Aqidah Manhaj Salaf [Kaidah 24,25, & 26]

AQIDAH MANHAJ SALAF

KAIDAH yang ke 24

Mereka menetapkan bahwa MAKSUD TUJUAN SYARI’AT itu 3:

1. Menolak Mafsadat
2. Mendatangkan Maslahat
3. Berjalan di atas jalan yang baik dan kebiasaan yang bagus.

Adapun yang pertama yaitu MENOLAK MAFSADAT ini berhubungan dengan 6 perkara;

1. Agama
Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 193]

‎وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ

“Perangilah mereka sampai tidak lagi ada fitnah dan agama menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala“

2. Jiwa
Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 179]

‎وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Bagi kalian dalam qishaash itu terdapat kehidupan, hai orang-orang yang memiliki pikiran“

3. Akal
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan arak karena untuk mencegah akal.

4. Nasab
Allah mengharamkan zina karena untuk menjaga di nasab

5. Kehormatan
Allah berfirman [QS Al-Hujurat : 12]

‎وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Janganlah sebagian kalian mengghibahi yang lainnya_
Karena ini berhubungan dengan kehormatan.”

‎6. الـمـال (Harta)
Allah berfirman [QS An-Nisaa : 29]

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian dengan kebatilan diantara kalian“

Jadi inilah 6 perkara yang berhubungan dengan maksud yang pertama yaitu DAFUL MAFAASID (mencegah mafsadat).
.
.
Maksud yang ke dua yaitu JALBUL MASHAALIH (mendatangkan maslahat)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan semua segala sesuatu yang sifatnya maslahatnya besar untuk kehidupan manusia.
Allah berfirman “contohnya” [QS Al-Jumu’ah : 10]

‎فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila telah selesai sholat, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah berupa rezeki“
Karena itu adalah merupakan maslahat untuk mereka.

Allah juga berfirman [QS An-Nisa’ : 29]

‎إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Kecuali apabila itu adalah perdagangan yang kalian saling ridho padanya“
Yaitu kemaslahatan karena perdagangan adalah merupakan maslahat.

Demikian pula semua maslahat di perintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan semua mafsadat dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.
.
Maksud yang ke tiga yaitu:
Akhlak yang baik dan adat kebiasaan yang bagus, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kita untuk berakhlak yang baik.

Allah berfirman [QS Al-Qalam : 4]

‎وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau wahai Muhammad diatas akhlak yang baik“

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga dalam hadits yang banyak menganjurkan kita kepada akhlak karimah yang baik, kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan kita.
Nah inilah daripada TUJUAN DI SYARI’ATKANNYA SYARI’AT ISLAM, sungguh sangat mulia sekali.

Dimana tidak ada agama yang lebih mulia dari agama Islam yang tujuannya yang tiada lain adalah untuk memelihara kehidupan manusia, memberikan kepada mereka maslahat-maslahatnya dan menolak dari mereka hal-hal yang bisa merusaknya.
.
.
Maka Islam menganjurkan kita untuk senantiasa berakhlak yang baik terhadap tetangga, terhadap saudara, terhadap penguasa, terhadap ulama, apalagi kepada orangtua. Terlebih juga akhlak kita kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.

Wallahu a’lam

Kaidah yang ke 25

Penjelasan tentang sebagian sebab-sebab kebatilan itu laris di tengah masyarakat.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan ada sekitar 5 sebab, kenapa kebatilan itu bisa laris di tengah masyarakat._
Kita akan bahas satu persatu…

Kata beliau:

SEBAB yang pertama :

Yaitu pelakunya yang ingin melariskan kebatilan itu datang membawa kata-kata yang indah, di berikan pakaian, kefasihan dan ungkapan-ungkapan yang mengasyikkan.

Maka orang-orang yang mempunyai akal yang lemah, pengetahuan yang dangkal itu segera menerimanya dan menganggapnya baik.

Bahkan orang-orang yang seperti ini akan segera meyakininya dan mengikutinya.
Karena ucapannya yang begitu indah.

Seperti di zaman sekarang kita lihat banyak mereka yang melariskan kebatilan itu berceramah dengan gaya yang sangat menarik, retorika, cara yang menawan, kata-kata yang lembut.
Sehingga orang-orang yang lemah pemikirannya sangat mudah sekali untuk menerimanya.
Ini di isyaratkan dalam firman Allah [QS Al-An ‘am : 112]

‎وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ

“Demikian kami jadikan untuk setiap Nabi itu berupa syaitan-syaitan manusia dan jin, sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lainnya ucapan yang dihiasi dengan tipuan“

‎ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ

“Kalaulah Allah atau Rabb-mu berkehendak, tentu mereka tidak akan melakukannya.”

‎فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan itu“

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa musuh-musuh para nabi itu menggunakan kata-kata yang di indah-indahkan, sehingga akhirnya tertipulah orang-orang yang lemah keilmuannya, lemah akalnya.

SEBAB yang ke 2 :

Yaitu dia mengeluarkan makna yang ingin ia batalkan, artinya kebenaran itu di gambarkan dengan gambaran yang buruk, membuat manusia lari darinya.
Dimana ia berusaha untuk memilih lafadz-lafadz untuk membatilkan kebenaran itu dengan lafadz-lafadz yang paling tidak disukai oleh hati.
Sehingga akhirnya orang yang mendengarnya menganggap bahwa makna ayat atau makna hadits itu atau makna ucapan itu ternyata begitu padahal tidak demikian.

Demikianlah ahli bid’ah dan kesesatan di zaman sekarang mereka menamai Ahlus Sunnah dengan mujassimah, hasawiyah dan yang lainnya.

Mereka berusaha supaya manusia lari dari Ahlus Sunnah seperti halnya di zaman sekarang orang yang mengatakan Allah berada diatas Arsy, dianggap mujassimah.
Katanya dia menyamakan Allah dengan hambaNya.
Padahal hakikatnya ketika kita mengatakan Allah bersemayam di atas Arsy, tidak sama dengan hamba-hambaNya, justru mereka yang menolak.
Yaitu hakikatnya menyamakan dengan mahluknya.

Tapi itulah mereka gunakan dengan kata-kata yang membuat manusia itu lari.

SEBAB yang 3 :

Orang ahli bid’ah itu menisbatkan ta’wil dan kebid’ahan kepada orang yang tinggi kedudukannya.

Seperti ahlul bait misalnya atau ulama Misalnya:
Karena dengan seperti itu akan diterima oleh orang banyak.
Seperti orang yang menolak adanya Allah bersemayam diatas Arsy, menisbatkan bahwa itu ucapan keyakinan Imam Syafi’i rahimahullah.
Namun mereka sendiri tidak mampu untuk membawakan sanad kepada Imam Syafi’i rahimahullah.

Kenapa..?
Supaya di terima bahwa ini ada ucapan Ulama, apalagi ulama besar Imam Syafi’i rahimahullah, walau dengan tanpa sanad sekalipun. Mereka berusha berbagai macam cara supaya keyakinan mereka tersebut diterima.

SEBAB yang ke 4 :

Yaitu takwil atau kebid’ahan mereka itu diterima oleh orang-orang yang terkenal dalam suatu ilmu/pekerjaan yang sifatnya duniawiyah.

Misalnya:
dia terkenal sebagai profesor yang cerdik, cendikiawan atau terkenal sebagai seorang dokter atau seorang ilmuwan yang berhubungan dengan masalah pertanian atau yang lainnya.
Supaya bisa diterima oleh orang-orang awam.
Sehingga pada waktu itu mereka bisa melariskan kebatilan mereka dengan cara menisbatkan ucapan tersebut atau diterima oleh salah satu daripada orang-orang yang terkenal tersebut, tanpa melihat apa dia memang seorang ulama yang betul-betul berilmu ataukah dia ahli ilmu dunia saja yang penting terkenal dan diterima oleh masyarakat.

Halnya seperti di zaman kita, orang yang sangat terkenal itu sangat diketahui oleh masyarakat ketika menerima pendapat tersebut untuk di lariskan kepada masyarakat agar di terima untuk orang-orang awam yang lemah keilmuannya atau di zaman sekarang dengan cara di boomingkan seseorang, yang tentunya ilmunya sebetulnya bukan ilmu yang kuat, tapi sengaja boomingkan karena pendapat-pendapatnya itu menjadi subhat bagi orang-orang awam yang kurang faham apa dan bagaimana memahami dien dan dalil.

SEBAB yang ke 5 :

Yaitu menjadikan aneh bagi jiwa, bagi orang yang tidak mengenal makna-makna yang aneh.
Karena jiwa kita ini suka mencari yang aneh-aneh, biasanya langsung terkenal.
Maka dengan cara seperti ini mereka berusaha melariskan kebatilan, menggunakan cara seperti itu.

SEBAB yang ke 6 :

Memberikan mukadimah sebelum ia mentakwil, sebelum ia melariskan kebatilannya, dia menggunakan mukadimah-mukadimah akal yang bagaimana caranya supaya diterima.

Contoh misalnya :
kalau merekan memberikan, kalau Alqur’an dan Hadits bertabrakan dengan akal, maka akal didahulukan daripada dalil.

Atau mereka berkata Alqur’an atau Hadits itu masih mentah. Sedangkan pendapat ulama sudah matang. Maka lebih baik kita merujuk pendapat ulama tanpa melihat dalil.

Dan kebatilan-kebatilan yang lainnya yang merupakan mukadimah-mukadimah yang tujuannya ingin melariskan kebatilan mereka.

Wallahu a’lam

Kaidah yang ke 26

**Bahwa mereka mewanti-wanti manusia dari bahaya berbuat bid’ah dalam agama.

**Dan juga bahaya berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.

Karena dua perkara ini adalah perkara yang bisa menghancurkan kemudian merusak syari’at Islam.

Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap kali khotbah Jum’at, beliau selalu berkata:

“Sebaik-baiknya ucapan adalah ucapan Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan seburuk-buruknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat.” (dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya).

Bayangkan Nabi dalam khotbahnya selalu mengingatkan masalah bid’ah, ini menunjukkan kebid’ahan/bid’ah itu memang sangat bahaya sekali.
Bid’ah itu bisa merusak kesempurnaan Islam.

Bid’ah itu menyebabkan akhirnya di masukkan kedalam Islam sesuatu yang bukan agama, sehingga akhirnya seseorang yang tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil.

Demikian pula mereka mewanti-wanti agar jangan berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.

Karena berkata tanpa ilmu ini sebab utama muncul berbagai macam pemikiran-pemikiran yang menyimpang, munculnya bid’ah, munculnya kesyirikan, munculnya penyimpangan adalah merupakan disebabkan adalah berkata atas Allah tanpa ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan [QS Al-A’raf : 33]

‎قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Katakanlah sesungguhnya Rabku mengharamkan perbuatan fahisya (maksiat) yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, dan berbuat zolim tanpa haq dan kamu mempersekutukan Allah dalam perkara yang tidak di turunkan padanya perkara ilmuNya.”

Kemudian Allah menutup ayat itu dengan firmannya

‎وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan kamu berkata atas Allah dengan tanpa ilmu“

Maka ini menunjukkan bahwa berkata tanpa ilmu itu merupakan itu adalah merupakan keharaman yang paling besar/ yang paling agung.
Sampai-sampai Allah menutup ayat tersebut dengan berkata tanpa ilmu .

Oleh karena itu ya Akhul Islam, Saudara-saudaraku sekalian kita berusaha dalam berbicara masalah agama ini betul-betul diatas ilmu, diatas dalil, diatas hujjah bukan sebatas ro’yu dan pendapat semata.

Karena agama ini yang berasal dari Allah dan itu adanya dari Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun pendapat-pendapat ulama bukanlah dalil dan hujjah.

Hujjah itu Alqur’an dan Hadits.

Ulama itu hanya sebatas wasilah untuk memahami Alqur’an dan Hadits, bukan untuk menolak Alqur’an dan Hadits.

Maka dari itulah zaman sekarang, kita melihat banyak orang-orang yang mudah berbicara tanpa ilmu, sebatas dengan ro’yu-ro’yunya saja.

Allahul musta’an

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Artikel:
Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *