KAIDAH USHUL FIQH

KAIDAH USHUL FIQH
Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rasuulillah..,
Mulai hari ini, in-syaa Allah, kita akan mulai pada pembahasan kaidah-kaidah Ushul Fiqih yang ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى
Mari kita ajak keluarga, kerabat dan teman untuk belajar kaidah-kaidah Ushul Fiqih dengan bergabung di channel ini atau silahkan forward pembahasan di channel ini ke group anda lainnya…
Semoga bermanfaat… baarakallahu fiikum.
  KAIDAH YANG PERTAMA 
👉Agama ini datang untuk mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat.
Karena semua perintah Allah pasti mashlahatnya murni atau lebih besar dari mudlaratnya seperti sholat, zakat, puasa, haji,  berbakti kepada orang tua dan sebagainya.
Demikian juga larangan Allah, pasti semuanya mengandung mudlarat yang murni atau lebih besar dari mashlahatnya seperti syirik, bid’ah, sihir, riba, zina, judi dan sebagainya.
⚉ Maka semua yang mashlahatnya murni atau lebih besar adalah perkara yang diperintahkan.
⚉ Dan semua yang mudlaratnya murni atau lebih besar adalah perkara yang dilarang.
⚉ Apabila mashlahat dan mudlaratnya sama besar, maka lebih baik ditinggalkan agar tidak jatuh kepada yang dilarang.
Namun, terkadang sebagian orang memandang suatu mashlahat padahal sebetulnya tidak, seperti perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perayaan isra dan mi’raj dan sebagainya.
Karena tanpa perayaan tersebut mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdapat dilakukan dengan yang sesuai syariatnya seperti menuntut ilmu syariat dan mengamalkannya.
Di zaman khulafa rasyidin Islam semakin jaya tanpa perayaan tersebut, bahkan kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi orang-orang yang merayakan maulid.
Itu menunjukkan bahwa perayaan maulid tidak memberi mashlahat apapun untuk agama. Dan tidak memberi mudlarat apapun bila ditinggalkan, justru perayaan tersebut memberi mudlarat terhadap agama dari sisi menambah nambah syariat yang tidak pernah diizinkan oleh Allah Azza wajalla.
Wallahu a’lam.
 KAIDAH YANG KEDUA
👉Syariat Islam adalah syariat yang mudah.
Allah berfirman:
يريد الله بكم اليسر
“Allah menginginkan kemudahan untuk kamu.” (QS 2:185)
Allah juga berfirman:
وما جعل عليكم في الدين من حرج
“Dan tidaklah Allah menjadikan dalam agama ini sesuatu yang menyusahkanmu.” (Al Hajj:78).
Bila kita perhatikan, perintah perintah Allah adalah mudah dan tidak sulit dilakukan.
Sholat misalnya, Allah hanya mewajibkan 5 waktu saja, di waktu waktu yang mudah.
Zakat pun tidak diwajibkan pada semua harta, tetapi hanya harta tertentu saja yang ditunjukkan oleh dalil dan qiyas. Itupun dengan nishob yang tidak memberatkan.
Dan bila suatu amal itu berat, maka Allah memberinya pahala yang amat besar.
Namun, sebab utama beratnya ibadah di hati adalah akibat dosa dan maksiat. Sehingga seorang hamba menganggap berat syariat yang mudah ini, karena ia lebih tunduk kepada hawa nafsu dan syahwatnya dari pada tunduk kepada penciptanya.
Wallahu a’lam.
  KAIDAH YANG KETIGA
👉Kesulitan mendatangkan kemudahan.
Telah disebutkan bahwa agama ini mudah, namun ketika ada kesulitan, maka lebih diberi kemudahan oleh syariat.
Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan yang melebihi kebiasaan dan bukan hanya sebuah kekhawatiran belaka.
Seperti orang yang sakit takut berwudlu dengan air, namun sebetulnya tidak memberi bahaya dalam bentuk apapun, kecuali bila diduga kuat akan menambah sakitnya, maka diperbolehkan bertayammum.
Kesulitan seperti ini mendatangkan kemudahan. Tentunya kemudahan pun harus sesuai syariat dan bukan disesuaikan selera dan shahwat manusia.
Contoh kaidah ini diantaranya:
⚉ Bolehnya bertayammum ketika tidak ada air, atau ada air namun malah menimbulkan bahaya bila menggunakannya.
⚉ Disyariatkan mengqoshor sholat di saat safar.
⚉ Dibolehkan menjamak dua sholat di saat ada kerepotan baik dalam safar maupun muqim.
⚉ Bolehnya sholat sambil duduk bagi orang yang sakit yang tak mampu berdiri.
⚉ Dan sebagainya.
Wallahu a’lam.
Oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih”, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *