yang mencari kedudukan untuk dirinya dan untuk teman-temannya.
.
Apabila seorang muslim saja yang memerangi orang-orang kafir hanya karena sebatas keberanian atau karena riya’ ingin di puji. Itu bukan dijalan Allah.
.
Bagaimana dengan orang-orang ahli bid’ah yang berdebat, yang berjidal, diatas hawa nafsunya maka tentu mereka lakukan itu karena fanatik yang buta, maka tentu mereka lebih berhak lagi untuk dikatakan tidak di jalan Allah.
.

Maka dari itulah kewajiban kita adalah jangan sampai menjadikan ibadah ataupun agama ini sebagai wasilah untuk meraih dunia.
.
Sehingga pada waktu itu niat kita, tujuan kita hanya sebatas dunia saja.
.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Imam Ahmad, Tarmidzi dan yang lainnya:
.
‎مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ
.
“Tidaklah 2 ekor serigala yang lapar di lepaskan pada sekelompok kambing lebih berbahaya dari pada orang yang tamak terhadap harta dan kedudukan yang sangat bahaya untuk agamanya.“
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *