Fatawa : Agustusan

🇮🇩🎋fatawa🎋🇮🇩

AGUSTUSAN

(sebuah nasehat dan renungan)

Oleh :

Abu abd rahman bin muhammad suud al atsary.

__________________________________

Hukum acara peringatan 17 agustus

Atas berkat dan rahmat Allah subhanahu wa taala, kaum muslimin dapat keluar dari penjajahan kafir dan dapat menikmati hidup di alam merdeka dari kolonialisme.

Kontribusi terbesar setelah murni karunia Allah subhanahu wa taala, adalah usaha dan perjuangan kaum muslimin dalam merebut kemerdekaan.

Hanya kaum beriman (muslimin) yang punya adil terbesar dalam perjuangan kemerdekaan, di saat ummat dari agama lain mendukung penjajahan dan kolonialisme, bahkan hingga saat ini.

Lihatlah pujian salah satu sekolah agama (seminari) di jakarta, dalam salah satu diktat pengajaran sejarah, memuji penjajahan belanda atas tanah aceh dan mencela perjuangan rakyat aceh yang berusaha mengusir penjajah.

Naam, patut di syukuri, kemerdekaan yang di rebut dengan perjuangan, sehingga kita dapat beribadah dan mencari penghidupan dengan tenang.

Lalu, bagaimana cara memperingati dan mensyukuri kemerdekaan itu ?.

Apakah dengan memperingatinya setiap tahun, dengan pesta pora, karnaval, berjoget, dan musik, serta acara acara yang tidak ada tuntunannya ?

Sesungguhnya para pejuang berkorban agar kita merdeka dari penjajah agar kita dapat hidup layak, bermartabat, dan bebas sebagai hamba Allah, tidak di rendahkan dan di rampas hak hak kita.

Bukan agar kita setelah merdeka, kita peringati dengan hidup hura hura, bersenang senang, dan pesta pora menyambut “kemerdekaan”, dengan “menghidupan malam”, menyetel musik, menutup jalan kaum muslimin, atau minimal “doa lintas agama” atau “doa bersama”.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan shahabat radiyalahu anhum, juga pernah melewati kesulitan, perjuangan, sehingga Allah memenangkan agamanya,

(Lihat surah 110 an Nasr ayat 1 -3 ).

Dan dalam sejarah, kita tidak menjumpai perayaan perayaan yang di lakukan shahabat dan pendahulu kita, setelah mereka menaklukkan satu negeri atau mendapat kemenangan.

Sebagaimana rasulullah shalallahu alaihi wa salam telah menganti perayaan perayaan jahiliyah saat itu, dengan perayaan yang terbaik, yakni Iedul Fitri dan Iedul Adha, yang kita tidak punya hari raya selainnya.

إن الله قد أبدلكم بهما خيرًا منهما، يوم الأضحى و يوم الفطر

“sesungguhnya Allah telah mengganti nya dengan yang lebih baik, yaitu dengan hari iedul adha dan iedul fitri”

(hr Abu Dawud 1134. Nasai 1556. Ahmad 11595).

Mensyukuri kemerdekaan, wahai saudaraku, adalah dengan kita memuji Allah, beribadah kepada Nya, menjaga kemananan negara, berkontribusi positif, dan tidak membuat kerusakan di dalamnya,

Menyemarakkan dengan tauhid, menjalankan sunnah rasul Nya shalallahu alaihi wa salam, saling menasehati atas dasar taqwa dan persaudaraan, taat kepada pemerintah dalam hal yang ma’ruf, dan mewaspadai upaya perusakan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab baik dari luar atau dalam.

Bukan dengan perayaan yang jauh dari tuntunan, hura hura, dan kemaksiatan.

Semua itu masuk dalam kaidah,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

barang siapa mengerjakan satu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka perbuatan itu tertolak

(H.R Muslim).

_____________________________________

Hukum undian atau perlombaan berhadiah saat agustusan

Salah satu acara yang biasa di adakan saat agustusan, selain “doa bersama” dan karnaval, adalah perlombaan, jalan sehat, dan undian berhadiah.

Kita tidak melarang perlomban, jalan sehat, undian, atau semisal.

selama memenuhi kaidah kaidah syar’i, dan jauh dari kezaliman, serta kemaksiatan.

Yang kita bicarakan saat ini adalah undian jalan sehat atau lomba tujuh belasan, dengan menarik iuran dari peserta lomba dan jual kupon.

Yang kita masalahkan adalah sumber dari hadiah tersebut.

para ulama sepakat, bahwa satu perlombaan di bolehkan mendapat hadiah dari pihak ketiga, baik pemerintah, sponsor, atau donatur

(harta haram muamalat kontemporer hal 275).

Al Qurtubi rahimahullah berkata

“perlombaan… Yang hadiahnya di berikan oleh pemerintah, atau donatur, berupa sumbangan dari harta pribadinya, kemudian di berikan pada pemenang, hukumnya boleh, berdasar ijma ulama”

(fathul bari 6/85)

Imam Ibnu hazim rahimahullah berkata

“para ulama sepakat bahwa perjudian yang di haramkan Allah yaitu, orang yang melakukan perlombaan, barang siapa keluar sebagai pemenang berhak mendapat hadiah dari yang kalah”

Imam Ramli rahimahullah berkata

“… Karena tiap peserta berada dalam untung dan rugi, inilah perjudian yang di haramkan, kecuali ada peserta yang ikut bertanding tanpa membayar”

(nihayatul muhtaj 8/168)

Maka, bagaimana hukum satu perlombaan atau jalan sehat berhadiah dengan menjual kupon undian atau iuran ?

Hal ini di rinci.

1. Bila iuran atau penjualan kupon itu untuk konsumsi, baju, dan semisal, dan hadiah satu perlombaan di dapat dari pemerintah, sponsor, dan semisal, bukan di ambil dari iuran atau jual kupon,

atau kupon itu di beri secara cuma cuma (tidak membayar/gratis),

Maka hadiah yang di dapat boleh, dan bukan perjudian.

2. Bila kupon itu untuk hadiah, dan setiap peserta membeli atau membayar dengan jumlah uang tertentu, misal seharga 2 ribu rupiah, dan hasil dari iuran atau jual kupon untuk membeli hadiah dan di berikan pada pemenang,

maka hal ini harom dan termasuk judi.

Allah subhanahu wa taala memperingatkan kita,

انما الخمر و الميسر و الأنصاب و الأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه

Sesungguhnya khamr, judi, sesaji untuk berhala, dan mengundi, adalah rijs (najis dan kotor), perbuatan setan, maka jauhilah

(Surah 5 al Maidah 90).

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata

” ketika seorang berlomba dan ada hadiahnya, namun masing masing membayar iuran, maka hukumnya tidak boleh, dan termasuk judi, karena masing masing ada dua kemungkinan, beruntung atau rugi…”

(al mughni 11/131).

Dan ada fatwa dari MUI (jawa timur) yang kami ketahui, dari dewan fatwanya

‘bila peserta jalan sehat di pungut biaya, selanjutnya biaya itu di jadikan hadiah bagi pemenang, maka hal itu hukumnya harom’.

Di samping itu, kemungkaran lain dalam jalan sehat agustusan, adalah keluarnya wanita dengan pakaian tidak menutup aurat, bersolek / tabaruj, ikhtilat, dan kemungkaran seperti pangung gembira dengan musik dan joget serta lainnya, maka mafsadahnya sangat besar.

Semoga Allah subhanahu wa taala memberi kita hidayah.

__________________________

🇮🇩 HUKUM HORMAT KEPADA BENDERA DAN LAGU KEBANGSAAN

Al Lajnah Ad Daimah Saudi Arabia:
Apakah boleh berdiri untuk menghormati lagu kebangsaan atau hormat kepada bendera ?

Jawab:

Tidak boleh bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.

Ini termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari yang tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam ataupun pada masa al-Khulafa’ Ar-Rasyidin Radiyallahu‘anhum.

Dan yang demikian ini bertentangan dengan kesempurnaan TAUHID yang wajib dan keikhlasan di dalam mengagungkan Allah semata, dan ini merupakan jalan menuju KESYIRIKAN.

Dan yang demikian ini juga termasuk sikap tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, dan merupakan sikap taklid (mengikuti) kebiasaan mereka yang jelek, serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka.

Padahal, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita meniru seperti mereka atau menyerupai mereka.

Wa billahi at-Taufiq, wa shallaallhu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shahbihi wa sallam.

📚[Fatawa Al Lajnah Ad Daimah hal:149]

✍🏻 Catatan Tambahan dari Kami :
– Bila tidak ada bahaya yang mengancam, maka seorang muslim tidak boleh melakukannya, tapi kalau ada bahaya yang mengancam, maka boleh melakukannya dengan tetap mengingkari dalam hati.

-Tetap berusaha menyampaikan atau memberikan alasan (hujjah) kepada panitia akan permasalahan ini dengan tutur bahasa yang baik dan jangan lupa mendoakan mereka agar mereka bisa paham.

Wallahu a’lam

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *