Fenomena Rihul ahmar

RIHUL AHMAR

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد

PERTANYAAN

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Ana ingin bertanya tentang apa itu *Rihul Ahmar* ?
Apakah Ada doanya?
Mohon penjelasannya. Syukron
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Penanya : IDA (UFHA 6)
Asal : Bogor

JAWABAN

Keberadaan fenomena tentang riihul ahmar adalah *merupakan pembicaraan terhadap hal ghaib.* Dan kita tidak boleh mempercayai keghaiban melainkan harus berdasarkan wahyu, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan tidak ada di dalam keduanya keterangan tentang keberadaan fenomena Rihul Ahmar ini.

Disebutkan dalam salah satu fatwa para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daaimah :

بعد النظر في الأوراق المذكورة تبين أن فيها مخالفات شرعية كثيرة، لا يجوز إقرارها ولا توزيعها بين الناس؛ لأنها تشتمل على بدع وشركيات وألفاظ غريبة، فمن ذلك:*

قوله: (ثم تقول بصوت دون صوتك بتلاوة القرآن، ثم تقول بصوت خفيض) وتحديد الصوت بهذه الكيفية لا دليل عليه.
yفي قوله في الاستعاذة من شر المخلوقات ومن الريح الأحمر، وتحديد هذا النوع من الريح لا دليل عليه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ من شر الريح مطلقًا.

“Setelah diadakan penelitian terhadap cerita tentang rihul ahmar ini maka menjadi jelas adanya penyimpangan yang sangat banyak, maka tidak boleh disetujui, tidak boleh dibenarkan dan tidak boleh dishare di kalangan khalayak ramai karena selebaran tentang rihul ahmar ini mengandung banyak kesyirikan, kebid’ahan dan lafadz-lafadz yang aneh. Diantara lafadz doanya disebutkan di sana :

“Kemudian Engkau berkata dengan suara yang bukan suaraMu dengan membaca Al-Qur’an. Kemudian engkau bersuara dengan suara rendah.”

Membatasi suara dengan pembatasan seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali.

Di dalamnya juga ada permintaan perlindungan dari keburukan makhluk dan dari keburukan Rihul Ahmar (Angin merah). Penyebutan angin dengan kriteria seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari keburukan angin secara mutlak.

(Fatawa Lajnah Daimah : 24/280).
Dijawab oleh :
Ustadzah Ummu Abdurrahman Nabila hafidzahulloh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *