tata cara sujud syahwi

#Tanya Ustadzah 1 โ“
Nama : Nurrahma
Asal : Belitung

Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh
1. Bagaimana tata cara sujud syahwi yang benar?
2. Apakah boleh jika berwudhu dalam keadaan tidak memakai sehelai kain pun?
Baarakallahu fiiki ๐ŸŒน
Jazaakillahu khayran umm

Jawaban 1
Ustadzah Nabila Ummu Abdurrahman Hafidhohullaohu ta’ala

Tata Cara Sujud Sahwi

Sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadits bahwa sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat โ€“sebelum atau sesudah salam-. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir โ€œAllahu akbarโ€, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Contoh cara melakukan sujud sahwi sebelum salam dijelaskan dalam hadits โ€˜Abdullah bin Buhainah,

ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุชูŽู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชูŽู‡ู ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู ููŽูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุณูŽุฌู’ุฏูŽุฉู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฌูŽุงู„ูุณูŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ูŽ

โ€œSetelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.โ€ (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

Contoh cara melakukan sujud sahwi sesudah salam dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah,

ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ููŽุฑูŽููŽุนูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ูˆูŽุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ูˆูŽุฑูŽููŽุนูŽ

โ€œLalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.โ€ (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Sujud sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam sebagaimana dijelaskan dalam hadits โ€˜Imron bin Hushain,

ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ.

โ€œKemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah rakaโ€™at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.โ€ (HR. Muslim no. 574)

Apakah ada takbiratul ihrom sebelum sujud sahwi?

Sujud sahwi sesudah salam tidak perlu diawali dengan takbiratul ihrom, cukup dengan takbir untuk sujud saja.

Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Landasan mengenai hal ini adalah hadits-hadits mengenai sujud sahwi yang telah lewat.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, โ€œPara ulama berselisih pendapat mengenai sujud sahwi sesudah salam apakah disyaratkan takbiratul ihram ataukah cukup dengan takbir untuk sujud? Mayoritas ulama mengatakan cukup dengan takbir untuk sujud. Inilah pendapat yang nampak kuat dari berbagai dalil.โ€[Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 3/99, Darul Maโ€™rifah, 1379.]

Apakah perlu tasyahud setelah sujud kedua dari sujud sahwi?

Pendapat yang terkuat di antara pendapat ulama yang ada, tidak perlu untuk tasyahud lagi setelah sujud kedua dari sujud sahwi karena tidak ada dalil dari Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang menerangkan hal ini.

Adapun dalil yang biasa jadi pegangan bagi yang berpendapat adanya, dalilnya adalah dalil-dalil yang lemah.
Jadi cukup ketika melakukan sujud sahwi, bertakbir untuk sujud pertama, lalu sujud. Kemudian bertakbir lagi untuk bangkit dari sujud pertama dan duduk sebagaimana duduk antara dua sujud (duduk iftirosy). Setelah itu bertakbir dan sujud kembali. Lalu bertakbir kembali, kemudian duduk tawaruk. Setelah itu salam, tanpa tasyahud lagi sebelumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, โ€œTidak ada dalil sama sekali yang mendukung pendapat ulama yang memerintahkan untuk tasyahud setelah sujud kedua dari sujud sahwi.

Tidak ada satu pun hadits shahih yang membicarakan hal ini. Jika memang hal ini disyariatkan, maka tentu saja hal ini akan dihafal dan dikuasai oleh para sahabat yang membicarakan tentang sujud sahwi. Karena kadar lamanya tasyahud itu hampir sama lamanya dua sujud bahkan bisa lebih. Jika memang Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melakukan tasyahud ketika itu, maka tentu para sahabat akan lebih mengetahuinya daripada mengetahui perkara salam, takbir ketika akan sujud dan ketika akan bangkit dalam sujud sahwi. Semua-semua ini perkara ringan dibanding tasyahud.โ€[3] Dialihbahasakan secara bebas dari Majmuโ€™ Al Fatawa, 23/49.]

Doโ€™a Ketika Sujud Sahwi
Sebagian ulama menganjurkan doโ€™a ini ketika sujud sahwi,

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ูŽุงู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู‡ููˆ

โ€œSubhana man laa yanaamu wa laa yas-huwโ€ (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa).
[Bacaan sujud sahwi semacam ini di antaranya disebutkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam Roudhotuth Tholibiin, 1/116, Mawqiโ€™ Al Waroq.]

Namun dzikir sujud sahwi di atas cuma anjuran saja dari sebagian ulama dan tanpa didukung oleh dalil.

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู : ุณูŽู…ูุนู’ุช ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ูŠูŽุญู’ูƒููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุณู’ุชูŽุญูุจู‘ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ูููŠู‡ูู…ูŽุง : ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ูŽุงู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู‡ููˆ โ€“ ุฃูŽูŠู’ ูููŠ ุณูŽุฌู’ุฏูŽุชูŽูŠู’ ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ูˆู โ€“ ู‚ูู„ู’ุช : ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุฌูุฏู’ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ู„ู‹ุง .

โ€œPerkataan beliau, โ€œAku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: โ€œSubhaana man laa yanaamu wa laa yas-huwโ€ ketika sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, โ€œAku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.โ€ (At Talkhis Al Habiir, 2/6)
Sehingga yang tepat mengenai bacaan ketika sujud sahwi adalah seperti bacaan sujud biasa ketika shalat. Bacaannya yang bisa dipraktekkan seperti,

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูู‰ูŽ ุงู„ุฃูŽุนู’ู„ูŽู‰

โ€œSubhaana robbiyal aโ€™laaโ€ [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] [Muslim no. 772]

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุจูุญูŽู…ู’ุฏููƒูŽ ุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู‰
โ€œSubhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.โ€ [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku][[HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484]

Dalam Mughnil Muhtaj โ€“salah satu kitab fiqih Syafiโ€™iyah- disebutkan, โ€œTata cara sujud sahwi sama seperti sujud ketika shalat dalam perbuatann wajib dan sunnahnya, seperti meletakkan dahi, thumaโ€™ninah (bersikap tenang), menahan sujud, menundukkan kepala, melakukan duduk iftirosy [Duduk iftirosy adalah keadaan duduk seperti ketika tasyahud awwal, yaitu kaki kanan ditegakkan, sedangkan kaki kiri diduduki pantat.
ketika duduk antara dua sujud sahwi, duduk tawarruk [Duduk tawaruk adalah duduk seperti tasyahud akhir, yaitu kaki kanan ditegakkan sedangkan kaki kiri berada di bawah kaki kanan. [Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh โ€˜Abdul โ€˜Aziz bin โ€˜Abdillah bin Baz sebagai ketua; Syaikh โ€˜Abdur Rozaq โ€˜Afifi sebagai wakil ketua; dan Syaikh โ€˜Abdullah bin Quโ€™ud sebagai anggota. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al โ€˜Ilmiyyah wal Iftaโ€™ soal ketujuh, fatwa no. 8540, 7/129]

Ketika selesai dari melakukan sujud sahwi, dan dzikir yang dibaca pada kedua sujud tersebut adalah seperti dzikir sujud dalam shalat.โ€
Sebagaimana pula diterangkan dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah (komisi fatwa di Saudi Arabia) ketika ditanya, โ€œBagaimanakah kami melakukan sujud sahwi?โ€
Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah menjawab, โ€œSujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud setelah tasyahud akhir sebelum salam, dilakukan sebagaimana sujud dalam shalat. Dzikir dan doโ€™a yang dibaca ketika itu adalah seperti ketika dalam shalat. Kecuali jika sujud sahwinya terdapat kekurangan satu rakaโ€™at atau lebih, maka ketika itu, sujud sahwinya sesudah salam. Demikian pula jika orang yang shalat memilih keraguan yang ia yakin lebih kuat,maka yang afdhol baginya adalah sujud sahwi sesudah salam. Hal ini berlandaskan berbagai hadits shahih yang membicarakan sujud sahwi]

Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkhususkan jika memang sujud sahwinya terletak sesudah salam, inilah yang beliau bolehkan. Lihat Majmuโ€™ Al Fatawa, 23/32.]

Jika Lupa Melakukan Sujud Sahwi, Apakah Shalatnya Mesti Diulangi?

Mengenai masalah ini kita dapat bagi menjadi dua keadaan:

Keadaan pertama: Jika sujud sahwi yang ditinggalkan sudah lama waktunya, namun wudhunya belum batal.
Dalam keadaan seperti ini โ€“menurut pendapat yang lebih kuat- selama wudhunya masih ada, maka shalatnya tadi masih tetap teranggap dan ia melakukan sujud sahwi ketika ia ingat meskipun waktunya sudah lama. Inilah pendapat Imam Malik, pendapat yang terdahulu dari Imam Asy Syafiโ€™i, Yahya bin Saโ€™id Al Anshori, Al Laits, Al Auzaโ€™i, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkhususkan jika memang sujud sahwinya terletak sesudah salam, inilah yang beliau bolehkan. Lihat Majmuโ€™ Al Fatawa, 23/32.]

Di antara alasan pendapat di atas adalah:

Pertama: Karena jika kita mengatakan bahwa kalau sudah lama ia meninggalkan sujud sahwi, maka ini sebenarnya sulit dijadikan standar. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sendiri pernah dalam lupa sehingga hanya mengerjakan dua atau tiga rakaโ€™at, setelah itu malah beliau ngobrol-ngobrol, lalu keluar dari masjid, terus masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu ada yang mengingatkan. Lantas beliau pun mengerjakan rakaโ€™at yang kurang tadi. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi. Ini menunjukkan bahwa beliau melakukan sujud sahwi dalam waktu yang lama. Artinya waktu yang lama tidak bisa dijadikan.

Kedua: Orang yang lupa โ€“selama wudhunya masih ada- diperintahkan untuk menyempurnakan shalatnya dan diperintahkan untuk sujud sahwi. Meskipun lama waktunya, sujud sahwi tetap diwajibkan. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุณูู‰ูŽ ุตูŽู„ุงูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ู†ูŽุงู…ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ููŽูƒูŽูู‘ูŽุงุฑูŽุชูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠูŽู‡ูŽุง ุฅูุฐูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ูŽุง

โ€œBarangsiapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka kafarohnya (penebusnya) adalah hendaklah ia shalat ketika ia ingat.โ€ (HR. Muslim no. 684)

Keadaan kedua: Jika sujud sahwinya ditinggalkan dan wudhunya batal.
Untuk keadaan kedua ini berarti shalatnya batal hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Orang seperti berarti harus mengulangi shalatnya. Kecuali jika sujud sahwi yang ditinggalkan adalah sujud sahwi sesudah salam dikarenakan kelebihan mengerjakan rakaโ€™at, maka ia boleh melaksanakan sujud sahwi setelah ia berwudhu kembali.

Jika Lupa Berulang Kali dalam Shalat
Jika seseorang lupa berulang kali dalam shalat, apakah ia harus berulang kali melakukan sujud sahwi? Jawabannya, hal ini tidak diperlukan.
Ulama Syafiโ€™iyah, โ€˜Abdul Karim Ar Rofiโ€™i rahimahullah mengatakan, โ€œJika lupa berulang kali dalam shalat, maka cukup dengan sujud sahwi (dua kali sujud) di akhir shalat.โ€

Sujud Sahwi Ketika Shalat Sunnah
Sujud sahwi ketika shalat sunnah sama halnya dengan shalat wajib, yaitu sama-sama disyariโ€™atkan. Karena dalam hadits yang membicarakan sujud sahwi menyebutkan umumnya shalat, tidak membatasi pada shalat wajib saja.
Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, โ€œSebagaimana dikatakan dalam hadits โ€˜Abdurrahman bin โ€˜Auf,

ุฅุฐูŽุง ุดูŽูƒู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู

โ€œJika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya.โ€ Hadits ini menunjukkan bahwa sujud sahwi itu disyariatkan pula dalam shalat sunnah sebagaimana disyariatkan dalam shalat wajib (karena lafazh dalam hadits ini umum). Inilah yang dipilih oleh jumhur (mayoritas) ulama yang dulu dan sekarang. Karena untuk menambal kekurangan dalam shalat dan untuk menghinakan setan juga terdapat dalam shalat sunnah sebagaimana terdapat dalam shalat wajib.โ€

2. Hukum Wudhu Tanpa Sehelai Benangpun

Seseorang yang melakukan wudhu sambil telanjang di kamar mandi dan tidak ada seorang pun bersamanya, hukumnya boleh dan wudhunya sah. Hanya saja, yang lebih afdhal dia tidak melakukan hal itu. Karena melepas pakaian tidak selayaknya dilakukan kecuali dalam keadaan dibutuhkan. Seperti ketika mandi.

Diriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah radhiallahu โ€˜anhu, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tentang auratnya, kapan wajib ditutup dan kapan boleh ditampakkan. Kemudian Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ุงุญู’ููŽุธู’ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุชูŽูƒูŽ ุฅูู„ุงู‘ ู…ูู†ู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽุชููƒูŽ ุฃูŽูˆู’ ู…ู…ุง ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ูŠูŽู…ูŠู†ููƒูŽ

โ€œJaga auratmu, kecuali untuk istrimu atau budakmu.โ€

Orang itu bertanya lagi: Bagaimana jika seorang lelaki bersama lelaki yang lain?

Beliau menjawab:

ุฅู† ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูŽ ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฑูŽุงู‡ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ููŽุงูู’ุนูŽู„ู’

โ€œJika engkau mampu agar auratmu tidak dilihat orang lain, lakukanlah!โ€

Orang itu bertanya lagi: Ketika seseorang itu sendirian?

Beliau menjawab:

ููŽุงู„ู„ู‡ ุฃูŽุญู‚ู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠุณุชุญูŠุง ู…ูู†ู’ู‡ู

โ€œAllah lebih layak seseorang itu mallu kepada-Nya.โ€ (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibn Majah, dan dihasankan Al-Albani)

Disadur dari: Fatwa Syabakah islamiyah, no. 3762

Hal yang sama juga difatwakan Komite Fatwa Arab Saudi. Ketika ditanya masalah wudhu dalam kondisi telanjang atau hanya memakai celana pendek, tim fatwa menjawab:

Wudhunya sah, karena membuka aurat maupun hanya memakai celana pendek, tidaklah menghalangi sahnya wudhu.

(Fatwa Lajnah Daimah, 5:235)

โ—SESI TANYA-JAWAB : Ukhuwah Fil Hijrahโ—
โ”ˆโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโŠฐโœฟ๐Ÿ“šโœฟโŠฑโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโ”ˆ
Website : ukhuwahfillhijrah.com
Instagram :instagram.com/ukhuwahfilhijrah
Facebook : web.facebook.com/ukhuwahfilhijrah
Fanspage : www.facebook.com/ufha.ufhi/
Telegram : t.me/ukhuwahh
Link Pendaftaran : http://bit.ly/2UfH-Adm1

โ— silahkan di sebarkan dengan tetap mencantumkan sumber โ—

โ”ˆโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโŠฐโœฟ๐Ÿ“šโœฟโŠฑโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโ”ˆโ”ˆโ€ขโ”ˆ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *