Larangan – Larangan Yang Berhubungan Dengan Tauhid Dan Iman

Kitab Mausu’ah al-Manahi asy-Syar’iyyah
(Ensiklopedia Larangan-Larangan Syariat)

Syaikh Salim bin Ied al-Hilali

LARANGAN LARANGAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN TAUHID DAN IMAN

 

Disini beliau membawakan beberapa kaidah yang berhubungan dengan masalah larangan.

PERTAMA

▶ Masalah yang berhubungan dengan UNGKAPAN dalam Alquran dan Hadits yang menunjukkan kepada yang sifatnya LARANGAN.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Kitab Fawaidul Fawaid berkata:

◼ Setiap perbuatan yang disuruh oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk meninggalkannya,

◼ atau pelakunya dicela/ dilaknat/ dibenci/ dimurkai/ Allah tidak mencintai pelakunya,

◼ atau Allah menyatakan tidak ridha kepada pelakunya,

◼ atau menyerupakannya dengan hewan atau setan,

◼ atau menjadikannya penghalang dari hidayah atau penghalang diterimanya amal,

◼ atau disifati dengan keburukan, atau disifati dengan karohah (yang dibenci),

◼atau yang para Nabi berlindung darinya/ atau para Nabi membencinya,

◼ atau dijadikan sebagai sebab terhalang dari kebaikan,

◼atau sebabnya adzab yang cepat maupun lambat,

◼ atau karena adanya celaan,

◼atau disifati dengan kesesatan/ maksiat/ keburukan (khubuts) / najis (rijs),

◼atau dianggap pelakunya menjadi fasik,

◼atau menjadi sebuah nama atau sebab untuk dosa,

◼ atau (Sebab)hilangnya kenikmatan karena melakukan perbuatan itu,

◼atau akan datangnya adzab bila melakukan perbuatan itu,

◼atau ia adalah merupakan batasan-batasan (hadd)

◼atau akan menyebabkan hati itu menjadi keras,

◼atau mendapatkan kehinaan,

◼atau akan menyebabkan ia dimusuhi Allah, atau dianggap pelakunya memerangi Allah, atau memperolok, atau menjadikan Allah melupakan dia,

◼ atau perintah untuk bersabar darinya, perintah untuk memaafkan, atau menyuruh kita untuk bertaubat,

◼atau pensifatan bahwa pelakunya itu hina,

◼atau dinisbatkan kepada perbuatan setan,

◼atau menjadikan setan bisa menguasai pelakunya,

◼atau pelakunya dianggap dzolim,

◼atau para Nabi berlepas diri dari pelakunya,

◼atau para Nabi mengadukan kepada Allah dari pelakunya,

◼ atau menjadi sebab terhalang dari surga,

◼atau pelakunya dianggap sebagai musuh Allah subhanahu wa ta’ala,

◼ atau pelakunya dianggap memerangi Allah dan Rasul-Nya,

◼atau pelakunya dianggap membawa dosa,

◼atau dikatakan disitu bahwa itu tidak bagus/tidak baik/tidak layak,

◼atau perintah untuk bertakwa dari perkara tersebut (artinya menjauhinya),

◼atau kita disuruh untuk melakukan kebalikannya/berhijrah darinya.

Maka semua ini adalah perkara-perkara yang menunjukkan bahwa perkara ini adalah perkara yang dilarang atau tidak boleh dilakukan.

KEDUA :

HARAMNYA MEMPERSEKUTUKAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA (YAITU : SYIRIK). BAHWASANNYA IA ADALAH DOSA YANG PALING BESAR.

Allah berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 48 :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang Allah kehendaki.

Demikian pula Allah berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 116 :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
*Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.*

➡ Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ
“Jauhi olehmu 7 perkara yang membinasakan”
(yang pertama kali Rasulullah sebutkan adalah “Syirik”)
HR. Imam Muslim

➡ Dan dari Abu Bakrah, ia berkata;
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ
”Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa besar yang paling besar?”

Mereka berkata, “Mau, ya Rasulullah.”

Kata Rasulullah :
الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ
”mempersekutukan Allah…”

وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
”durhaka kepada kedua orang tua…”

Yang tadinya beliau bertelekan (bersandar) lalu beliaupun duduk dan bersabda lagi:
أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ
”…Ketahuilah yaitu bersaksi palsu/berkata dusta (termasuk dosa besar), dan terus Nabi mengulang-ulangnya, sampai kami mengatakan, “andai beliau diam”
(HR. Bukhari Muslim)

➡ Dan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata;
Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ :
“Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”

Maka beliau bersabda:
أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
“yaitu kamu mengambil tandingan selain Allah sedangkanAllah yang telah menciptakan kamu.”

Kemudian Ibnu Mas’ud berkata lagi: “Kemudian apa wahai Rasulullah?”

Kata Rasulullah: “Kamu membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu”.

Aku berkata : “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?”,
Kata Rasulullah : “ berzina dengan istri tetanggamu”.
(HR. BUKHARI dan MUSLIM)

➡ Dan dari hadits Abu Hurairah,ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
من لقي الله لايشرك به شيئاً و أدى زكاة ماله طيبا بها نفسه محتسبا و سمع و أطاع فله الجنة
(أو دخل الجنة)
”Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga,
melaksanakan/mengeluarkan zakat hartanya dengan penuh keridhaan jiwa dan berharap pahala,
ia mendengar dan taat kepada pemimpinnya yang muslim,
maka ia akan masuk ke dalam surga.”
(Hadits Riwayat Imam Ahmad— hadits hasan)

➡ Dan dari hadits Abu Darda, ia berkata; Rasulullah ﷺ memberiku wasiat:
أنْ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا , وَإِنْ قُطِعْتَ وَحُرِّقْتَ
“Jangan kamu sekutukan Allah walaupun tubuhmu dipotong-potong dan kamu dibakar,”

وَ لا تَتْرُك صَلاَةً مَكْتُوبَة مُتَعَمِّدا
”dan jangan kamu tinggalkan shalat dengan sengaja,”

فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدا فَقَدْ بَرِئَت مِنْهُ الذِمَّة
”barangsiapa yang meninggalkankannya (shalat) dengan sengaja, maka sungguh ia telah lepas tanggungannya.,”

Dalil-dalil ini menunjukkan, bahwa orang yang mati dalam keadaan musyrik (berbuat syirik besar), maka pada waktu itu semua amalannya tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan bahwasanya orang yang wafat diatas syirik besar maka ia kekal dalam api neraka dan dia tidak akan pernah masuk surga selama-lamanya.

Dimana hadits (dalil-dalil tadi) juga menunjukkan bahwa orang-orang kafir apabila masuk Islam dan dia wafat diatas keimanan dan tauhid, Allah akan gugurkan semua dosa-dosanya dan kesalahannya.

Karena dalam Islam hanya diterima tauhid, adapun syirik maka itu tidak diterima di dalam Islam.

KETIGA :

AKAN KEHARAMAN RIYA’ , DAN BAHWASANNYA SANKSINYA BERAT.

Riya’ adalah merupakan syirik kecil, dimana apabila amal terkena riya’ maka menyebabkan amal tersebut dibatalkan Allah ﷻ

Hakikat riya’ adalah:
Mengharapkan atau menginginkan pujian dari manusia, sehingga dia seakan-akan selain mengharapkan keridhoan Allah ﷻ juga mengharapkan keridhoan manusia.

Allah ﷻ menyebutkan bahwa riya’ adalah sifat orang-orang munafik.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 142 :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah ﷻ , dan Allah ﷻ akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri menuju shalat mereka berdiri dengan malasnya, dan mereka pun bermaksud riya’ ingin dilihat manusia. Dan mereka tidaklah berdzikir kepada Allah ﷻ kecuali sedikit saja.

Disini Allah ﷻ mensifati orang munafik, mereka itu riya’ ingin dilihat oleh manusia

Dan Allah ﷻ juga berfirman dalam QS. An Nisaa ayat 38:

وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

Dan orang-orang yang berinfak, menginfaqkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan tidak beriman kepada Allah ﷻ dan kepada hari akhir. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu sungguh seburuk-buruknya teman.

Ini menunjukkan bahwa orang yang riya’ sama saja dengan menjadikan setan sebagai temannya

Riya’ adalah merupakan syirik tersembunyi.

Disebutkan dalam hadits Abu Sai’id al Khudri berkata:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Rasulullah ﷺ, keluar kepada kami, sementara kami sedang menyebut-nyebut tentang dajjal. Maka ﷺ bersabda:

”Maukah aku beritahukan kepada kalian yang lebih menakutkan atas kalian dari massihud dajjal?”
Kami berkata; “Mau, wahai Rasulullah”

Rasulullah bersabda: “Yaitu syirik yang tersembunyi. Yaitu seseorang shalat, lalu ia menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”.
HR. Ibnu Majjah

Maka dari itulah, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari riya’. Karena orang yang pertama kali diadzab pada hari kiamat, yaitu orang yang riya’ mengharap pujian dari manusia.

Lalu bagaimana caranya supaya kita selamat dari riya’?

Caranya:
1. Ikhlas.

Sebelum kita beramal, kita berusaha untuk mengoreksi hati kita. Apa tujuan dan motivasi kita dalam beramal.
Apakah mengharapkan wajah Allah ﷻ semata, ataukah mengharapkan pujian manusia dan kehidupan dunia.

Maka apabila di hati kita ada tujuan-tujuan selain Allah ﷻ, berarti kita belum ikhlas dengan sebenar-benarnya ikhlas.

2. Muroqqobah.

Disaat kita beribadah, kita berusaha untuk menggunakan muroqqobah, yaitu senantiasa memeriksa terus hati kita jangan sampai kemasukan riya’.

Kemudian setelah ibadah senantiasa kita kembali muhasabah, apakah ada riya’ masuk ke dalam ibadah kita atau tidak, untuk kemudian kita beristighfar kepada Allah ﷻ.

3. Diantara perkara yang menghilangkan riya’ juga, yaitu: menghadirkan akan kerasnya siksa Allah ﷻ

Dan mengimani bahwasanya manusia tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot apapun juga. dan Bahwasanya pujian itu sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi diri kita, bahkan yang ada adalah mudhorot.

KEEMPAT :

KEHARAMAN YANG SANGAT UNTUK BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLAH ﷻ .

Dari Sa’ad ibn Ubaidah ia berkata:
Aku mendengar dari Ibnu Umar ada seorang bersumpah dengan mengatakan _”Tidak, Demi Ka’bah!”_
Maka aku mendengar Ibnu Umar berkata kepadanya;
Sesungguhnya aku mendengar bahwasanya Rasulullah bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ, maka ia sungguh telah kafir atau berbuat syirik”
HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad

Demikian pula diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullahﷺ bersabda:

كل يمين يحلف بها دون الله شرك

“Setiap sumpah (yang orang bersumpah dengannya) dengan nama selain Allah ﷻ , maka itu termasuk syirik.”

Dan dari hadits Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ وَلاَ بِأُمَّهَاتِكُمْ وَلاَ بِالْأَنْدَادِ وَلاَ تَحْلِفُوا إِلاَّ بِاللهِ وَلاَ تَحْلِفُوا إِلاَّ وَأَنْتُمْ صَادِقُوْنَ

“Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. tidak pula ibu-ibu kalian. tidak pula dengan tandingan-tandingan (patung), janganlah kalian bersumpah kecuali atas Nama Allah ﷻ dan jangan kalian bersumpah dengan Nama Allah ﷻ kecuali kalian dalam keadaan jujur.
HR. Abu Daud, dan haditsnya shahih

Dari Buraidah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang bersumpah dengan nama “amanah” maka ia bukan dari golongan kami”
HR. Abu Daud, Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan hadits ini shahih

Hadits-hadits ini menunjukkan :

1⃣ HARAMNYA bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ dan perkara itu termasuk syirik.

Apakah syirik kecil atau besar?
Itu tergantung niatnya.

Kalau ternyata niatnya;
—> Yang ia sebut namanya selain Allah itu memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat atau mudhorot maka ini syirik besar.

—> Tetapi bila ia tidak punya keyakinan seperti itu, dan semata bersumpah dengan nama selain Allah maka itu syirik kecil.

Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, setelah menyebutkan hadits tentang larangan bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ, beliau berkata:
“dan sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, bahwa maksud sabda Nabi ﷺ —“Sungguh ia telah berbuat kafir atau berbuat syirik”–, Maka ini maksudnya adalah ancaman yang keras”

Alasannya, adalah Hadits Ibnu Umar, bahwasanya Nabi ﷺ mendengar Umar berkata ”Demi ayah dan Demi ibuku…”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda; “Ketahuilah sesungguhnya Allah ﷻ melarang kalian bersumpah dengan nama ayah-ayah kalian.”
—> maka ini termasuk syirik kecil

2⃣ Kemudian hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan sumpah selain nama Allah ﷻ, maka kaffarat nya adalah dengan mengucapkan ( لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ) “Laa ilaaha illallah”.

Orang nyang bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ maka hendaklah ia mengucapkan “ Laa ilaaha illallah”

Kemudian faidah ini juga ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلْفِهِ بِاللاَّتَ فَلْيَقُلْ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

وَ مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ.

“Barangsiapa di antara kalian yang berkata ketika bersumpah, –‘Demi Latta,’– maka hendaknya mengucapkan; LAA ILAAHA ILLALLAAH.”

3⃣ Al Hafidzh Ibnu Hajar berkata, berkata para ulama, :
Rahasia kenapa dilarang bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ, karena bersumpah dengan sesuatu itu menunjukkan bahwa ia mengagungkan sesuatu tersebut. Sementara keagungan itu hakikatnya hanyalah milik Allah ﷻ
(Demikian dalam Fathul Baari jilid 11 Hal. 31)

4⃣ Hadits ini juga menunjukkan bolehnya bersumpah dengan salah satu sifat Allah ﷻ.
Contoh dengan mengatakan:
— ( لاَ وَعِزَّتِكَ — “Laa wa ‘izzatika”) Demi Kemuliaan Mu, Yaa Allah
— Demi Kemurahan Mu, dan yang lainnya.

5⃣ Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang bersumpah dengan “nama selain Allah ﷻ ” dalam keadaan jujur itu _lebih berat_ keadaannya daripada orang yang bersumpah dengan “Nama Allah ﷻ ” dalam keadaan dusta.

Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Aku bersumpah dengan nama Allah ﷻ dalam keadaan berdusta, lebih aku sukai daripada aku bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ dalam keadaan jujur”

—> Karena bersumpah dengan nama selain Allah itu syirik.
—> Sedangkan bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta itu dosa besar,
dan syirik jauh lebih besar daripada dosa besar.

6⃣ Hadits ini menunjukkan bahwa wajib bersumpah dengan Nama Allah ﷻ dalam keadaan jujur, bukan dalam keadaan dusta.

Karena orang yang bersumpah dengan Nama Allah ﷻ dalam keadaan dusta, itu sama saja mempermainkan Nama Allah ﷻ.

Kemudian,
Bagaimana dengan hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullahﷺ atau sebagian sahabat bersumpah dengan nama selain Allah ﷻ? Contoh dalam hadits:

“Sungguh, telah beruntung Demi Bapaknya, jika ia memang benar”

Maka ini kata beliau, dijawab dari beberapa jawaban;
Sebagian mengatakan bahwa ini telah di mansukh oleh hadits-hadits yang melarangnya.

KELIMA:

LARANGAN MENGATAKAN MAA SYAA ALLAH WA SYI’TA
ماشاء الله و شئت  .
Apa yang Allah ﷻ kehendaki dan apa yang kamu kehendaki

Dari Hudzaifah bin Yaman dari Nabi ﷺ bersabda,

Jangan kalian mengucapkan, ماشاء الله و شاءفلان
apa yang Allah ﷻ kehendaki dan kehendaki si fulan tapi ucapkanlah

ماشاء الله ثم شاءفلان
dengan apa yang dikehendaki kemudian dan apa yang dikehendaki si fulan.

(HR Abu Daud, Nasa’i, Ahmad dan lainnya.)

Disebutkan dalam hadits lain dari Thufail bin Sakhbaroh saudaranya Aisyah seibu, bahwa ia melihat dalam tidurnya ada beberapa Yahudi melewatinya dan berkata,

Apa kalian ini ? Mereka berkata, Kami Yahudi.

Kemudian ia berkata,
Sesungguhnya kalian itu kaum yang bagus kalau bukan karena kalian menganggap bahwa Uzair itu anak Allah ﷻ,

Lalu orang Yahudi berkata,
kalian juga kaum yang bagus kalau kalian tidak mengatakan ماشاء الله و شاء محمد
apa yang Allah kehendaki dan apa yang dikehendak Muhammad,

Kemudian dalam mimpinya ia melihat orang orang Nasrani melewatinya, lalu ia berkata,
Siapa kalian ?

Mereka berkata, kami Nasrani,

Kemudian ia berkata, sesungguhnya kalian kaum yang bagus kalau bukan kalian mengatakan ‘Isa bin Maryam anak Allah ﷻ,

Mereka berkata,
sesungguhnya kalian juga kaum yang bagus kalau bukan karena kalian mengatakan
ماشاء الله و شاء محمد

Dipagi harinya ia mengabarkan apa yang ia lihat didalam mimpinya, kemudian mendatangi Nabi ﷺ dan mengabarkannya, maka kemudian Nabi bersabda,

Apakah engkau mengabarkan seseorang ?

Ia berkata : “iya”
ketika telah sholat Rasulullah berkutbah dan memuji Allah ﷻ dan menyanjungnya

Kemudian beliau bersabda, sesungguhnya Thufail melihat dalam mimpi, maka ia telah mengabarkan kepada orang yang ia telah kabari, sesungguhnya kalian mengucapkan kalimat tadinya aku, kalian mengucapkan kalimat yang mencegahku untuk melarang kalian karena rasa malu, maka jangan kalian mengucapkan ماشاء الله و شاء محمد

(HR Imam Ahmad dari beberapa jalan, Ad Darimy, Ibnu Majah dan yang lainnya)

Dari hadits hadits ini kita ambil faidah sebagai berikut,

1⃣ Haramnya mengucapkan Apa yang Allah ﷻ kehendaki dan kehendak si fulan. Kenapa demikian ?
Karena kata kata ( و ) disini mempunyai kesan seakan akan kehendak Allah ﷻ sama dengan kehendak manusia, dan ini menyamakan antara kehendak Allah ﷻ dengan kehendak manusia.

Kata Ibnu Rojab, maka ini orang yang menyamakan antara Allah ﷻ dengan makhluk dalam kehendak . Dengan mengatakan ماشاء الله و شاء فلان dan ini termasuk kesyirikan tentunya

2⃣ Hendaknya seorang muslim menjauhi syirik dalam lafadz.

Maka ketika kita mengucapkan sesuatu melafadzkan sesuatu maka berhati hati apakah yang diucapkan ada kesyirikan apa tidak.

3⃣ Hendaknya ia mengucapkan ماشاء الله ثم شئت apa yang Allah ﷻ kehendaki kemudian apa yang kamu kehendaki.
Karena kata² ثم kemudian itu menunjukkan ketidaksamaan berbeda dengan و.

Oleh karena itulah kewajiban kita dalam hal ini mengikuti apa yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ .

Hadits ini juga menunjukkan
4⃣ Bantahan kepada orang orang Jabariyah yang meniadakan kehendak hamba
Bahwasanya seorang hamba tidak punya kehendak.

Adapun ahlussunnah menganggap manusia punya kehendak, keinginan, kemampuan namun kehendak manusia memang mengingikuti kehendak Allah ﷻ tapi manusia juga memiliki kemampuan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu yahya Badrusallam lc

Sumber : WAG Al fawaid 16
Di publikasikan kembali oleh : Ukhuwahfillhijrah.com

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *