Tumal Hakim

fawaid edisi khusus

🥀 TUMAL HAKIM

(sebuah nasehat pentingnya belajar dengan guru, dan adab adab yang di tinggalkan penuntut ilmu atas mereka (guru), saat ini)

🖋 abu abd rahman bin muhammad suud al atsary

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah

(di riwayatkan) Imam ibnu Hayyan sering melantunkan syair di bawah ini

يظن الغمر ان الكتب تهدى

اخافهم لإدراك العلوم

وما يدرى الجهول بأن فيها

غوامض حيرت عقل الفهيم

إذا رمت العلوم بغير شيخ

ضللت عن الصراط المستقيم

وتلتبس الأمور عليك حتى

تصير اضل من توما الحكيم

📚 (syarah hilyah thalibil ilmi syaikh muhammad shalih utsaimin 103)

Orang yang bodoh menyangka bahwasanya kitab bisa membuat orang yang pandai memperoleh ilmu

Orang yang bodoh itu tidak tau
Bahwa dalam kitab itu banyak kesulitan yang bisa membingungkan akal

Kalau engkau menginginkan ilmu tanpa guru
Niscaya engkau tersesat dari jalan yang lurus

Dan banyak masalah yang rancu bagimu
Dan engkau akan lebih tersesat dari “Tumal Hakim”.

Imam ibnu Khaldun rahimahullah dalam Muqodimahnya,

من لم يشافه عالما بأصوله

يقينه فى المشكلات ظنون

📚 (muqodimah ibnu khaldun 551)

Barang siapa tidak belajar dasar dasar ilmu langsung dari ulama

Maka, kesimpulan kesimpulan yang di yakininya dalam banyak masalah yang sulit sebenarnya hanya dugaan dugaan semata.

MEMULIAKAN GURU DENGAN BAIK, SIFAT YANG TELAH HILANG DARI SEBAGIAN PENUNTUT ILMU,

DAN SIKAP PADA GURU DI ANTARA BERLEBIHAN DAN MEREMEHKAN

(kami ringkas dari bab ke tiga kitab hilyah)

Berkata syaikh Bakr bin Abdullah abu zaid rahimahullah dalam kitab hilyahnya

Karena dasar keilmuan tidak dapat di peroleh dengan belajar sendiri dari kitab, namun dari bimbingan guru yang akan membuka pintu pintu ilmu baginya, agar engkau selamat dari kesalahan dan ketergelinciran,

karena itu, hendaknya engkau jaga kehormatannya, yang mana hal itu adalah tanda keberhasilan, kesuksesan, serta engkau mendapat ilmu dan taufiq,

Jadikan gurumu orang yang engkau hormati, hargai, agungkanlah dan berlemah lembutlah, berlaku sopan…

jangan banyak bicara dan berdebat dengannya…

Jangan ngotot untuk mendapat jawaban darinya…

Janganlah engkau memangilnya dengan namanya saja atau dengan gelarnya saja…

…Bersikap memuliakan majelis ilmu, dan nampakkanlah kegembiraan dan bisa mengambil faidah saat belajar,

Dan saat engkau menemukan kesalahan gurumu atau kebimbangannya, jangan jadikan alasan untuk meremehkannya, karena itu bisa menjadi sebab engkau tidak mendapat ilmu, dan siapakah orang yang tidak pernah bersalah ?,

Hati hati, jangan sampai membuat gurumu gusar, hindari perang urat syaraf dengannya, dalam arti jangan menguji kemampuannya keilmuan atau ketabahan hatinya,

Kalau engkau belajar pada guru lain, hendaknya engkau meminta ijinnya, karena sikap ini menunjukkan kecintaanmu padanya, serta membuatnya mencintai dan menyayangimu,

…. Dan ketahuilah bahwa dengan kadar (seberapa) engkau menjaga kehormatan gurumu, maka engkau akan mendapat kesuksesan dan keberhasilan, sebaliknya, bila engkau meremehkannya, maka di situlah tanda kegagalan.

Saya memohon kepada Allah taala, semoga melindungimu dari perbuatan orang ‘ajam (selain orang arab), juga ahli thariqoh, serta ahli bidah di masa ini,

Di antaranya sikap tunduk (pada guru) yang keluar dari batasan syar’i,

Misalnya, menjilat tangan guru, mencium pundaknya (dalam etika sufi), memegang tangan guru (saat salaman) dengan kedua tangannya, begitu juga menundukkan badan saat bersalaman, serta mengunakan kalimat yang merendahkan diri (dalam etika sufi) yang biasa di gunakan untuk menunjukkan status pembantu dan budak,

…. Guru adalah adalah tauladan dalam akhlak dan dan perangai, sedang masalah belajar ilmu (darinya) adalah laba belaka (masalah lain lagi),

Hanya saja, jangan sampai kecintaamu pada guru menyebabkan engkau jatuh pada perbuatan tercela tanpa engkau sadari (sebagaimana orang orang sufi memberlakukan mursyid thariqohnya)

… Karena gurumu menjadi seorang mulia dengan ilmunya (bukan dengan penghormatan berlebih) ,

Aktifitas seorang guru (dalam memberi pelajaran) haruslah sebatas kemampuan pelajar dalam mendengar, konsentrasinya, dan batasan ia menerima pelajaran darinya,

Oleh karena itu (ini untuk murid yang lain), berhati hatilah jangan sampai (engkau) menjadi sebab terputusnya ilmu, karena rasa malas, patah semangat, menyerah, dan menyebabkanmu berfikir yang tidak tidak,

Imam khatib Baghdadi rahimahullah berkata

“hak ilmu (untuk di berikan) itu hendaknya tidak di berikan kecuali pada yang mencarinya, tidak di berikan kecuali pada orang yang menginginkannya, bila seorang pengajar, melihat rasa enggan dari muridnya, hendaknya ia diam (berhenti dari meneruskan pelajaran)…”

📚 di ringkas dari kitab حلية طالب العم

makna tumal hakim memiliki cerita tersendiri, tapi dalam pembahasan ini, kami sebut saja sebagai seorang jahil yang berlagak bijaksana. Naam.

semoga Allah taala memberi kita ilmu yang bermanfaat, dan keikhlasan hati

dan juga adab adab yang baik, baik dalam sikap, ucapan, dan tindakkan yang mencerminkan sebagai seorang penuntut ilmu, dan juga bisa menempatkan diri pada satu majelis dan berinteraksi dengan manusia.

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *