Noda noda hitam pernikahan (bag.2)

Noda noda Hitam dalam Pernikahan

Bagian ke 2⃣

▪Pernikahan yang jelas-jelas ada syariatnya dan jelas bimbingannya, mulai dari rencana sampai pelaksanaannya, sampai pun perjalanan hidup kedua insan telah ada aturannya dalam agama, tetap tidak lepas dari amalan-amalan kesyirikan.

Saat seseorang ingin membangun rumah tangga, sang dukun menjadi pemutus semua perkara dalam pelaksanaannya, dari kapan waktu yang terbaik, tepat, dan menguntungkan, baik harinya maupun bulannya, baik penanggalan hijriah atau masehi, seolah-olah dukun mengetahui rahasia hidup setiap manusia. Semuanya jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

▪Tidak luput juga terkait dengan calon yang akan dijadikan pasangan, sudah barang tentu akan meminta petuah sang dukun.

Cocokkah❓

Layakkah❓

Akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari atau malah mendatangkan marabahaya❓

Akan menguntungkan atau tidak❓

Akan menjadi orang kaya jika menikah dengannya atau malah menjadi miskin❓

Sekali lagi, Allah ta’ala mereka anggap bukan lagi satu-satunya tempat mengadu dan mengeluh. Bahkan, ketika akad telah selesai, sang wanita tidak boleh masuk ke rumah sang lelaki melainkan didahului acara menyembelih di hadapan sang wanita, agar ketika memasuki rumah sang suami tidak terkena gangguan jin dan mata jahat. (Lihat al-Ighatsah Syarah Utsul Tsalatsah hlm. 23).

▪Jika Allah ta’ala menakdirkan hamil, ada acara mandi pada bulan ketujuh di sebuah tempat untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan serta agar janin tersebut terpelihara dari segala macam gangguan; yang diistilahkan oleh orang Jawa: mitoni.

▪Demikian pula memakai jimat-jimat ketika hamil, baik yang dipasang di tangan, kaki, maupun di pinggang, baik dari lingkaran benang maupun akar-akar kayu. Semuanya adalah perbuatan yang menyelisihi akidah yang benar.

▪Adat Istiadat

Segala bentuk penyimpangan dari akidah di atas, sangat ditopang oleh adat istiadat yang berlaku di sebuah daerah. Siapa pun yang akan melakukan pernikahan dipersyaratkan melalui tata cara adat tersebut. Jika ada yang mencoba menentangnya karena adat tersebut menyelisihi norma-norma agama, pernikahan itu bisa dibatalkan.

▪Sampai sedemikan rupa kekuatan hukum adat dalam menata kehidupan manusia. Dari manakah sesungguhnya hukum adat tersebut ?

Jika didalami dan dikaji, adat istiadat sesungguhnya merupakan aturan peninggalan para leluhur dan nenek moyang yang mengandung ketidak jelasan status agama dan keyakinan mereka.

▪Jika dicermati dengan saksama, kita akan menemukan berbagai macam adat itu bermuara pada adat istiadat jahiliah sebagaimana contoh di atas, yaitu adanya anggapan sial dengan hari, bulan, dan tempat tertentu, lantas mengembalikan segala urusan hidup kepada paranormal alias dukun

▪Bahkan, bisa dikatakan banyak adat istiadat dalam kehidupan kaum muslimin yang banyak kemiripan dengan agama di luar Islam seperti agama Hindu dan Budha.

▪Saudaraku kaum muslimin, mari kita membersihkan segala bentuk amaliah kita dari noda-noda kesyirikan yang akan menghancurkan masa depan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Allah ta’ala mengutus para rasul untuk melakukan perbaikan di muka bumi ini dan termasuk mandat yang pertama dan utama yang mereka emban dari Allah ta’ala adalah agar menyerukan kepada tauhidullah dan mengingkari segala bentuk kesyirikan.

Wallahu a’lam.

Selesai…

Sumber, Asy Syariah Edisi 72, 26 April 2012.asysyariah.com

Penulis al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Hafizhohullohu.

_______

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *