Noda noda hitam pernikahan (bag.1)

● Noda-noda Hitam dalam Pernikahan●

Bagian ke 1⃣

▪Masa Jahiliah

Pernikahan sebelum datangnya Islam telah ada, namun nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi Wasallam pun telah menghapus segala bentuk pernikahan jahiliah dan menetapkan yang sesuai dengan Islam.

▪Telah diceritakan oleh Aisyah Rodhiyallohu ‘anhu sebagaimana dalam riwayat al-Imam al-Bukhari di dalam Shahih-nya (no. 4834). Beliau Sholallohu ‘alaihi Wasallam berkata, “Pernikahan di masa jahiliah ada empat bentuk:

1 ▶Pernikahan seperti yang kita kenal sekarang ini. Seorang lelaki datang mengkhitbah (melamar) kepada wali wanita atau kepada wanitanya, lalu sepakat untuk kemudian melangsungkan pernikahan.

2 ▶ Seorang suami berkata kepada istrinya, ‘Bila engkau telah suci dari haid maka pergilah engkau ke fulan dan berhubunganlah engkau dengannya❗Suami tersebut menjauhi istrinya dan tidak menggaulinya sampai istrinya benar-benar hamil dari laki-laki tersebut. Jika benar-benar hamil dan dia menyukainya, dia terima. Hal ini dia lakukan supaya mendapatkan anak bangsawan. Pernikahan ini disebut dengan nikah istibdha’.

3 ▶ Beberapa lelaki berkumpul untuk mendatangi seorang wanita. Jika wanita tersebut hamil dan melahirkan, setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, semua lelaki itu tidak boleh menolak untuk dikumpulkan di hadapan wanita tersebut. Wanita itu berkata, ‘Kalian sudah mengetahui perkaranya dan (bayi) telah lahir. Dia adalah putramu (menunjuk seseorang yang diinginkan oleh wanita tersebut).’ Kemudian anak itu diikutkan kepadanya dan laki-laki tersebut tidak boleh menolak.

4 ▶ Seorang wanita didatangi oleh banyak lelaki dan wanita tersebut tidak boleh menolak siapa pun yang datang kepadanya. Mereka adalah wanita-wanita pelacur. Mereka memasang tanda pengenal (bendera). Jika hamil dan melahirkan, mereka—para lelaki—yang mendatanginya berkumpul, lantas melihat bayinya mirip dengan siapa. Jika mereka menemukan (kemiripan), mereka ikutkan kepadanya (laki-laki yang paling mirip) dan dia (sang laki-laki) tidak bisa menolaknya.

▪Tatkala Allah ta’ala mengutus Rasulullah Sholallohu ‘alaihi Wasallam, beliau menghapus segala bentuk pernikahan tersebut kecuali pernikahan seperti sekarang ini.”

Di sisi lain, kaum jahiliah dengan kesyirikan yang mereka perbuat meyakini lebih banyak hal, terkhusus tentang pernikahan.

Mereka meyakini adanya hari-hari dan bulan yang mengandung banyak kejelekan atau kesialan.

🔴Akhirnya, mereka meyakini jika menikah pada hari atau bulan itu akan menuai kerugian dan kecelakaan. Di antara bentuknya, mereka meninggalkan segala bentuk aktivitas pada hari Rabu (Lihat Mausu’at Tauhid Rabbil’ Abid 5/56). Bahkan, mereka tidak melakukan pernikahan pada hari-hari antara dua ied (Idul Fitri dan Idul Adha). (Lihat Syarah Masail Jahiliah hlm. 214).

Mereka juga tidak melakukan aktivitas pernikahan pada bulan Syawwal, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali Rohimahullah.

Mereka beranggapan, bulan tersebut mengandung kejelekan dan kesialan. Mereka juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu pada bulan Shafar karena menurut mereka, bulan Shafar mengandung segudang kesialan. Mereka menahan diri (menunda) untuk berpergian, melakukan perniagaan, dan membangun rumah tangga (pernikahan) pada waktu tersebut. (Lihat Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid 2/515 dan I’anatul Mustafid Bi Syarah Kitab Tauhid 2/9).

Pernikahan dalam Islam

Dalam pembahasan-pembahasan akidah dalam edisi yang telah lewat sering disinggung tentang meratanya amal kesyirikan dalam segenap lini kehidupan kaum muslimin. Tidak ada satu celah pun yang akan mengantarkan kepada untung dan rugi, bahagia dan sengsara, selamat dan celaka, baik dan buruk, melainkan ada amalan kesyirikan di sana.

▪Contohnya, ketika seseorang akan menimbang adanya untung dan rugi, melalui sebuah usaha perdagangan, pertanian, perternakan, dan sebagainya, semuanya akan berujung pada apa yang dipetuahkan sang dukun. Jika sang dukun mengatakan akan ada keuntungan besar dalam usaha ini, dia dengan penuh semangat berjuang dan berkorban untuk merealisasikannya. Jika sebaliknya, dia akan mengakhirkan langkah tanpa berpikir panjang.

Bersambung

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Sumber,Asy Syariah Edisi 72, 26 April 2012.

____________________

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *