Bolehkah Berpuasa Syawwal Sebelum Qodho (Mengganti) Puasa Ramadhon?

Bolehkah Berpuasa Syawwal Sebelum Qodho (Mengganti) Puasa Romadhon?

Hal ini berkaitan dengan hukum puasa sunnah sebelum mengqodho puasa Romadhon. Ada silang pendapat di antara para Ulama.

Para Ulama Malikiyyah dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat mewajibkan qodho Romadhon sebelum puasa sunnah. (Al-Bada’i’ 2/104, Mawahibul Jalil 2/417, Al-Majmu’ 6/375, Al-Mughni 4/401 – Shohih Fiqhussunnah 2/140)

Qodho hukumnya wajib sedangkan puasa Syawwal hukumnya sunnah (dianjurkan) maka yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah. Syaikh Al-‘Allamah Al-‘Utsaimin sejalan dengan pendapat ini. (Syarh Riyadhussholihin 3/507 dan Asy-Syarhul Mumti’ 6/448)

Dalilnya sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim 1164)

“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon” maksudnya telah berpuasa Romadhon secara sempurna. Karena apabila masih ada utang Romadhon kemudian dia berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia tidak mendapat pahala puasa setahun penuh. Orang yang masih punya utang puasa sehari saja di bulan Romadhon dia belum dianggap telah berpuasa Romadhon.

Sedangkan para Ulama Syafiiyyah menganjurkan untuk mendahulukan qodho puasa Romadhon sebelum berpuasa sunnah. (Al-Bada’i’ 2/104, Mawahibul Jalil 2/417, Al-Majmu’ 6/375, Al-Mughni 4/401 – Shohih Fiqhussunnah 2/140)

Artinya seseorang boleh berpuasa sunnah sebelum mengqodho akan tetapi mendahulukan yang wajib lebih diutamakan.

Adapun para Ulama dari kalangan Hanafiyyah dan Imam Ahmad dalam riwayat lain berpendapat bahwa qodho tidak wajib didahulukan  (Al-Bada’i’ 2/104, Mawahibul Jalil 2/417, Al-Majmu’ 6/375, Al-Mughni 4/401 – Shohih Fiqhussunnah 2/140). Yaitu boleh berpuasa sunnah meski belum mengqodho Romadhon. Dalilnya sebagai berikut:

1. “….Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tinggalkan puasanya itu) pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqoroh: 184)

2. Dari ‘Aisyah, “Aku pernah punya utang puasa Romadhon akan tetapi aku tidak mampu mengqodhonya melainkan di bulan Sya’ban.” (HR. Muslim 1146)

Sisi pendalilannya bahwa ‘Aisyah menunda qodho sampai bulan Sya’ban sehingga puasa Syawwal dapat dilakukan sebelum mengqodho puasa Romadhon karena rentang waktu yang cukup panjang.

Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata, “Riwayat ‘Aisyah menunjukkan bolehnya menunda qodho Romadhon secara mutlak baik adanya ‘udzur atau tidak.

Sebagian Ulama memberi gambaran, “Apabila telah berkumandang adzan Dzhuhur maka wajib engkau sholat Dzhuhur, akan tetapi engkau boleh mendahulukan sholat sunnah rowatib sebelum sholat Dzhuhur. Itu berarti engkau telah mendahulukan yang sunnah sebelum yang wajib.” (Mawsu’ah Al-Fatawa Al-Islamiyah – Khulashotul Kalam Fi Ahkami Ulama’ Al-Baladil Harom hal. 193)

3. Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau tentang qodho puasa Romadhon, “Jika engkau mau maka bisa (berpuasa) berlainan hari, jika engkau mau maka engkau dapat (berpuasa) berturut-turut.” (HR. Ad-Daruquthni)

Pendapat yang Lebih Kuat

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Ulama yang mewajibkan qodho Romadhon sebelum puasa sunnah. Alasanya antara lain sebagai berikut:

Pertama, hikmah dari puasa enam hari di bulan Syawwal seperti berpuasa setahun penuh, sementara orang yang berpuasa Syawwal sebelum menunaikan qodho Romadhon maka ganjarannya belum terhitung setahun.

Kedua, firman Allah dalam surat Al-Baqoroh 184 tersebut berkenaan dengan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan seperti orang yang sakit, dalam perjalanan safar atau ‘udzur yang lain. Jadi tidak melazimkan bolehnya berpuasa sunnah sebelum qodho Romadhon. “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa) maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari yang lain.”

Ibnu Hazm berkata, “Apabila belum memiliki kemampuan maka dia boleh mengqodhonya tanpa berturut-turut dan cukup baginya firman Allah ta’ala, “Maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari yang lain”, dan di sini Allah tidak membatasinya dengan waktu dalam mengqodho puasa.” (Al-Muhalla tahqiq Al-‘Allamah Ahmad Syakir 3/308)

Ketiga, ‘Aisyah menunda qodho puasa karena adanya  ‘udzur (halangan) untuk menyegerakannya. Di sana ada isyarat bahwa andaikata ‘Aisyah mampu maka beliau tidak akan menundanya sampai bulan Sya’ban. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani dalam “Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhissunnah” hal. 422

Keempat, tersembunyinya ‘udzur ‘Aisyah dari Al-Hafidzh Ibnu Hajar. (Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhissunnah hal. 422)

Kelima, riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu ‘Umar sanadnya lemah karena ada rowi yang majhul bernama Sufyan bin Bisyr. (Tamamul Minnah Fit Ta’liq ‘ala Fiqhissunnah hal. 422)

Keenam, permisalan sebagian Ulama yang disebutkan di atas perlu ditinjau kembali, karena yang menjadi pokok pembahasan terkait utang puasa Romadhon yang harus segera dibayar. Sama seperti orang yang lupa dari sholatnya atau sudah di luar waktunya maka dia harus segera tunaikan setelah ingat.
___________

✍🏻Ustadz Fikri Abul Hasan

Artikel: Ukhuwahfillhijrah.com
Telegram chanel : http://t.me/ukhuwahfilhijrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *